OPINI
Trending

Aku Menjadi Sahabat dan Saudaramu

Sebuah Esai Tentang Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-53

INTRODUKSI

Manusia membutuhkan yang lain agar ia tetap dapat hidup. Hal tersebut tidak dapat
dipungkiri lagi. Manusia hidup dalam berbagai macam kesibukan yang mewarnai kesehariannya.
Dalam posisi manusia manusia membutuhkan yang lain ini, manusia hendak menyatakan
kehadirannya bersama dengan yang lain. Manusia membutuhkan sahabat dalam hidupnya.
Persahabatan yang bukan saling melebur satu dengan yang lain tetapi selalu ada bersama
dengan yang lain. Dewasa ini, persahabatan dapat diperoleh dari dunia real dan dunia virtual.
Sehingga hubungan persahabatan dari dunia real dapat dimasukkan ke dalam dunia virtual.
Sebaliknya persahabatan yang diperoleh dari dunia virtual dapat dimasukkan ke dalam dunia real.

AKU “BERSAMA-DENGAN” YANG LAIN

“No man is an island”. Ungkapan ini kiranya dapat mewakili manusia bahwa manusia tidak
dapat menggapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Manusia tidak dapat hidup dalam
kesendiriannya. Manusia memerlukan orang lain dalam mewujudkan keberadaannya sebagai
manusia. keberadaan dengan yang lain inilah yang menunjukkan bahwa ia adalah manusia. Natura
dari manusia adalah “bersama-dengan-yang lain”. Sehingga dari yang lain manusia dapat belajar
darinya, bekerja sama dengan yang lain dan merangkai sejarah hidupnya bersama dengan yang lain.
Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah manusia yang masih membutuhkan yang lain
mengharuskan ia ikut bersama dengan yang lain. Seperti seorang bayi yang memerlukan ibunya.

Dalam arti ia masuk kedalam suatu komunitas dan menjadi anggota dari komunitas itu. Posisi
manusia di dalam komunitas itu bukan lagi manusia secara individu, melainkan sudah berubah
menjadi kita sebagi manusia dalam komunitas tersebut. Namun hal yang perlu diingat adalah tidak
terjadi perpaduan antara aku dan yang lain, melainkan “keberadaan bersama”. Di dalam tata hidup
bersama dalam komunitas hanya menjadi mungkin apabila “aku” manusia menjadi “kita”.

Hal yang menyatukan dalam komunitas adalah persahabatan. Persahabatan berarti aku
menerima dan memberikan kepada yang lain dalam keberadaanku. Dengan adanya persahabatan
berarti aku juga ikut mengalami apa yang sahabatku alami. Di dalam persahabatan tidak ada sikap
saling menundukkan. Engkau harus tunduk kepadaku meniadakan relasi yang mendalam dari
persahabatan. Orang lain dapat disebut sebagai sahabat ketika dalam kehadirannya yang
mendengarkan dan berdialog. Dengan berdialog inilah orang mengalami kepenuhannya sebagai
manusia.

Persahabatan yang yang paling tinggi adalah ketika orang memberikan nyawanya bagi
sahabatnya. Inilah persahabatan yang sejati yang mewujudkan cinta yang paling tinggi. Ketika orang
memberikan nyawanya bagi sahabatnya berarti sudah memberikan apa yang menjadi satu-satunya
yang dimiliki. Memberikan semuanya hingga sehabis-habisnya.

PERJUMPAAN YANG MEMBAWA PERSAHABATAN

Paus Fansiskus dalam Evangelii Gaudium mengajak supaya semua orang menemukan
sukacita dalam setiap perjumpaan. Dalam Evangelii Gaudium perjumpaan dimaknai sebagai
sesuatu yang baru bahwa Allah hendak berjumpa dengan manusia melalui perjumpaan dengan
sesama. Dewasa ini, masyarakat berhadapan dengan berbagai jenis permasalahan hidup yang
mewarnai dalam kesehariannya. Hal ini tentunya tidak terlepas dari kemajuan teknologi yang
sedemikan pesat yang secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak tersendiri bagi
masyarakat. Dampak dari kehadiran teknologi khususnya internet, melahirkan dunia baru. Sehingga
masyarakat yang hidup di zaman ini hidup dalam dua dunia, yakni dunia real dan dunia virtual.

