OPINI
Trending

Berbagi dengan Jari

Sebuah Esai Tentang Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-53

Indonesia merupakan Negara multikulturalisme. Berbagai budaya, bahasa, suku, agama dan adat istiadat disatukan di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Akan tetapi dewasa ini, media sosial banyak diisi dengan banyaknya hal mengenai hoax, intoleransi dan bullying dalam kehidupan bermasyarakat. Pemanfaatan media yang tepat menjadi tolok ukur untuk memperkuat nilai toleransi dalam masyarakat.

Isu yang dipaparkan dalam tulisan ini, dalam tataran ide, bertujuan untuk melihat potensi khusus kaum muda dalam bingkai pembangunan masyarakat, sedangkan dalam tataran praktis, tujuan pokok dari deskripsi tulisan ini berhubungan dengan cara mengembangkan media sosial sebagai sarana yang dapat membangun masyarakat.

Tantangan Generasi Muda

Generasi muda dekat dengan angan-angan. Generasi ini lahir dan bertumbuh dalam satu dunia, suatu masa yang cepat berubah, suatu masa di mana semua nilai, keutamaan-kebajikan moral, religius, etika, dan lainnya mengalami benturan secara keras dan transparan dengan nilai-nilai baru, yang mengganggu keabsahan juga eksistensi nilai-nilai-luhur itu. Nilai-nilai baru tersebut antara lain, hedonisme, mental konsumtif, moral relative, agama relative-malah tak penting, pendewaan ratio, mental up to date yang hiperbolis, perilaku “luar negeri minded”. Semua ini merupakan buah globalisasi.

Tantangannya ialah bahwa ketidaksiapan dan kesalahpahaman generasi muda mempribadikan nilai-nilai luhur budaya bangsa dan nilai-nilai agama dalam menghadapi arus perubahan tersebut akan membawa dampak yang negatif. Misalnya, kekerdilan berpikir terhadap sebuah berita atau kejadian dapat menimbulkan masalah yang serius, karena generasi muda senantiasa ingin menjadi yang pertama dalam menyebarkan berita tanpa menyaring kebenaran berita tersebut. Contoh kecil arus baru ini akan menggiring generasi muda menuju suatu arena krisis makna diri. Mengapa demikian? Karena sebagai generasi muda, kita kurang peka menghadapi gejala sosial yang kini merambah secara digital. Lalu, apakah generasi muda akan mudah terseret arus, ibarat layang-layang putus talinya? Apakah hal itu yang diinginkan? Tentunya tidak.

Selain itu, di tengah kisruh politik yang ramai akhir-akhir ini seakan-akan menjadikan generasi muda seperti tenggelam dalam “perkara” generasi tua. Padahal urusan politik bukan hanya urusan kelompok yang mengurusnya. Generasi muda seakan menghindar jauh dari urusan kenegaraan. Tolok ukurnya kelihatan bahwa adanya benturan antara perbedaan generasi. Generasi muda selalu lebih dekat dengan cita-cita. Dan generasi tua lebih dekat dengan realitas. Maka kadang-kadang terjadi benturan-benturan karena yang satu terpesona oleh cita-cita, yang lain repot menghadapi realita. Dengan kata lain, benturan ini disebabkan oleh perbedaan penekanan dimensi/perspektif. Generasi tua menekankan dimensi kesejarahan, di mana masa lampau yang mempengaruhi kehidupan hari ini. Generasi muda menekankan dimensi masa depan, dimensi yang menghadapkan esensi masa lampau yang masih aktual hingga kini kepada tantangan yang akan kita hadapi di masa datang: bagaimana menyikapi hari esok.

Semua ini benar dan relevan dalam konteks masing-masing. Namun akan menjadi permasalahan yang serius tatkala masing-masingnya mempertahankan perspektifnya. Benturan tidak bisa dihindari bila generasi tua memotret generasi muda dalam perspektif masa lampau, sebaliknya generasi muda memotret generasi tua dalam perspektif masa depan. Jelas, selalu ada yang tidak benar dan relevan. Masing-masing jatuh dalam ekstrim yang memprihatinkan. Yang satu, menoleh dan mengagungkan masa silam bisa saja demi melayani kepentingan sesaat, tanpa berpikir tentang masa depan. Yang lain berupaya mengisi, menyiasati masa depan tanpa pemahaman yang benar akan sejarah yang merupakan titik dasar, akar kepribadiannya.

Generasi Muda Aktor Media

Globalisasi merupakan satu era baru yang harus dihadapi tanpa tawar-menawar. Suatu era yang memaparkan realitas baru yang menggelora dalam seluruh strata kehidupan manusia. Entah itu, politik, ekonomi, budaya dan aspek hidup lainnya. Ciri utama era ini adalah: jejalan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir; gelombang informasi dari segala penjuru dunia; keterbukaan hubungan komunikasi; transparansi berbagai permasalahan: baik hak asasi maupun ketelanjangan analisis berpikir dan menguraikan pendapat.

Dengan segala ciri yang ada, globalisasi merupakan tantangan serius. Banyak dampak negatif selain aspek positif era baru ini yang perlu diwaspadai. Sebut saja, bahaya individualisme; adanya pluralisme dalam banyak aspek kehidupan yang tentu saja rawan konflik.

Namun, tak dapat kita pungkiri bahwa media bukan lagi sarana menyampaikan pesan-pesan positif lewat khanazah budaya atau lainnya, melainkan ajang pamer-pameran demi popularitas semata. Isu yang paling sederhana, dan bisa benar-benar diperhatikan, adalah tentang selfie di mana-mana bahkan di tempat kekerasan dan bencana sekalipun. Bukan hanya itu, melainkan juga dengan pertama kali menyebarkan berita tersebut, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi pemberi informasi, padahal hal itu secara tidak langsung melukai perasaan korban yang mengalami musibah.

