BERITA
Trending

Doa Kami Senantiasa Bersama Alm. Mgr. Yohanes Philipus ‘Gaiyabi’ Saklil

HARI ini, 07 Agustus 2019, Pkl 12.00 WIT, bertempat di Gereja Katedral Tiga Raja dilaksanakan Misa Pemakaman bagi Mgr. John Philip Saklil yang dilanjutkan dengan prosesi pemakaman. Empat hari yang silam, kabar kepergian sang gembala, menyambar bak petir di siang bolong, mengagetkan, menyebar, menyeruak ke seluruh pelosok lewat aneka media komunikasi sosial. Semua orang berduka, umat Katolik Indonesia dan apalagi umat dan masyarakat di tanah Papua yang dalam dua hari berturut-turut kehilangan 2 sosok Gembalanya: Uskup Keuskupan Timika sekaligus Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke, Mgr. John Philip Saklil dan Imam dari Keuskupan Jayapura, Pastor Yulianus Mote Pr kembali menghadap Bapa di surga, (03/08, 04/08).

Uskup Saklil meninggalkan banyak kenangan manis, pribadi ceria dan bijaksana membawa berkat dan sukacita bagi siapapun yang berada didekatnya. Kenangan dan pesan sang gembala melekat akrab dalam hati dan budi para imamnya, umat bahkan masyarakat Papua. Ungkapan dan permohonannya untuk “jangan jual tanah”, “anak-anak harus sekolah” dan pesan-pesan bermakna lain terpatri erat dalam lubuk hati umat dan masyarakat Papua.

Doc: Pastor Hendrikus Kariwop MSC/Dokpri

Kesaksian tulus datang dari Merauke. Meski baru menghitung hari Bersama di Keuskupan Agung Merauke, Vikjen Keuskupan Agung Merauke (KAME), Pastor Hendrikus Kariwop MSC telah mengenal Mgr. Saklil cukup lama sejak bersama-sama menjadi Alumni STFT Fajar Timur – Jayapura. “Sebagai seorang uskup yang sungguh-sungguh menjawab panggilan sebagai gembala, memulai hal baru dengan pergumulan, membawa motto, ide dan visi yang baik, dia merancang segala sesuatu untuk memulai karyanya di Keuskupan Timika. Seorang Uskup baru di Keuskupan yang baru pemekaran itu memang berat tetapi dia biasa, itu hal yang luar biasa.” ujarnya.

mgr john philip saklil

Lebih lanjut ditambahkan bahwa “Kegembalaannya menjawab apa yg dibutuhkan oleh umat setempat pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sungguh terjawab. Seperti Yohanes  Pembaptis, dia datang membuka jalan melihat apa yg dibutuhkan oleh masyarakat serta memberi pengharapan bagi Gereja lokal dan umat Katolik serta masyarakat. Seorang gembala yang berbau domba benar, sungguh-sungguh menjawab dan melayani dengan sepenuh hati. Secara struktural Keuskupan, Kevikepan dan Dekanat sudah diurus dengan baik, Gereja-gereja dibangun, umat Allah diatur dengan baik terutama dalam memperjuangkan tanah orang setempat supaya kesejahteran lahiriah, rohani dan jasmani dapat terpenuhi karena tanah merupakan aset dan Ibu bagi orang Papua. Keberpihakannya terhadap masyarakat kecil tergambar penuh dari perjuangan, pembicaraan dan aksi nyata yang ia kerjakan.”

Tanggal 27 Juli 2019 yang lalu beliau menjadi Administrator Apostolik  Keuskupan Agung Merauke, saat pertama datang Mgr. Saklil memberi harapan dan angin segar pada umat katolik disini secara khusus bagi imam-imam, dia datang membawa hal dan sikap yang baik. Mgr.Saklil yang biasa disebut Bapak mengatakan “saya datang bukan untuk meniadakan tetapi melanjutkan apa yang sudah ada, tidak ada pembaharuan ,yang sudah ada sesuai standar kita jalani, yang kurang diadakan dan yang belum atau rusak kita perbaharui supaya Keuskupan Agung Merauke sungguh-sungguh menjadi Keuskupan Agung dari segi struktural, kepegawaian dan pelayanannya.” Kerendahan hatinya sungguh sangat tercermin dari bahasa yang digunakan, menunjukan seorang pemimpin yang sangat bijaksana dimana Uskup datang membawa harapan dan jawaban bagi umat yang resah dan cemas. Ungkap Pastor Hengky terkenang.

Doc: Diakon Rendy Putra Lau Pr/Dokpri

Selama Bapa Uskup tinggal tiga hari di Keuskupan Agung Merauke (27/07 – 30/07), tidak ada keluhan apapun, terlihat sehat, segar dan bersemangat. “Ketika tahu bahwa Bapa Uskup punya riwayat diabetes, kami mengatur menu makannya dan bertanya apa yang menjadi pantangan tetapi Mgr Saklil menginformasikan bahwa menu yang ada dihidangkan saja nanti dia yang akan memilih sendiri untuk makan karena dia tau mana yang bisa dimakan.” Kesederhanaan dan tegas, inilah pribadi Uskup Saklil yang terbersit dihati Diakon Rendy Putra Lau Pr, KAME.

15 tahun sudah sejak ditahbiskan menjadi Uskup pada 18 April 2004 berlalu, ia mengerahkan segenap pikiran, jiwa dan raganya untuk berkarya memajukan dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi para ‘domba’ di Keuskupan Timika dan akan memulai karyanya juga di Keuskupan Agung Merauke namun Tuhan lebih sayang padanya. Selamat Jalan Mgr. Yohanes Philipus ‘Gaiyabi’ Saklil, doa kami senantiasa bersamamu. (Yovita/Stefani)

Editor: RD. Steven Lalu

Tags

Stefani Ira Wijayanti

Staf Komisi Komunikasi Sosial, Konferensi Waligereja Indonesia, sejak Januari 2019-...

Related Articles

One Comment

  1. Saya mengenal Mgr John Philip Saklil saat saya membaca berita dimana almarhum melarang umat Katolik merayakan Natal sebelum tgl 25 Desember

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close