OPINI
Trending

Media Sosial Sebagai Sahabat Umat Manusia

Sebuah Esai Tentang Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-53

Manusia adalah insan yang terus berziarah. Perziarahan itu sendiri dimulai bahkan sejak
kisah penciptaan dalam kitab Kejadian. Ujung dari perziarahan itu sendiri adalah apa yang disebut
dalam kitab Wahyu sebagai kedatangan Yesus untuk yang kedua kalinya. Artinya dari awal mula
hingga akhir zaman, manusia hidup dalam ruang lingkup sejarah. Manusia adalah insan peziarah.
Ia terus mengkomunikasikan dirinya dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta. Ia tumbuh dan
menjalin persahabatan yang erat dengan subjek di luar dirinya.

Tahapan – tahapan perkembangan manusia memiliki cirinya sendiri. Tiap tahap tinggal
dalam konteks ruang dan waktunya. Tiap tahap itu selalu khas dalam mengkomunikasikan dirinya.
Dalam kekhasannya tersebut, terdapat pergulatan dan penyesuaian. Hal ini menandai bahwa
manusia adalah ia yang terlahir sebagai anak zamannya. Artinya kita pun adalah anak dari zaman
ini. Zaman yang dipenuhi dengan kemajuan teknologi. Menjadi masuk akal bahwa kita juga
mengalami persoalan zaman ini.

Saat ini adalah masa Industri 4.0 yang mengakibatkan media sosial berada dalam masa
keemasannya. Di tahun 2019, hampir – hampir jarang dijumpai orang yang tidak memiliki media
sosial. Namun perkembangan teknologi komunikasi semacam ini banyak mendapat sorotan.
Alasannya ialah beberapa orang menyalahgunakan kemajuan ini. Akibatnya ialah hoax, cyberbullying,
dan pornografi. Berangkat dari penyalahgunaan inilah banyak orang terlebih orang tua,
guru, dan insan pembina lainnya menolak atau membatasi penggunaan media sosial. Hal ini
adalah bentuk antisipasi mereka terhadap generasi yang lebih muda untuk tidak terjerumus
dalam persoalan ini.

Keanekaragaman persoalan yang muncul akibat era Industri 4.0 didasari oleh ketidaksiapan manusia untuk menerimanya. Hal inilah penyebab kebingungan yang cukup kompleks. Di antaranya ialah manusia kebingungan bagaimana harus menggunakan kemajuan teknologi yang ada. Hal ini menimbulkan manusia kehilangan orientasinya dalam memandang teknologi. Dampaknya ialah banyaknya multitafsir dalam menggunakan teknologi. Halnya ialah seperti seseorang yang diberi pisau tanpa pernah diberi tahu kegunaannya. Ia dapat dengan bebas menggunakan pisau itu untuk berburu, berkreasi, atau bahkan menyakiti orang lain. Semuanya itu adalah kebebasan manusia seperti yang Protagoras pikirkan. Hal ini adalah contoh dari konsep pemikiran homo mensura dari Protagoras. Intinya konsep ini menekankan kebebasan sepenuhnya berada di tangan manusia.

Kekacauan atau kebingungan manusia menyikapi teknologi berakibat pada beberapa tindakan penyalahgunaan teknologi itu sendiri. Sudah tidak dapat dihitung lagi berapa banyak bentuk penyalahgunaan itu. Akibatnya saat ini banyak orang yang menyalahkan, atau sekurangkurangnya menjadikan teknologi sebagai kambing hitam dan generasi muda sebagai objek mereka. Orang menyalahkan teknologi karena membawa aneka kemunduran, bahkan hidup rohani seseorang. Teknologi dianggap ambil bagian dalam melonggarnya keintiman komunikasi antar pribadi.

Lebih dari itu semua, media sosial dianggap sebagai penyebab kedangkalan relasi seperti yang coba diungkapkan oleh Paus Fransiskus dalam peringatan hari komunitas sedunia. Berangkat dari persoalan di atas, perlu digaris bawahi bahwa persoalan teknologi disebabkan ketidaksiapan manusia atasnya. Lantas apakah dengan demikian teknologi harus dihilangkan dari hidup manusia ? atau haruskah kita kembali ke masa di mana teknologi belum berkembang secepat saat ini ? Tentu saja Hal itu tidak perlu. Lantas apa solusinya ? marilah kita meninjau hal ini lebih dalam lagi.

Banyak orang beranggapan bahwa penyelesaian masalah kemajuan teknologi ialah membatasi penggunaannya. Contohnya ialah apa yang telah dilakukan untuk mengatasi persoalan pornografi. Pemerintah telah membuat sejenis portal maya yang menahan seseorang untuk dapat mengakses konten – konten pornografi. Ada pula upaya membuat perundang-undangan yang mengatur aneka pelanggaran dalam dunia maya. Kita juga menjumpai sejumlah Gereja Katolik yang memasang pengacak sinyal di dalam gereja demi menghindari penggunaan gawai saat perayaan Ekaristi berlangsung.

Sejauh konsep berpikir kita masih terbatas dalam membatasi dan atau melarang, maka
seruan Bapa Suci untuk mengoptimalkan kemajuan teknologi tidak akan berjalan dengan
maksimal. Lantas bagaimana atau apa yang harus kita lakukan ? jawabannya ialah memberikan
pendampingan dan tidak menolak teknologi sejak dini. Alasannya ialah bahwa teknologi tidak
dapat terlepas dari hidup manusia zaman ini. Hal ini terungkap lewat wawancara dengan
beberapa orang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Satu hal yang pasti ialah media sosial
menawarkan komunikasi yang lebih mudah, cepat, efisien, dan murah. Memang perlu disadari
bahwa media sosial tidak akan pernah dapat menggantikan keintiman komunikasi tatap mata,
namun ia berjasa untuk menjaga manusia dalam horizon relasi.

