BERITA
Trending

Jambore Remaja Perdana Keuskupan Tanjung Selor

KEUSKUPAN Tanjung Selor (KTS) di Kalimantan Utara tahun ini memiliki hajatan akbar. Mereka menggelar Jambore Remaja. Rangkaian perhelatan akbar ini dibuka pada Rabu 26 Juni 2019. Momen historis ini mengusung tema “Remaja Misioner Siap Kabarkan Suka Cita Injil”. Nilai historisnya terletak pada pelaksanaan Jambore Remaja yang baru pertama kali dalam sejarah dilaksanakan di KTS.

Peserta jambore ini adalah anggota SEKAMI. Mereka berasal dari 14 paroki yang tersebar di seluruh teritori yurisdiksi KTS. Para remaja ini berbondong-bondong meramaikan jambore yang berlangsung di Paroki St. Eugenius de Mazenod (Eudema) Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur, selaku tuan rumah.

Kontingen dari Paroki Nunukan (Doc. Komsos KTS)

Semangat Jambore Perdana

Rabu siang, 26/6, tepatnya pukul 13.00 WITA, registrasi bagi para peserta mulai dibuka. Mereka disambut dengan upacara sederhana, tetapi dilangsungkan dengan khidmat. Penyambutan digelar di depan gerbang kompleks Gereja Eudema. Para koordinator utusan setiap paroki disambut dengan pengalungan selempang sebagai simbol bahwa mereka telah diterima oleh panitia.

Setelah seremoni pembukaan, para peserta berkesempatan untuk unjuk kebolehan dengan meneriakkan yel-yel yang telah mereka persiapkan. Masing-masing paroki terlihat begitu antusias menampilkan yel-yel mereka sehingga membuat suasana pun kian semarak. Dengan gaya dan aneka gerakan, mereka berlomba-lomba untuk menyajikan yang terbaik bagi kemeriahan acara jambore ini. Upacara penyambutan pun begitu mengesankan dan meninggalkan kenangan kebersamaan yang begitu mendalam.

Para peserta lalu diundang untuk melakukan sesi foto bersama sembari melakukan registrasi untuk pendataan akomodasi dan fasilitas penunjang selama kegiatan. Mereka diajak membaur supaya saling mengenal satu sama lain. Panitia telah menyiapkan pembagian para peserta menjadi 12 kelompok. Setiap kelompok diberi identitas dengan mengambil nama-nama kota yang ada di dalam Alkitab. Misalnya, Kanaan, Yerusalem, dan sebagainya.

Jambore perdana ini dipersiapkan dengan konsepnya live in. Artinya, para peserta dititipkan kepada keluarga-keluarga Katolik di Paroki Eudema. Mereka tinggal dan hidup bersama di dalam keluarga-keluarga yang tersebar di 12 lingkungan. Tampak bahwa para peserta menunjukkan raut muka yang berbinar dengan sedikit tanda tanya ketika sampai pada pembagian kelompok dan tempat live in.

Baca juga: http://www.mirifica.net/2019/07/02/paramenta-remaja-kts-wahana-belajar-melayani-gereja/

Berjuang Demi Kebersamaan

Gelombang kedatangan para peserta pun tidak terjadi secara serentak. Mereka datang secara bertahap. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan jarak dari tiap paroki menuju Paroki Eudema. Selain itu, kondisi geografis di wilayah KTS yang terpisah oleh laut dan sungai, juga menjadi kendala tersendiri. Belum lagi keterbatasan moda transportasi dan lamanya perjalanan yang harus ditempuh, merupakan catatan penting yang perlu dipertimbangan bagi ladang pastoral di KTS. Memang tidak semua wilayah di KTS dapat ditempuh dengan jalan darat. Jika pun ada jalur darat, tantangannya adalah kondisi jalan yang masih belum tersentuh program pengerasan jalan, seperti aspal atau semen.

