OPINI

Masa Depan Media Cetak (1)

Tulisan Les Sillars, Pengajar Ilmu Jurnalisme di St. Patrick Henry College.

SEKITAR satu abad lalu, jurnalisme Amerika memiliki paradigma yang menempatkan industri sebagai hal yang mendasar dalam sistem demokrasi liberal: objektivitas jurnalistik. Ini mengharuskan sebuah  liputan berita yang obyektif, dapat diandalkan dari setiap peristiwa penting bagi warga negara terlepas dari keyakinan politis, serta  didukung oleh paradigma bisnis yang menguntungkan lewat periklanan. Hasilnya adalah dominasi budaya memuncak dengan keuntungan besar.

Sekarang paradigma itu menjadi seperti “abu rokok” dalam asbak. Persentase orang Amerika yang percaya pada media cetak  telah anjlok hingga mencapai empat puluh poin dalam empat puluh tahun. Pada saat yang sama, surat kabar dan majalah berjuang untuk bertahan hidup di era Internet, ketika sumber-sumber berita kian berkembang pesat dan uang iklan mengalir ke platform-platform baru.

Masalahnya, bagaimanapun, itu disebabkan oleh bukan hanya karena jurnalis gagal memenuhi tuntutan profesionalitas, atau bahwa industri media  mengalami kesulitan keuangan. Runtuhnya paradigma lama ini disebabkan oleh adanya inkonsistensi internal yang merusak apa yang seharusnya ada — apa yang bisa dijadikan — sebuah panggilan mulia untuk melihat dunia dengan jelas dan membantu orang lain melihatnya secara lebih jelas.

Paradigma bisnis yang bergantung pada iklan berawal dari tahun 1830-an. Surat kabar pada waktu itu kebanyakan adalah pecundang kecil lewat sirkulasi-sirkulasi yang dijual dengan berlangganan tahunan yang mahal dan bergantung pada partai politik untuk mendapatkan dukungan. Kemudian, pada tahun 1833, Benjamin Day mengimpor dari Inggris gagasan tentang loper koran yang  menjajakan surat-surat  kabar di jalan dengan harga satu sen. New York Sun-nya membuat  anekdot “lucu” tentang hal ini dengan menyebutnya sebagai ‘pengadilan dan bangkai kapal serta penyakit aneh yang dirancang untuk menarik para imigran dan pelayan wanita.’ Tapi, model loper koran ini segera populer dan ditiru banyak kalangan bisinis lainya.

Ketika sirkulasi naik, pendapatan media juga ikuit naik. Tetapi untuk “Penny Press”, uang sungguhan ada di iklan; sirkulasi yang lebih besar berarti akan mencapai tingkat yang lebih tinggi. Alih-alih menjual konten berita ke pelanggan, “Penny Press” berusaha menarik orang banyak dan kemudian mengarahkan perhatian pembaca pada iklan. Model ini akhirnya menyebar ke seluruh industri. Ini menghadirkan harian kota besar tahun 1890-an (Hearst’s Journal dan Pulitzer’s World di New York, misalnya). Paradigma yang sama akhirnya digunakan juga  untuk menghidupkan kembali radio dan televisi di abad kedua puluh. Keuntungan iklan memungkinkan surat kabar menjauhkan diri dari partai politik.

Objektivitas menjadi standar profesionalitas. Ini muncul sekitar masa Perang Dunia I. Tuntutan tinggi seputar jurnalisme selama beberapa dekade akhirnya berkembang  menjadi satu paket penting: ada unit khusus (kategori), ketakberpihakan, berimbang, dan keyakinan teguh  akan kebenaran fakta. Penekanan pada objektivitas berita sebagian merupakan reaksi terhadap sensasionalisme “jurnalisme kuning” (jurnalisme dengan judul berita bombastis) akhir abad ke-19 dan ketergantungannya pada tajuk berita besar, gambar grafik, detail menyeramkan, dan akurasi berita yang kurang ketat.

Adolph Ochs memanfaatkan serangan balik terhadap ekses para pesaingnya setelah membeli New York Times pada tahun 1896. Salah satu slogan awalnya adalah bahwa NYT  “tidak mengotori meja sarapan.” Ia berjanji untuk menyampaikan berita  “tanpa memihak, tanpa rasa takut atau partisan, terlepas dari partai, aliran, dan  kepentingan yang terlibat. “Dia akan mengubah kertas menjadi sebuah forum untuk” diskusi cerdas dari semua corak pendapat.” Ochs menjalin objektivitas, layanan publik, dan iklan menjadi merek yang rapi yang perlahan membangun Times. Reputasi, dukungan pembaca, dan keuntungan diraihnya. Seorang editor yang mengagumi sebuah koran Times dari wilayah Amerika bagian utara pernah menulis pada tahun 1921 bahwa Ochs mengajari para pesaingnya perihal  “Santun itu berarti  dolar.”