Tidak jarang bahwa dunia real dan dunia vitual ini bertolak belakang. Para penduduk dunia
virtual seringkali menjauhkan antar individu secara fisik. Dimana penduduk dunia virtual
menciptakan wilayahnya sendiri. Apabila dilihat secara kasat mata, memang mereka hidup secara
bersama-sama namun sebenarnya ada sekat yang membatasinya. Sekat yang memberikan batas
isolatif terhadap yang lain. Sehingga menyebabkan yang lain sulit untuk masuk kedalamnya.
Perjumpaan yang dilakukan secara real dan secara virtual akan terasa perbedaannya.

Perjumpaan yang lakukan secara real akan mendapatkan makna tersendiri serta akan mendapatkan
aliran energi atau aura yang memancar dari orang yang ada dalam pandangannya. Sedangkan
perjumpaan yang dilakukan secara virtual hanya akan mendapatkan persepsi dari apa yang ia lihat.
Seringkali orang mudah tertipu ketika perjumpaan virtual dimasukkan ke dalam perjumpaan real.
Tidak jarang pula orang yang melakukan perjumpaan virtual dan perjumpaan real menemukan sahabat. Menjadi sahabat berarti juga menjadi anggotanya. Anggota dari persahabatan itu sendiri. Persahabatan itu berlangsung terus menerus, tanpa ada batas waktu yang menjadi patokannya. Persahabatan tidak mengenal waktu.

Persahabatan adalah tindakan menyebrangi diri sendiri kedalam diri sesama lain secara
terus menerus. Menyeberangi dan masuk ke dalam diri yang lain bukan tindak meniadakan diri
sendiri melainkan pemenuhan dari diri sendiri. Sehingga semakin seseorang menyebarangi diri
orang lain maka ia semakin menjadi dirinya. Ia semakin menjadi manusia. Sebaliknya, semakin ia mengurung diri serta tidak mau berjumpa dan tidak mau menyebrang dengan yang lain maka orang semakin tidak menjadi manusiawi. Dalam persahabatan, beragam pengalaman gembira, harapan dan kesedihanmu adalah kegembiraan, harapan dan kecemasanku. sehingga dalam persahabatan dibutuhkan suatu kepekaan.

Persahabatan akan terluka apabila salah seorang anggota menebarkan dusta atau melakukan kebohongan (Bdk Efesus 4:25). Dusta dan bohong melukai “kita” sebagai sahabat. Sehingga dalam persahabatan setiap anggota dituntut untuk berkata yang benar dan apa adanya. Kebenaran dapat dianggap utang yang harus dibayar oleh yang satu terhadap yang lain. Persahabatan yang dilandasi dengan kasih maka ia tidak akan menipu atau berbohong kepada yang lain.

KONKLUSI

Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan “yang lain”. Perjumpaan dengan “yang lain” inilah yang menjadikan manusia masuk ke dalam suatu komunitas yang disebut dengan persahabatan. Persahabatan yang tebentuk dari dunia real maupun virtual selalu mempunyai aturan main atau tata hidup dalam “kebersamaan”. Sehingga setiap anggota mempunyai tanggung jawab untuk mejaga dan merawatnya. Agar persahabatan itu tidak terluka. Persahabatan tidak melulu berlandaskan suka tidak suka tetapi berlandaskan sikap terbuka menerima dan memberi. Seorang sahabat harus mampu menyebrangi sahabatnya agar ia semakin menjadi manusia. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran (Amsal 17:17).

DAFTAR PUSTAKA

Dokumen Gereja:
EVANGELII GAUDIUM SUKACITA INJIL, terj R.F Bhanu Vitorahadi. Yogyakarta:Kanisius, 2015
Buku-buku:
Riyanto, Armada. RELASIONALITAS FILSAFAT FONDASI INTERPRETASI: AKU, TEKS, LIYAN, FENOMEN.
Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius, 2018
Mangunwijaya. RAGAWIDYA RELIGIOSITAS HAL-HAL SEHARI-HARI. Yogyakarta: Penerbit PT kanisius
1986

Ilustrasi: Nicholas Pudjanegara

Penulis: Paulus Fajar Ariwiyatno

Ditulis dalam rangka Lomba Esai PKSN KWI 2019

 

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

Check Also

Close
instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close