PEKAN KOMSOS
Trending

Banyak Anggota Tapi Satu Tubuh

Sebuah Esai Tentang Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-53

Ada sebuah cerita dimana ada empat bersaudara hidup dalam tubuh manusia. Mereka adalah Wajah, Tangan, Kaki, serta Perut. Keempat saudara ini hidup dengan rukun, sampai suatu ketika timbul perselisihan di antara mereka. Masing-masing menganggap diri mereka yang paling penting.

Kaki berkata kepada yang lain, “Coba kalian pikir, tanpa aku kalian tidak akan bisa kemana-mana.” Tanganpun menyahut, “Tanganlah yang terpenting karena tanpa tangan, kaki tidak bisa bekerja. Memang benar tanpa kaki manusia tidak bisa ke mana-mana. Tetapi yang terpenting bagi manusia adalah bekerja, setelah bekerja barulah manusia dapat makan. Jadi bekerjalah yang paling penting, dan hanya tanganlah yang bisa bekerja.”

Wajah dengan senyum pongahnya berkata, “Kalian tahu apa yang dihargai dari manusia? Wajah. Karena pada wajah terletak semua indera manusia. Dan tahukah kalian bahwa wajah cantik dan rupawan dikagumi oleh manusia? Akulah yang terpenting bagi manusia karena memiliki mata, hidung, telinga, dan mulut.”

Perut, yang tadi diam saja, ikut-ikutan berbicara, “ Kuakui kaki lebih kuat dari padaku. Tangan lebih pintar. Wajah lebih rupawan. Tetapi sebenarnya akulah paling penting. Tanpa aku, kalian semua akan tewas!” Mendengar itu bagian tubuh yang lainpun marah. Mereka menganggap perut bagian tubuh yang paling pemalas dan kerjanya tiap hari hanya makan saja. Tetapi herannya kalau perut lemah maka bagian tubuh yang lain pun ikut lemah. Kaki dan tangan melemah, wajah pucat dan berkeringat dingin. Pada akhirnya mereka menyadari jika mereka tidak bisa bangun sendiri, maka dari itu semua anggota tubuh manusia saling membutuhkan satu sama lain. (www.airhidup.com)

Ilustrasi di atas mengingatkan kita pada kehidupan sekarang ini. Banyak kelompok, organisasi , atau golongan menganggap diri merekalah yang paling benar, sehingga hal ini memicu perselisihan satu dengan yang lainnya yang pada akhirnya merusak hubungan horizontal antar sesama manusia.
Sebagai contoh sederhana dalam kepanitiaan OSIS dalam suatu even di sekolah. Dapatkah bagian perlengkapan mengatakan bagiannya yang terpenting atau bagian pendanaan mengatakan
bagiannyalah yang terpenting? Jika hal itu terjadi, saya pastikan even tersebut akan kacau- balau karena anggota panitia terpecah-belah.

Sifat egois adalah pemicu dari perpecahan, karena dalam sifat egois itu mencakup sikap mementingkan diri sendiri dan tidak mau mengalah. Tidak ada kerendahan hati dalam sifat egois. Yang ada adalah aku, aku, dan aku. Sifat egois tidak memberi ruang bagi orang lain untuk menjadi bagian dari kita. Kalaupun kita memberi ruang untuk orang lain maka mereka harus di bawah kendali kita.

Lalu bagaimana bisa ego ini muncul dalam pribadi kita?

Ada satu contoh, kisah “Lubu” seorang jendral Cina yang memiliki kekuatan dan kemampuan berperang yang sangat hebat? Ia merupakan seorang yang egois. Ia tega menghianati anaknya sendiri demi kepentingan pribadinya. Namun karena sifatnya ini, ia banyak dibenci oleh orang-orang di sekitarnya. Hal ini menggambarkan sifat egois dan mementingkan diri sendiri itu muncul dari sebuah kesombongan dalam diri kita, “Keangkuhan hanya akan menimbulkan pertengkaran” (Ams.13:10). Sifat angkuh dan mementingkan diri sendiri adalah cirri khas egoisme yang menimbulkan pertengkaran dan perpecahan.