Ketenaran yang menjadi permintaan global jelas menang jika dibandingkan dengan usaha solidaritas tanpa pamrih, apalagi jika warganet tidak ada yang mengetahuinya. Jika isu sosial ini bisa terjadi terhadap pada masalah bencana, maka hal tersebut bisa terjadi di berbagai aspek kehidupan yang lain.

Namun, ketidakpedulian sosial ini tidak bisa menjadi parameter bahwa sebagian besar orang tidak mengerti. Hampir setiap orang mengerti, tapi mereka tidak peduli. Memberitahu bahwa sesuatu adalah masalah merupakan usaha yang cukup sulit. Apalagi jika orang merasa bahwa hal yang sebenarnya merupakan masalah bukan suatu masalah. Belum lagi dua efek berbeda yang ditemukan apabila berkomentar terhadap sebuah postingan. Di satu sisi yang mengomentari akan dianggap menceramahi/menggurui, tetapi di sisi lain efek bullying akan dirasakan si pemosting. Oleh karena itu diperlukan usaha dan edukasi yang cerdas dan tanpa menimbulkan efek yang negatif. Usaha edukasi, tidak hanya sosialisasi, harus dilakukan dengan benar dan tidak boleh hanya sekali. Pembelajaran membutuhkan pengulangan untuk memperkuat melekatnya konsep-konsep penting yang menjadi inti dari masalah.

Sosialisasi Cerdas dengan Medsos

Kemajuan teknologi dan informasi menjadi sebuah cara baru dalam meningkatkan pengaruh positif dalam menggunakan media sosial. Dari sekian banyak keuntungan yang bisa didapatkan, kita dapat menangkap peluang baru untuk lebih memperkenalkan kepada masyarakat luas berbagai topik tentang pentingnya berkomunikasi secara baik dan benar. Dengan mempopulerkan, menyediakan ruang diskusi tentang generasi muda melalui jejaring sosial, baik facebook, twitter, instagram, WA, maupun jejaring sosial lainnya, kita membangun landasan agar masalah-masalah media sosial yang merugikan dapat ditekan. Hal ini menjadi peluang yang sangat baik karena trend dan gaya hidup masyarakat telah bergeser pada generasi gadget dan internet.

Sosialisasi melalui jejaring sosial atau lebih dikenal dengan Internet Viral Marketing ini sudah banyak digunakan oleh negara-negara maju. Misalnya saja negara Inggris, yang mewajibkan semua anggota parlemen dan pegawai negri sipilnya untuk ikut mensosialisasikan kebijakan – kebijakan pemerintah yang telah dibuat. Ini merupakan salah satu pendekatan komunikasi pemerintah dengan rakyatnya. Mengingat semakin banyaknya warga negara yang menggunakan internet, maka diperlukan pengembangan channel digital secara efektif.

Agar persebaran informasi dapat maksimal dan menarik, ada beberapa cara yang dapat kita terapkan. Cara-cara tersebut antara lain: Pertama, Membuat situs atau blog generasi muda, misalnya yang beranggotakan OMK dalam sebuah paroki. Di dalam situs ini terdapat database tentang cara-cara bermedia sosial yang sehat, dampak-dampak negatif dan positif yang telah terjadi. Juga dapat dimasukkan foto-foto, video, bahkan film yang mengupas tentang media sosial dan gejalanya yang trend di kalangan masyarakat. Hal ini bisa dimulai dari sebuah paroki. Namun, apabila ingin dikembangkan pada ranah yang lebih luas, misalnya pada tingkat Keuskupan, maka pada beranda terdapat link masing-masing paroki yang di dalamnya terdapat informasi dan berita terkini seputar masalah-masalah media sosial dan beragam fitur lain yang bisa menjadi pembelajar bagi siapapun.

Kedua, Membuat akun fanspage di facebook. Akun ini merupakan salah satu ikon di facebook yang dapat diikuti banyak fans tanpa harus menjadi teman. Akun ini dapat diupdate oleh beberapa admin. Dengan menggunakan akun ini informasi mengenai media sosial dan segala hal terkait di dalamnya akan lebih mudah didapatkan oleh para fans.

Ketiga, Berusaha menghubungkan beberapa media. Di sini Link situs / blog yang berisi artikel – artikel, foto, video tentang sebuah masalah dapat dishare dalam Facebook, Twitter dan Instagram. Setiap ada content blog baru maka secara otomatis akan tersiar juga di Twitter, Facebook dan Instagram. Hal ini juga dapat mengurangi efek “menggurui” dalam bermedia sosial.

Keempat, Berusaha agar selalu aktif untuk mengupdate status, tweet atau instagram. Selain itu keaktifan ini juga dapat berupa melaporkan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan masalah tersebut. Di sini update info harus rutin dan berkelanjutan. Jangan lupa mention instansi atau orang-orang penting dan yang terkait dengan update kita.

Dimulai dari dunia maya dengan menyebarkan dan membiasakan masyarakat berpikir dan bertindak benar tentang berita atau kejadian yang ada maka hal tersebut akan dapat mempengaruhi alam bawah sadar masyarakat bahwa bersikap dan bertindak positif lewat jari-jari kita dalam media sosial sangat penting untuk menciptakan suasana keharmonisan antar sesama.

Ilustrasi: Kireyonok Yuliya

Penulis: Agnes Janmesfrin Kamauko

Ditulis dalam rangka Lomba Esai PKSN KWI 2019

Tags

Related Articles

Check Also

Close
error: Content is protected !!
Close