Proses pendampingan dan pendidikan adalah metode terbaik dalam upaya mengatasi
kemajuan perkembangan teknologi. Perlu diingat bahwa teknologi disalah gunakan karena
manusia tidak siap dengan hal ini. Itu artinya bahwa dengan metode di atas manusia disiapkan
untuk hidup dengan teknologi. Hal ini mengajak kita untuk segera berbenah. Sebab hal ini dirasa lebih efektif ketimbang terus-menerus menyalahkan teknologi. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Sokrates bahwa ketidaktahuan atau ignoransi adalah sebuah dosa, maka kita perlu belajar mengetahuinya.

Persoalan teknologi terus bermunculan karena kita terlalu sibuk menyalahkan
perkembangan itu. Kita tidak berniat untuk berdamai, mengenal, dan menjadikannya sahabat.
Ketika teknologi tidak lagi menjadi hal yang baru, melainkan sahabat manusia, manusia akan
mampu bersikap lebih bijak dalam menggunakannya. Sekali lagi perlu diingat bahwa kita jangan
sekali-kali menyalahkan teknologi, karena sebelum adanya media sosial seperti sekarang pun,
manusia selalu mengalami persoalan yang kompleks.

Proses internalisasi teknologi dalam hidup manusia bukan hanya tugas satu orang saja,
melainkan kita semua. Seperti dalam Efesus 4:25 yang berbunyi “kita adalah sesama anggota”,
kita perlu menyadari bahwa beban ini perlu kita tanggung bersama sebagai satu anggota dan satu
keluarga besar umat manusia. Untuk itu tidak satu orang pun yang tidak harus berbenah dan
menyiapkan diri. Caranya tentu dengan mengenal teknologi dan fungsinya yang esensial, baru
setelahnya menggunakannya secara tepat.

Dengan penggunaan teknologi yang tepat sasaran, kedangkalan relasi tidak akan terjadi. Mengapa? Karena teknologi yang tepat sasaran akan membantu menjaga relasi manusia. Seperti tertulis dalam Korintus 12:12, bahwa manusia tidak mungkin menjadi satu tubuh bila anggotanya saja mengalami kesulitan berkomunikasi. Di sinilah peran serta media sosial sebagai sarana pemersatu.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan ialah bahwa teknologi dalam hal ini media sosial
mampu membantu proses komunikasi iman atau dapat juga diartikan sebagai pewartaan iman.
Dalam bagian akhir Injil Matius bab 28, Yesus meminta kita semua mewartakan Kabar Gembira ke
seluru dunia. Tapi ada satu hal yang perlu disadari. Yesus mengutus kita, tapi tidak memberi kita
cara untuk melakukannya. Alasannya ialah Yesus menginginkan agar kita sendirilah yang
mengusahakan caranya. Lalu mengapa kita tidak menggunakan sarana yang menjadi bagian
integral dalam zaman ini, yakni media sosial.

Konsekuensi logis dari media sosial sebagai sara komunikasi iman ialah petugas pastoral
dituntut untuk mampu mengoptimalkan media sosial. Adalah baik jika mulai saat ini para
rohaniwan tergerak untuk turut ambil bagian dalam dinamika ini. Mereka perlu dengan cermat
bekerja sama dengan sebanyak mungkin pihak untuk mewujudkan salah satu cara komunikasi
iman tersebut.

Saat ini yang menjadi tantangan bagi kita ialah seberapa siapkah kita mampu memberi edukasi
bagi generasi muda ? Atau kita hanya terus menyalahkan mereka atas ketidak siapan kita generasi
sebelumnya ? Sebagai satu anggota kita perlu untuk bersama-sama mengakui kelalaian kita.
Akhir kata saya ingin kita merenungkan secara bersama-sama bahwa teknologi tidaklah
pernah salah, yang bersalah ialah mereka yang tidak bijak menggunakannya. Mereka tidak bijak
karena mereka tidak pernah disiapkan untuk tantangan ini. Hal ini menuntut kita untuk belajar
menjadi bijak dengan mempersiapkan diri.

Sehingga kita sebagai umat Kristiani mampu mewujudkan tugas kita untuk mewartakan Kabar Gembira kepada seluruh bangsa dengan lebih luas, efektif, dan maksimal. Terakhir ialah jangan pernah takut untuk membusungkan dada dan menatap ke depan dalam menghadapi perkembangan. Kita bersama maka kita mampu mewujudkannya. Menanglah sebelum berperang. Jangan jadikan teknologi sebagai musuhmu, melainkan sahabatmu, maka kita tidak perlu berperang melawannya.

Daftar Pustaka :
1. Saeng, Dr. Valentinus, Sokrates. diktat Unpublish
2. Saeng, Dr. Valentinus, Para Filosof Kosmologis. diktat Unpublish
3. Riyanto, Armada. Menjadi Mencintai. Yogyakarta: Kanisius, 2017

 

Ilustrasi: macrovector

Penulis: Silvester Yansen Perera

Ditulis dalam rangka Lomba Esai PKSN KWI 2019

Tags

Related Articles

Check Also

Close
error: Content is protected !!
Close