Salah satu contohnya, Paroki St. Lukas Apo Kayan, Long Apung, Kalimantan Utara. Satu-satunya moda transportasi untuk keluar-masuk wilayah ini adalah pesawat perintis dengan kapasitas 12 penumpang. Mempertimbangkan kondisi demikian, peserta dari Paroki Apo Kayan dibagi menjadi tiga kloter; masing-masing berjumlah tujuh orang, yang terdiri dari peserta dan pendamping. Selain itu, mereka juga harus berangkat pada hari yang berbeda karena keterbatasan dan kendala jadwal penerbangan. Dari Apo Kayan, mereka berkumpul terlebih dahulu di Tanjung Selor; baru melanjutkan perjalanan ke Tanjung Redeb melalui jalan darat dengan menggunakan mobil travel. Oleh karena itu, selain kendala medan dan moda transportasi, waktu perjalanan dan jarak tempuh, tentu besarnya biaya juga masuk dalam hitungan penyelenggaraan acara di tingkat keuskupan ini.

Contoh lain adalah Paroki St. Gabriel Nunukan, Kalimantan Utara. Para peserta dari Nunukan datang paling akhir. Mereka mengalami kendala karena keterbatasan moda transportasi. Mereka harus menempuh jalur laut. Rutenya pun tidak bisa langsung. Mereka berangkat dari Nunukan menuju Tarakan, lalu melanjutkan perjalanan lagi ke Tanjung Selor dengan menggunakan speedboat. Dari Tanjung Selor, perjalanan baru bisa dilalui lewat jalan darat menuju Tanjung Redeb dengan bus. Jarak Tanjung Selor-Tanjung Redeb ditempuh dengan bus selama tiga jam. Akhirnya, mereka baru tiba di Paroki Eudema pada Kamis, 27/7, pukul 01.00 WITA. Meskipun telah melewatkan acara pembukaan dan penyambutan, pelbagai kendala yang dihadapi sama sekali tidak menyurutkan semangat mereka untuk memeriahkan Jambore Remaja KTS yang perdana ini.

Penyambutan peserta dari Apo Kayan oleh Dirdios KKI KTS (Doc. Komsos KTS)

Kesulitan Bukan Hambatan

Berbagai kendala yang mereka hadapi seolah terasa biasa saja. Mereka tetap terlihat memiliki semangat untuk datang, hadir, dan mengikuti rangkaian perhelatan akbar bagi remaja se-KTS ini. Walaupun kelelahan melakukan perjalanan lama dengan medan yang tidak mudah, mereka tetap menunjukkan spirit untuk merayakan suka cita iman akan Kristus dalam kebersamaan sebagai sesama saudara dalam Tuhan. Harapannya, semangat para remaja SEKAMI ini dapat menular dan menjangkiti yang lain, menjadi spirit pengembangan iman umat di KTS.

Di sela-sela acara, menanggapi aneka kesulitan yang dihadapi, Ketua Panitia, Sr. Benedicta, D.S.Y. mengatakan, “Itulah situasi kendala (di Keuskupan Tanjung Selor-Red). Semua paroki itu sudah berusaha sebaik mungkin.”

Namun, lanjut Sr. Benedicta, hal itu tidak menjadi hambatan yang berarti bagi panitia. Yang sangat berkesan adalah para peserta bisa menerima untuk tidak memilih teman. Panitia sudah membagi mereka ke dalam kelompok. Mereka pun aktif terlibat dan menerima apa yang telah disiapkan panitia dengan penuh gembira dan penuh semangat. “Dengan melihat semangat mereka (peserta-Red), harapan saya sebagai Ketua Panitia Jambore ini adalah adanya dukungan dari keluarga, orangtua, para guru (agama-Red), dan juga Gereja agar iman yang mereka tanamkan hari ini dapat terus tumbuh dan berkembang di masa-masa yang akan datang. Artinya, ungkapan nyata iman ini tidak hanya berhenti pada kegiatan ini saja,” demikian Sr. Benedicta. (AFA/RBE)

Baca juga: http://www.mirifica.net/2019/06/28/remaja-katolik-tanjung-selor-mesti-kreatif-dan-bersemangat-misioner/

Tags

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI, Juli 2013-Juli 2019

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close