OPINI
Trending

‘Asketisisme’ Teladan bagi Sesama. Sanggupkah?

Sebuah Esai Tentang Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-53

Asketisme, sebuah kata yang jarang didengar oleh masyarakat umum. Berasal dari kata Askesis yang berarti olahraga dan latihan, Sebuah gaya hidup bercirikan laku-tirakat atau berpantang kenikmatan-kenikmatan duniawi, yang seringkali dilakukan untuk mencapai maksud-maksud rohani. Tapi didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Asketisisme diartikan sebagai “Paham yang mempraktekan kesederhanaan, kejujuran, dan kerelaan berkorban”.

Mari kita ambil arti Asketisisme dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Bagaimana Menurut kamu? Apakah masih ada orang-orang di dunia ini yang masih menerapkan paham ini? Kalau bicara kesederhanaan, kejujuran, dan kerelaan berkorban mungkin sudah sangat jarang ada yang dapat menerapkannya seumur hidupnya. Kita ambil beberapa tokoh seperti Mahatma Gandhi, Bunda Theresa atau Paus Fransiskus, tapi kita tidak bisa begitu saja langsung menjadikan mereka sebagai contoh sah asketisisme, mungkin mereka pernah tidak jujur, melakukan kesalahan atau yang lainnya. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka inilah tokoh-tokoh yang berjuang, melewati segala rintangan hanya untuk melakukan kebaikan yang sebenarnya.

Dalam dunia modern seperti ini, apakah kita masih bisa menerapkan asketisisme? Pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab menurut saya. Karena secara, dunia saat ini kita sangat dimanjakan dengan kemudahan, Tidak seperti dizaman dahulu, penyebaran informasi atau bahkan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan teman masih cukup sulit dilakukan. Bayangkan saja, untuk sekedar mendapatkan berita atau informasi saja hanya bisa disiarkan melalui televisi atau radio, dan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan teman atau kerabat hanya bisa melalui telepon rumah yang biaya setiap melakukan panggilannya tidaklah murah.

Pada masa itu komputer dan internet tidak se-terkenal sekarang. Komputer dan internet bukanlah untuk kaum awam, tetapi untuk kalangan pembisnis dan memang harus digunakan untuk keperluan tertentu. Bagi mereka yang lahir dari keluarga konglomerat bisa saja mereka mendapatkan informasi atau perkembangan teknologi pada zaman itu dengan mudahnya, tapi bagi mereka yang lahir dari keluarga biasa atau menengah kebawah? Hanya bisa menikmati televisi dan radio atau bahkan hanya radio untuk mendapatkan informasi, berkomunikasi jarak jauh? Ya hanya bisa melalui surat tapi sekarang?

Lihat saja, dengan berkembang pesatnya dunia teknologi dan komunikasi, barang seperti televisi dan radio atau bahkan telepon yang sudah jadi lebih pintar daripada kita, yang menjadi terobosan mutakhir untuk perkembangan teknologi informasi, bisa dengan mudah didapatkan dengan harga murah oleh masyarakat awam saat ini. Internet menjadi media penghubung antar negara yang bisa dengan bebasnya diakses sehingga dengan begitu mereka pun bisa mendapatkan atau membagikan informasi atau berita atau dengan mudahnya, bahkan informasi palsu, ulasan-ulasan yang menjelek-jelekan satu atau beberapa pihak, yang kemudian dilihat oleh orang lain termasuk para OMK untuk selanjutnya dibagikan lagi agar semakin banyak orang tahu.

‘Dunia Maya’ istilah yang kita gunakan saat ini, menjadi dunia kedua bagi kita untuk saling berkomunikasi atau sekedar berkeluh kesah atau hanya ingin mencari perhatian, sehingga kemudian hal itupun berubah menjadi media bagi mereka untuk balas dendam. Sebagai contoh ketika kamu diputusin oleh pacar, kemudian kamu kesal sehingga kamu menyebarkan berita buruk dimedia sosial terhadapnya dengan dalih hanya sekedar berkeluh kesah sehingga orang – orang mulai kasihan terhadap anda dan mulai menyudutkan dia dan timbul rasa benci terhadapnya, atau ketika kamu merasa dihina oleh teman, kemudian kamu mulai mencari cara untuk membalasnya dengan mengubah atau mengolok-olok gambar fotonya di media sosial dengan dalih hanya bercanda.

Tapi untuk apa semua itu? Supaya kamu dikenal banyak orang? Supaya banyak yang membaca ulasan kamu? Supaya ikutan tren masa kini? Kepuasan sesaat? Lalu? Apakah kamu senang dengan cara tersebut? Apakah kamu tidak memikirkan apakah efek negatif dari berita bohong itu bagi masyarakat luas? bagi sesama? Atau apakah kamu tidak memikirkan dosa apa yang kamu dapatkan nantinya dari berita bohong tersebut?

