KATEKESE

Anda Sulit Mencari Sahabat Sejati? Inilah 7 Tips Praktis dari Kitab Putera Sirakh (6:5-17)

MISA Jumat pertama dalam bulan Maret 2019. Gereja (Baca: Umat Allah) diberi pengajaran praktis tentang bagaimana mencari sahabat (sejati). “Seni hidup” ini menarik untuk dipelajari. Sebab, nyatanya ada banyak orang kesulitan mencari sahabat, apalagi sahabat sejati. Kitab Putera Sirakh 6:5-17 memberikan tips praktis bagi kita dalam mencari sahabat (sejati).

Inilah  7 tips praktis mencari sahabat setia menurut Kitab Sirakh:

  1. Bertutur kata yang baik dan ramah (Pleasant speech)

“Tenggorokan yang manis mendapat banyak sahabat, dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut. Mudah-mudahan orang yang berdamai denganmu banyak adanya, tetapi hanya satu dari seribu hendaknya menjadi penasehatmu. Jika engkau mau mendapat sahabat, kajilah dia dahulu, dan jangan segera percaya padanya” (6:5-7)

Ramah dalam tutur kata artinya  berkata sopan, lembut, tidak menyakiti hati sesama. Hati orang tergerak untuk mendengar dan merasa damai setiap mendengarnya.  “Mudah-mudahan orang yang berdamai denganmu banyak adanya, tetapi hanya satu dari seribu hendaknya menjadi penasihatmu”. Kata “yang damai denganmu” (ayat 6) kata Yunani pada latarbelakang Ibrani perlu diterjemahkan “yang bersalam-salaman denganmu”.

  1. Dari Seribu Sahabat, Jadikan Seorang sebagai penasihat

Tidak semua sahabat baik bisa dijadikan sebagai penasihat. Kitab Putera Sirakh menyarankan supaya dari seribu sahabat hendaknya satu orang dijadikan sebagai penasihat. Penasihat dimaksud adalah sahabat sejati.

  1. Pelajari Terlebih dahulu seseorang sebelum; Jangan lekas percaya! (Ayat 7)

”Jika engkau mau mendapat sahabat, kajilah dia dahulu, dan jangan segera percaya padanya”. Penggambaran mengenai sikap kehati-hatian menjadi inti pengajaran Putra Sirakh.  Setiap orang harus berhati-hati dalam mencari seorang sahabat, apalagi sahabat sejati. Mempelajari sikap, pikiran dan tingkah laku seorang sahabat secara hati-hati merupakan sebuah kebijaksanaan dalam persahabatan.  Kita belajar supaya tidak lekas percaya.

  1. Hindari Persahabatan Palsu (8-12)

“Sebab ada orang yang bersahabat hanya menurut ketikanya sendiri, tetapi pada hari kesukaranmu tidak bertahan. 9. Ada juga sahabat yang berubah menjadi musuh, lalu menceritakan persengketaan untuk menistakan dikau. 10. Ada lagi sahabat yang ikut serta dalam perjamuan makan, tapi tidak bertahan pada hari kesukaranmu. 11. Pada waktu engkau sejahtera ia adalah seperti engkau sendiri dan lancang berbicara dengan seisi rumahmu. 12. Tetapi bila engkau mundur maka ia berbalik melawan dikau serta menyembunyikan diri terhadapmu.

Ada 3 (tiga) macam sahabat palsu menurut Putra Sirakh. Pertama, sahabat yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Ciri-cirinya antara lain egois, hanya mau untung sendiri, tidak mau berbela rasa ketika sahabatnya dalam kesusahan,. Kedua, sahabat yang menjadi lawan. Diibaratkan seperti musuh dalam selimut. Tipe sahabat seperti ini mudah berpaling ketika terjadi perselisihan. Pada saat ini, ia gemar menceritakan dan mempermalukan sahabatnya.

  1. Jauhi Musuh dan Bersikap Kritis terhadap Sahabat

Berhadapan dengan musuh dan sahabat, kita mesti punya pilihan tegas dan tepat. Menjauhi musuh dan kritis terhadap sahabat. “Jauhkanlah diri dari para musuhmu, tetapi berhati-hatilah terhadap para sahabatmu” (Ayat 13)

Menjauhkan diri dari para musuh merupakan dua sikap yang berbeda. Musuh dikesankan lebih berbahaya, terutama karena ada potensi kekerasan di dalam diri musuh.  Putra Sirakh menganjurkan supaya lebih baik musuh dijauhkan sampai tercipta perdamaian atau bersalam-salaman. Terhadap sahabat, kita perlu bersikap hati-hati sebab ada banyak tipe sahabat seperti sahabat sejati dan sahabat palsu.

  1. Sahabat Setia, Benteng Perlindungan yang Kokoh

Sahabat setiawan merupakan perlindungan yang kokoh, barangsiapa menemukan orang serupa itu sungguh mendapat harta. Sahabat setiawan tiada ternilai, dan harganya tidak ada tertimbang.

  1. Takut akan Tuhan (Ayat 17)

“Orang yang takut akan Tuhan memelihara persahabatan dengan lurus hati, sebab seperti ia sendiri demikianpun temannya” Orang-orang yang membangun persahabat dengan setia, dengan lurus hati ditandai dengan sikap takut akan Tuhan.

Apakah tips praktis tersebut bisa membantu anda dalam mencari sahabat? Silakan dicoba!

 

 

 

Tags

John L. Wujon

Staf Sekjen KWI. Mantan staf Komisi KOMSOS KWI (2015-1 Mei 2019?

Related Articles

Check Also

Close
error: Silakan share link berita ini
Close