SEPUTAR VATIKAN

Tokoh Agama Bicara Mengenai Peristiwa Historis di Uni Emirat Arab

PERISTIWA bersejarah di Uni Emirat Arab mengubah sudut pandang dunia mengenai toleransi beragama. Salah seorang tokoh Muslim Aab, Imam Mohamad Bashar Arafat melihat bahwa momentum yang terjadi pada 3-5 Februari kemarin sebagai sebuah era baru. Arafat adalah presiden dari Yayasan Peradaban dan Kerjasama yang berpusat di Amerika Serikat. Arafat sendiri lahir dan dididik di Damaskus, Suriah. Dirinya pun hadir di konferensi antaragama ketika itu.

Menurut Arafat, professor Ahmed al-Tayyeb, sebagai Imam Besar Al-Azhar Kairo serta Paus Fransiskus telah membangun jembatan toleransi. Jembatan ini nantinya akan digunakan seluruh umat di dunia untuk  berbagi semangat toleransi antar umat beragama lain. Ia pun ingin menemukan langkah selanjutnya untuk memerangi kesalahpahaman, prasangka, ketidaktahuan, serta xenophobia antar agama lain.

“Kunci utama dari pertemuan antaragama kemarin adalah kerja sama dan pemberdayaan. Kedua hal itu lebih dari sekedar toleransi.” Ujar Arafat, seperti dilansir dari cruxnow.com

Sedangkan, Kardinal Joseph Coutts asal Pakistan mengakui ada sebuah pengalaman ekspresi kebebasan beragama yang ia rasakan secara langsung.  “Kebebasan beragama yang saya rasakan pertama kali di Arab pada 37 tahun lalu. Ketika itu saya memberi pelayanan bagi komunitas Pakistan di Arab.”

Menurutnya, dari tujuh negara bagian di Uni Emirat Arab, masing-masing hanya memiliki satu gereja. Itupun tanahnya berasal dari keluarga kaya raya di negara itu. Kardinal Joseph percaya, konferensi itu akan mendorong dialog antaragama antara Kristen dan Muslim lebih terbuka di masa mendatang.

Tokoh agama lainnya, Girgis Saleh, dari Dewan Gereja Timur Tengah mengatakan bahwa kerja sama antara Kristen dan Muslim pada konferensi tersebut dibuat untuk semua umat. “Kita harus bisa hidup damai, saling menerima, dan juga bertukar pengalaman,” ujar Saleh, yang juga berasal Mesir.

Tak bisa dipungkiri, moment bersejarah di Dhubai itu hingga kini gaungnya masih dirasakan. Di banyak tempat di berbagai negara, orang masih saja membicarakannya. Meski dampaknya perlu terus diperjuangkan.

“Mungkin ini akan memakan waktu, tetapi kita harus bisa mengubah mental orang-orang dimulai dari peristiwa konferensi Persaudaraan di Arab kemarin.” kata Pastor Rafic Greiche, tokoh agama lainnya.

Penulis: Anastasia Ria

Editor: John Laba

 

Tags

John L. Wujon

Staf Komisi KOMSOS KWI

Related Articles

error: Content is protected !!
Close