OPINI

Seekor Ular di Taman Eden

Suatu hari di tengah Taman Firdaus, Hawa berdiri termangu di bawah sebatang pohon berdaun rimbun, berbuat lebat. Ia tahu, itulah Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat. Hawa juga tahu bahwa manusia (Adam dan Hawa) dilarang memetik, apalagi memakan buah dari Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat itu.

Akan tetapi, ular yang bergelantungan di pohon itu terus membujuk Hawa, agar memetik buah Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat, dan memakannya. Ular bertutur dengan kata-kata yang manis, bila Hawa mau makan buah itu, ia aka “menyamai Allah.” Hawa tergoda. Ia memetik buah Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat. Dan, memakannya. Adam pun, demikian setelah menerima buah dari Hawa.

Akibatnya Tuhan mengusir Adam dan Hawa dari Taman Firdaus dan mengutuk ular, yang digambarkan sebagai setan. Certe iniquorum omnium caput diabolus est; et hujus capitis membra sunt omnes iniqui, setan, iblis adalah kepala segala yang jahat; dan segala sesuatu yang jahat adalah anggota-anggotanya. Begitu kata Gregorius Agung (540-604).

Cerita tentang ular ada juga dalam mitologi Yunani. Salah satu monster paling populer dalam Mitologi Yunani adalah Medusa. Ia, Medusa, adalah seorang gadis cantik berambut emas. Meskipun dikenal sangat cantik dan banyak yang jatuh hati padanya tetapi Medusa bersumpah tidak akan menikah. Ia ingin hidup melajang seumur hidup dan mendedikasikan hidupnya untuk para dewa dengan menjadi pendeta Athena.

Akan tetapi, suatu ketika Medusa jatuh cinta pada Poseidon, seorang dewa penguasa laut, sungai, dan danau. Poseidon memiliki senjata berupa trisula yang bisa digunakan untuk membuat  banjir dan gempa bumi. Ia juga memiliki kendaraan yang ditarik oleh hippokampos–makhluk setengah kuda, setengah ikan. Menurut cerita, Poseidon memiliki seorang istri, Amfitrit, dan memiliki anak bernama Triton.

Dengan jatuh cinta dan kawin dengan Poseidon, Medusa telah mengingkari, melanggar sumpahnya. Karena itu, Athena– dewi kebijaksanaan, perang dan kerajinan, dan putri favorit Zeus, yang paling bijaksana, paling berani, dan aling banyak akal di antara para dewa Olimpia– menghukum Medusa. Hukuman yang dijatuhkan Athena sangat mengerikan.

Ia mengubah Medusa menjadi makhluk yang buruk rupa dengan mata merah, dan wajahnya seperti hantu. Rambut yang dulu indah berubah menjadi ular beracun dan berbahaya. Kulitnya yang semula seputih susu berubah menjadi hijau menakutkan. Sejak saat itu dia berkeliaran, dipermalukan, dijauhi, dan dibenci semua orang.

Setiap lelaki yang memandang langsung akan berubah menjadi batu. Pada akhirnya, Medusa dipenggal oleh pahlawan Perseus, menggunakan pedang Harpe. Kepala Medusa kemudian digunakan sebagai senjata sampai akhirnya diberikan kepada dewi Athena untuk dipasang  perisainya (Aegis)

Iblis dalam rupa ular telah membawa “kegelapan”, kesengsaraan di Bumi ini. Itu tergambar baik dalam kisah Hawa maupun Medusa. Tentu, iblis tidak bergerak sendirian. Tetapi, manusia digunakan sebagai instrumennya, digunakan sebagai alatnya. Satu hal yang perlu dicatat, kisah Hawa di  Taman Firdaus menjadi awal mulanya “lahirnya” berita bohong, hoaks. Ular telah membohongi Hawa dan Adam.

Dan, berita bohong, hoaks itulah yang kini ada di mana-mana, di sekitar kita, di telpon genggam kita, di berbagai media sosial, dan di ujung jari banyak orang di negeri ini, juga di hati dan pikiran banyak orang yang menjadi pabrikan berita bohong yang menganggap bahwa dengan membuat hoaks, mereka itu eksis, mereka ada dan mengada.

