BERITA
Trending

Perpas Nusra Dibuka Di Keuskupan Atambua

PERTEMUAN Pastoral ke-11 dibuka secara resmi di Keuskupan Atambua dalam perayaan misa kudus, oleh Bupati Belu, Senin, (22/7/2019). Disaksikan oleh para Bapa Uskup Se-Regio Nusa Tenggara, para imam, biarawan-biarawati dan umat. Pembukaan Perpas ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali.

Pembukaan Perpas ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali. (Dok. Komsos Atambua)

Bapa Uskup Atambua dalam kotbahnya menyentil masalah migran perantau yang terjadi dan meresahkan karena adanya korban yang dialami saudara-saudari kita yang merantau di negara lain. Ia kembali mengingatkan agar masalah migran dan perantau perlu mendapat perhatian serius  dan dibutuhkan pembekalan keterampilan bagi TKI-TKW. “Masalah pendidikan dan pekerjaan menjadi masalah serius yang perlu disikapi bersama. Mencari solusi agar umat kita tidak menjadi korban terus-menerus hingga kini,” ujar Mgr. Domi.

Perayaan misa kudus dipimpin secara konselebran oleh para uskup Regio Nusra dan para imam (Dok. Komsos Atambua)

Sekali lagi bagi Mgr. Domi Saku, masalah Pastoral tentang migran perantau menjadi tantangan di dalam Gereja. Tentu tema yang diangkat ini sangat kontekstual dan cocok dengan situasi yang kita hadapi sekarang ini yakni Gereja Nusra Peduli Migran Perantau. Lebih lanjut dikatakan bahwa Perpas ke-11 tahun ini, sangat tepat dan kontekstual dengan keadaan yang kita hadapi. ”Harapan saya semoga dengan pertemuan ini kita dapat menemukan keputusan tepat. Semoga dari pemerintah juga ditemukan regulasi yang mampu memberi solusi untuk kehidupan yang lebih baik bagi TKI-TKW.” Ungkap Uskup Atambua ini.

Bupati Belu, Wilibrodus Lay, SH ketika membacakan pidato Gubernur NTT mengulas masalah yang sama tentang migran perantau. Kurangnya lapangan pekerjaan dan bukan hanya itu tapi juga soal minimnya keterampilan. “Di NTT memang kekurangan lapangan pekerjaan tapi pemerintah selalu mencari langkah terobosan untuk menghadapi masalah ini. Juga kita membangun pola kerja bagi masyarakat agar jangan sampai selalu menjadi korban,” tandasnya.

Perayaan misa kudus dihadiri ratusan imam, dengan iringan koor dan Penari. (Dok. Komsos Atambua)

Para Uskup dan Rombongan bersidang selama se-Minggu. Hadir dalam Perpas ini para pengamat masalah sosial dan juga pemerhati kemanusiaan. Sidang ini diselingi juga dengan testimoni dari para korban human trafficking. Dalam misa pembukaan hadir sejumlah besar imam dan biarawan-biarawati. Dalam sambutannya, ketua panitia penyelenggara Petrus Bere mengucapkan terima kasih atas kehadiran para Uskup dan rombongan di Keuskupan Atambua. Sekaligus ia mengatakan akan siap memberikan pelayanan yang terbaik.

Ed: Kamilus

Baca juga: http://www.mirifica.net/2019/07/26/pengamat-memberi-catatan-untuk-gereja-katolik-di-nusra/

Tags

RD. Ino Nahak

Imam Diosesan Keuskupan Atambua, Sekretaris Komisi Komsos, Penulis dan Fotografer

Related Articles

error: Silakan share link berita ini
Close