Pada tahun 1922, Perhimpunan Editor Surat Kabar Amerika mengeluarkan Kode Etik untuk memperkuat semangat paradigma baru itu. Paradigma ini menguasai ruang-ruang redaksi  pada pertengahan abad ke-20. Saat itu, penerbit ingin menampilkan sebuah  gambaran mengenai netralitas media, menghindari keterasingan di kalangan pembaca.  Mereka membatasi analisa khusus di halaman editorial.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, komitmen media arus utama terhadap objektivitas telah melemah. Pada tahun 2016, kolumnis media New York Times Jim Rutenberg mengatakan bahwa jika seorang jurnalis benar-benar percaya bahwa Donald Trump adalah seorang demagog “berbahaya”, “Anda harus membuang buku pedoman yang telah digunakan jurnalisme Amerika” selama beberapa dekade. Menentang politik secara eksplisit dalam setiap pekerjaan seorang reporter adalah “wilayah yang tidak nyaman dan abu-abu untuk setiap arus utama, jurnalis non-opini yang pernah saya kenal, dan dengan standar normal, tidak dapat dipertahankan. Tetapi pertanyaan yang dihadapi semua orang adalah: Apakah standar umum itu masih berlaku? ”  Jawabannya adalah tidak.

***********

Runtuhnya “standar normal” erat kaitannya dengan ekonomi jurnalisme saat ini. Penyebab utamanya adalah kesulitan keuangan sebagai akibat dari perkembangan teknologi komunikasi. Internet memaksa media cetak untuk bisa bersaing mendapatkan perhatian orang dengan memosting berita  di Facebook, Netflix, listicles Buzzfeed, blog ibu, Media medis, aplikasi kencan, dan game online. Sementara itu, pasokan ruang iklan yang tak terbatas menurunkan nilai iklan, dan situs komunitas seperti craigslist.org menghapus surat kabar dari bisnis iklan baris yang menguntungkan.

Sekarang ini, Google dan Facebook saja menyedot puluhan miliar dolar per tahun dari pengiklanan, suatu hal yang  sebelumnya menjadi milik  perusahaan media cetak. Hasil Penelitian Pew menyebutkan  bahwa pendapatan iklan media cetak  turun hampir dua pertiga antara tahun 2006 dan 2016, dari $ 49 miliar menjadi sekitar $ 18 miliar. Berita online gratis mendorong pembaca untuk berhenti berlangganan koran dalam jumlah besar; sirkulasi surat kabar harian telah turun dari 55,8 juta pada tahun 2000 menjadi 31 juta pada tahun 2017. American Society of News Editor berhenti melakukan estimasi tahunan wartawan untuk kolom berita penuh waktu setelah mencatat penurunan dari 57.000 pada tahun 2007 menjadi 32.900 pada tahun 2015.

Kami memiliki lebih banyak berita dari sebelumnya lewat berbagai kegiatan publikasi, termasuk kolom berita dan kolom advokasi berbagai persoalan, tetapi sekarang hal ini sudah bermunculan  secara online. Akibatnya, perusahaan media cetak kehilangan sebagian kecil pendapatannya. Siaran dan berita TV kabel masih beruntung, karena program-program utama mereka diisi dengan pendapat tokoh dan analisis. Sebagian besar pelaporan berita sesungguhnya  tentang urusan publik di negara ini, dari lokal ke nasional, berasal dari jurnalis cetak dan online, dan publikasi sedang diperjuangkan.

Persaingan untuk menarik perhatian pembaca di web telah memaksa perusahaan-perusahaan berita untuk berperilaku dengan cara merusak kredibilitas mereka sendiri. Ruang Newsroom sekarang diganti dengan hanya melakukan klik di Twitter, Google, dan Facebook: berita utama yang manipulatif dan terdistorsi, menulis dengan emosi, algoritma pencarian game dan lain sebagainya.

Wartawan media arus utama  sekarang secara umum berperilaku dengan mendagangkan berita yang menguntungkan demi akses ke sumber-sumber tingkat tinggi, sehingga praktik tersebut memiliki eufemisme: “jurnalisme transaksional.” Dalam The Smear (2017), mantan koresponden CBS Sharyl Attkisson menggambarkan bagaimana aktivis, pejabat pemerintah, partai politik, dan pendonor besar semakin berkoordinasi satu sama lain dan dengan wartawan arus utama untuk mendorong agenda mereka. Email yang diretas dari WikiLeaks menunjukkan bahwa selama kampanye 2016 reporter Politico Glenn Thrush mengirim operasi Clinton seluruh berita untuk disetujui terlebih dahulu dan meminta mereka untuk tidak memberi tahu siapa pun. Dia kemudian mengklaim itu dengan menyebut sebagai “Pemeriksaan fakta.”

 

Tulisan di atas telah tayang di First Things

Penerjemah: John Laba Wujon.

John L. Wujon

Staf Komisi KOMSOS KWI

Related Articles

2 Comments

error: Content is protected !!
Close