Beberapa bulan menjelang dan selama pemilihan umum di Amerika adalah waktunya berita bohong menjadi sangat masif. Craig Silverman, seorang jurnalis, menganalisa pada masa pemilu, 20 berita bohong menyalip 20 berita teratas (berita berdasarkan fakta lapangan, berdasarkan kejadian sebenarnya) dari 19 media mainstream.

Menurut Silverman, berita palsu dibuat untuk menarik harapan dan ketakutan masyarakat yang tak terbatas kenyataan. Padahal seharusnya kenyataan memberi batas berita mana yang bisa dibagi dan tidak. Orang mungkin merasa kebal terhadap berita-berita bohong. Tapi penelitian mengatakan sebaliknya. Tahun 1940-an, peneliti mengungkap ”semakin rumor itu disebar, maka akan semakin masuk akal.”

Padahal, bukankah masyarakat berhak memperoleh berita yang benar; informasi yang benar, yang berdasarkan fakta, yang berdasarkan kenyataan, kasunyatan. Kebenaran adalah suatu nilai utama di dalam kehidupan manusia. Kebenaran adalah sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya, sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran. Selain menyajikan berita yang benar, media perlu juga membangun sikap positif.

Manusia selalu mencari kebenaran. Jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksanakan kebenaran itu. Sebaiknya, pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran, tanpa melaksanakan konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang di mana selalu ditunjukkan oleh kebenaran.

Apakah kebohongan yang akan memenangi pertarungan? Bukankah, tidak ada sesuatu yang tersembunyi, yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan disingkapkan. Semua rahasia yang disembunyikan akan terbongkar, mau tidak mau, senang tidak senang, bukan oleh siapa-siapa tetapi karena memang tuntutan zaman demikian. Roh zaman yang mendesak manusia untuk mengatakan kebenaran.

Hal seperti yang kini–meski belum terlalu lama kebohongan memenangi pertarungan—terjadi di AS. Rakyat AS, pada akhirnya tahu siapa sesungguhnya Donald Trump, yang memenangi pemilihan presiden dengan alat kebohongan. Ia mengendarai kereta kehohongan untuk memenangi pemilihan presiden. Paul Horner, orang yang membuat banyak berita palsu, mengatakan ia adalah penyebab Donald Trump terpilih. ”Situs saya selalu dikunjungi oleh pendukung Trump, mereka tak pernah mengecek fakta apapun, mereka akan mengunggah dan mempercayai apapun,” kata Horner kepada Washington Post.

Pengakuan Paul Horner tersebut membuktikan bahwa kebenaran itu masih ada, meskipun sempat “hilang” ditimbun kebohongan. Kebenaran itu juga masih ada di negeri ini di dalam diri, sebenarnya di bawah tumpukan kebohongan yang terus diternakkan dan disebar-luaskan. Kebenaran itu ada dan hanya satu.

Tetapi, kali ini kebenaran “dihilangkan.” Ini adalah sebuah bentuk kejahatan. Kejahatan selalu merugika. Selalu ada pihak yang jatuh menjadi korban. Kejahatan mengandung kekejaman tanpa pembenaran, penghinaan yang disengaja, atau penderitaan yag menimpa orang yang tidak bersalah.

Dalam kejahatan selalu ada aspek kekerasan. Kekerasan akan menghasilkan kekerasan lain; spiral kekerasan. Spiral kekerasan hanya akan membuktikan bahwa logika kejahatan bersifat destruktif. Hannah Arendt (1906–1975), filsof politik abad kedua-puluh yang sangat berpengaruh menyatakan, kekerasan adalah “komunikasi bisu paling nyata” (Haryatmoko, 2010). Tiadanya komunikasi, rentan kekerasan.

Komunikasi yang dimanipulasi adalah awal kekerasan. Bentuk-bentuk rekayasa komunikasi inilah yang akan menentukan jenis dominasi dengan muslihat-muslihatnya. Persis dengan ular di Tamah Firdaus yang dengan muslihatnya, dengan kebohongannya, telah menyeret Hawa dan Adam ke lembah kegelapan. ***

*) tulisan ini sudah dimuat di Kompas.id, hari Jumat, 15 Februari 2019

Kredit Foto: https://www.google.com/url?

Tags

Trias

Trias Kuncahyono adalah mantan wartawan Kompas, kelahiran Yogyakarta, 11 Juni 1958. Ia menyelesaikan studinya di Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada tahun 1983.

Related Articles

error: Content is protected !!
Close