Semakin lama waktu berjalan orang-orang semakin melupakan apa fungsi sebenarnya dari informasi atau berita yang akan disampaikan. Semua berubah hanya untuk demi ketenaran dan uang. Dan kalau ditanya efek negatif yang ditimbulkan, tentu saja banyak. Seperti pergunjingan, permusuhan, pertengkaran, keributan, bahkan sampai kematian, Belum lagi efek negatif yang ditujukan kepada anda ketika orang-orang tahu bahwa kamu berbohong. Namun meskipun begitu, masih ada saja yang bandel dan tetap menyebarkan berita bohong tersebut bahkan ada yang dengan sengaja menyebarkan paham kebencian secara sembunyi-sembunyi.

Mereka bahkan tidak segan-segan melukai siapa saja yang mengatakan bahwa informasi mereka itu salah. Sehingga kita yang sudah berniat ingin melawannya menjadi takut dan membiarkan informasi tersebut menyebar hingga memakan korban.

Merujuk kepada pertanyaan sebelumnya. Apakah kita akan tetap terus seperti itu? Atau apakah kita ingin berubah atau bahkan melawan balik tapi bukan untuk membalas dendam tapi demi sebuah kebenaran? Bisakah? Jawabannya Tentu Bisa! Lalu bagaimana caranya? Oke mari kita jabarkan satu persatu masalahnya.

Pertama, masalah tentang penyebaran berita serta informasi palsu, bagaimana cara mengatasinya? Dengan bekerjama dengan pemerintah setempat memberikan pendidikan lebih mendalam tentang penyampaian informasi bagi masyarakat awam agar mereka tahu dan mengerti dalam memilih dan membagikan informasi yang sumbernya jelas dan terpercaya. Tapi bukan berarti semua berita atau informasi yang jelas boleh anda bagikan kembali, misalnya berita tentang keburukan atau kejahatan orang yang anda kenal atau kerabat kamu, meskipun berita nya jelas dan memang sudah ditindak secara hukum, anda tidak perlu untuk menyebarkannya kembali. Biarkan itu menjadi masalah pribadinya, jangan suka menyebar aib orang lain. Namun dari semua itu, kita harus memulainya dari diri sendiri. Perlahan menjadi teladan ataupun anutan bagi sesama dalam mengatasi ataupun merespon berita palsu.

Kedua, masalah tentang orang-orang yang suka berkeluh kesah dan mencari perhatian di media sosial bahkan yang bermaksud untuk balas dendam, bagaimana cara mengatasinya? Dengan mendekati mereka dan memberikan saran yang membangun bagi mereka, memberitahu bahwa yang mereka lakukan itu salah atau jika anda yang dia maksud sebagai subjek berita buruk nya di media sosial, kita seharusnya bukan menjauhinya tetapi harus lebih membangun silaturahmi dengannya. Meminta maaf kalau atas kesalahan yang telah kamu lakukan, meskipun terdengar cukup berat untuk dilakukan tetapi inilah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah ini yaitu saling memaafkan

Ketiga, masalah penyebaran paham kebencian yang memakan korban, bagaimana cara mengatasinya? Nah, untuk yang satu ini permasalahannya agak sedikit rumit. Masalah seperti ini mungkin tidak bisa kita selesaikan sendiri. Kalau untuk kasus seperti ini, yang perlu kita lakukan adalah mencari sumbernya secara jelas, menyimpan bukti kuat tentang penyebaran paham kebencian dan melaporkannya ke pihak yang berwajib.

Tenang saja, untuk kasus seperti ini, undang-undangnya sudah sangat jelas tercantum di Undang-undang ITE No. 11 tahun 2008 pasal 28 ayat (2), jadi tidak perlu takut lagi untuk menyelesaikan masalah seperti ini.
Bagaimana? Sudah paham kan? Tapi ingat semua ini tidak akan berjalan baik kalau tidak dibarengi oleh sikap yang sederhana dan saling membantu satu sama lain, menghindari diri sendiri dari hal-hal yang membuat orang lain marah dan kesal terhadap kita. Bersikap selayaknya OMK yang baik dan bijak, tahu dalam memilih dan membagikan informasi atau cerita yang benar, demi kebahagiaan bersama. Jadi kembali lagi ke sikap asketisisme, sanggupkah kita melaksanakannya demi kebahagian dan ketentraman sesama anggota?

Ilustrasi: Nicholas Pudjanegara

Penulis: Rion Andrean W. Tandiono Lumbanraja

Ditulis dalam rangka Lomba Esai PKSN KWI 2019

Tags

Related Articles

error: Content is protected !!
Close