KATEKESETeladan Kita

Beato Henri Vergès : 08 Mei

HENRI Vergès lahir pada 15 Juli 1930 di Matemale, sebuah kota kecil yang terletak di Pyrenees Timur, Perancis. Dia adalah anak tertua dari enam bersaudara, orang tuanya bernama Joseph Vergès dan Matilde Bournet, mereka yang mengajarkan Henri belajar rasanya kerja keras dan cinta kasih untuk kesederhanaan hidup. Pada usia dua belas tahun, ia meninggalkan keluarganya dan bergabung dalam pendidikan bersama Serikat Saudara Kecil Maria, disebut juga Marist Brothers of the Schools. Dirinya menyatakan kaul sementara pada tahun 1946 dan kaul kekal pada pada 26 Agustus 1952. Ia melayani umat di berbagai lembaga, khususnya profesi sebagai guru matematika karena kesukaannya mengajar, berbagi ilmu pengetahuan.

Beato Henri Vergès/Ilustrasi
Beato Henri Vergès/Ilustrasi

Pada 6 Agustus 1969 mendarat di Aljir, Aljazair. Henri segera mulai mengajar, setelah satu tahun dia ditunjuk sebagai dekan perguruan tinggi San Bonaventura. Banyak orang menghargai karena kemampuannya dalam melibatkan siswa, semua Muslim, keluarga dan profesor mereka. Pada tahun 1975 ia mulai merenungkan proyek pendidikan baru untuk perguruan tinggi, yang diperlukan setelah kemerdekaan Aljazair dari Perancis. Namun terhalang karena pemerintah Aljazair menginginkan nasionalisasi paksa atas sekolah-sekolah. Perjuangan tetap ia lanjutkan, tahun demi tahun ia harus mendapatkan kontraknya diperbarui oleh Departemen Pendidikan. Dia menjadi satu-satunya Marist yang tersisa di Aljazair, penyerahan diri sepenuhnya kepada Kristus merupakan kunci bertahannya.

Pada tahun 1988, pada usia pensiun, ia meninggalkan mengajar. Bapa Henri Teissier, uskup Algiers, mempercayakan kepadanya perpustakaan keuskupan Ben Cheneb. Perpustakaan itu diubahnya menjadi sebuah tempat yang lebih ramah dan sopan bagi pengunjung yang datang membaca, dengan cara ini lebih dari seribu siswa, pria dan wanita mulai mengunjunginya. Disisi lain, menghadapi ancaman semakin meningkat yang dihadapi oleh orang asing Kristen di Aljazair. Hingga suatu pagi pada 8 Mei 1994, beberapa menit setelah perpustakaan dibuka, tiga pria berpakaian polisi muncul dan membunuh semua biarawan/biarawati termasuk Henri.

Pada tanggal 26 Januari 2018, Paus Fransiskus memberikan penghormatan kudus bagi 19 martir yang tebunuh pada masa kelam itu, dan peringatan bagi mereka dikenang setiap tanggal 08 Mei.

(santiebeatie.it)

Inspirasimu : Santo Maurelio : 07 Mei

 

Tags

Stefani Ira Wijayanti

Staf Komisi Komunikasi Sosial, Konferensi Waligereja Indonesia, sejak Januari 2019-...

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close