Sifat egois ini ada sejak manusia dilahirkan, karena egois merupakan sebuah sifat bawaan yang tidak dapat kita hilangkan dari dalam diri kita. Hal ini telah dibuktikan oleh beberapa teori dalam ilmu pengetahuan.
Yang pertama berdasarkan ilmu perkembangan. Ilmu ini membuktikan bahwa sifat egois itu telah ada semenjak kita balita (Egocentrism), di mana para balita ini memiliki sifat tak mau kalah, lalu selalu ingin diperhatikan.
Kemudian yang kedua berdasarkan Ilmu Antropologi. Manusia memiliki sifat antopentris yang menyebabkan manusia hanya ingin memanfaatkan orang lain demi kebaikan dirinya sendiri.

Yang terakhir adalah menurut Sigmeund Freud dalam bukunya yang berjudul “Id and Ego”. Menurut Freud, manusia memiliki 3 sifat dalam diri mereka, yaitu Ego (memutuskan sesuatu), Id (menginginkan sesuatu), dan Superego (norma-norma diluar diri kita). Seseorang yang lebih mementingkan Id-nya itu termasuk orang yang biasa kita sebut egois. Mengapa? Karna Id itu merupakan keinginan liar kita terhadap sesuatu sehingga membuat kita merasa ingin dan harus memilikinya atau melakukannya.

Apakah sifat egois ini dapat kita kendalikan?

Tentu saja bisa, dengan cara membangun hubungan sosial yang sehat dan saling menghargai; belajar untuk menerima perbedaan dan belajar mengendalikan diri dalam setiap situasi.
Mengapa harus belajar? Karena manusia sebagai mahkluk sosial harus belajar membangun hubungan yang positif dengan mahkluk sosial lainnya yaitu sesamanya. Intinya manusia tidak biasa hidup sendiri; ia selalu memerlukan orang lain sejak lahir, tumbuh menjadi anak-anak, menjelang dewasa dan saat memasuki usia tua hingga saat matinya.

Rasul Paulus mengatakan dalam suratnya kepada jemaat di Korintus bahwa kita terdiri dari banyak anggota tapi merupakan satu tubuh. I Korintus12 : 12 “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.“

Dalam kehidupan sosial kita terdiri dari banyak pribadi yang unik dan berbeda-beda tapi kita tetap satu kesatuan dalam keluarga, dalam komunitas gereja, dalam masyarakat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Benarlah para pendiri negara kita memilih semboyan“ Bhinneka Tunggal Ika”, yang artinya “berbeda-beda tetapi tetap satu juga”. Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat-istiadat, budaya, dan agama yang bisa hidup berdampingan dalam keharmonisan. Janganlah hanya karena suatu kepentingan pribadi atau golongan sesaat merusak keharmonisan yang sudah terjaga sejak zaman nenek moyang kita.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa sifat egois dan mementingkan diri sendiri merupakan pemicu pertengkaran, perpecahan dan permusuhan. Sifat egois ini dapat dikendalikan dengan belajar untuk bersosialisasi secara positif dengan orang lain. Sangatlah penting untuk hidup saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lain, sehingga tercipta kehidupan yang harmonis dan selaras dengan semboyan negara kita“ Bhinneka Tunggal Ika”.

Semoga kita semua mampu mengendalikan sifat egois kita yang menjadi sumber perpecahan, dan belajar untuk hidup bersama, untuk kepentingan hidup damai dan harmonis dengan sesama manusia. Dengan demikian kitapun ikut berperan dalam menciptakan kerajaan damai di bumi pertiwi ini.

Ilustrasi: Nicholas Pudjanegara

Penulis: Julyanne Gracia Irwan

Ditulis dalam rangka Lomba Esai PKSN KWI 2019

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven + 15 =

error: Content is protected !!
Close