EditorialOPINI

Mewartakan Kabar Gembira Di Tengah Krisis Lingkungan Hidup

“MEWARTAKAN KABAR GEMBIRA

DI TENGAH KRISIS LINGKUNGAN HIDUP”

(Tema Bulan Kitab Suci Nasional 2019)

Pst. Ventje F. Runtulalo, Pr

Bulan September adalah Bulan Kitab Suci Nasional. Selama bulan ini, umat Katolik di Indonesia diajak untuk membaca dan mendalami Kitab Suci. Lembaga Biblika Indonesia biasanya menyediakan tema-tema tertentu sebagai pedoman untuk membantu umat dalam membaca dan mendalami Sabda Tuhan. Biasanya ada tema umum untuk setiap empat tahun. Tema umum periode 2017-2020, yaitu “Mewartakan Injil di Tengah Arus Zaman”. Arus zaman itu meliputi gaya hidup modern (2017), kemajemukan (2018), krisis lingkungan hidup (2019), dan krisis iman dan identitas diri (2020).

Tema Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2019, yaitu “Mewartakan Kabar Gembira di Tengah Krisis Lingkungan Hidup”. Tema yang sudah dirumuskan sejak tahun 2017 ini, secara khusus dilatarbelakangi oleh Ensiklik Paus Fransiskus, yang berjudul Laudato Sí (Terpujilah Engkau). Dalam Ensiklik yang terbit pada 24 Mei 2015 ini, Paus mengajak kaum beriman untuk melihat bumi sebagai ibu yang memberikan kehidupan. Manusia makan dari yang diberikan alam. Manusia minum air yang dihasilkan bumi. Manusia menghirup oksigen yang dibagikan semesta. Ibu bumi sungguh murah hati. Namun sayangnya, ibu bumi sementara menjerit sekarang ini. Tangisannya malahan terdengar semakin menyayat hati dikarenakan krisis lingkungan hidup yang sedang terjadi dan terus bertambah parah.

Bulan Kitab Suci Nasional 2019 ini diharapkan dapat menjadi kesempatan emas untuk menggali visi dan motivasi ekologis dari dalam Kitab Suci. Pembacaan dan pendalaman Kitab Suci diharapkan dapat mengantar kaum beriman untuk memiliki pandangan yang benar dan utuh tentang bumi dan alam semesta, tentang manusia dan makhluk ciptaan lainnya.

Paus Fransiskus sendiri, dalam Ensiklik Laudato Sí, menyebutkan tiga persoalan ekologis yang terbesar, yaitu polusi serta perubahan iklim, masalah air, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Ketiga persoalan ekologis tersebut disebabkan oleh manusia yang digerakkan oleh egoisme, konsumerisme dan kerakusan. Pembabatan hutan sungguh menghilangkan sumber-sumber air, mengurangi produksi oksigen, dan meningkatkan pemanasan global. Bila pemanasan global terjadi, maka es di kutub mencair. Bila es di kutub mencair, permukaan air laut akan naik. Bila permukaan air laut naik, maka ada pulau-pulau yang akan tenggelam. Bila pulau-pulau tertentu tenggelam, maka tempat hunian manusia juga ikut lenyap.

Akibat dari persoalan ekologis itu sendiri akan berdampak pada manusia juga. Polusi air, udara, dan tanah sungguh sementara dialami oleh begitu banyak orang. Dan persoalan-persoalan ini demikian mengerikan. Tempat hidup manusia sungguh mengalami kemerosotan. Udara panas dan pengap semakin terasa. Air bersih menjadi mahal. Tanah tanpa sampah semakin lama semakin berkurang. Masih ditambah lagi dengan cuaca ekstrim. Temperatur bumi meninggi. Badai datang silih berganti. Hujan deras yang mengakibatkan banjir terjadi di mana-mana. Itulah sebabnya, krisis lingkungan hidup ini mesti menjadi perhatian setiap insan. Permasalahan ekologis bukan hanya persoalan pemerintah atau kelompok pegiat lingkungan hidup. Sebaliknya, persoalan ini mesti membangkitkan keprihatinan, kepedulian, dan gerakan semua orang. Tak terkecuali umat Katolik Indonesia.

Kitab Suci sendiri menyajikan visi, inspirasi, dan motivasi yang kaya tentang lingkungan hidup. Kisah Penciptaan (Kej. 1 – 2), misalnya, menyajikan visi tentang manusia dan alam semesta. Alam diciptakan dengan baik. Manusia diciptakan dengan martabat teramat luhur. Dia diberi kesempatan emas untuk hidup dari dan bersama alam semesta. Dia pula diberi tugas untuk merawat dan melestarikan alam ciptaan. Bukan mengeksploitasi, membabat hingga habis, mengeruk hingga tuntas. Begitu pula, Kitab Suci menunjukkan bahwa persoalan lingkungan hidup adalah ulah dari manusia yang tidak bertanggung jawab. Kejahatan membuat tanah terkutuk (Kej. 4:8-12) dan kesombongan membuat kehidupan musnah (Kej. 6:5-7, 11-13).

Kitab Suci juga menyajikan tokoh-tokoh inspiratif yang membawa harapan. Misalnya, ada Nuh, seorang yang saleh. Karena Nuh Allah menyelamatkan segala makhluk hidup dan memulihkan kembali bumi dan kehidupan bagi manusia (8:1-19). Demikian ditunjukkan bahwa manusia yang saleh dapat turut berperan untuk menyelamatkan alam semesta. Karena akar persoalan ekologis yaitu egoisme dan kerakusan, kesombongan dan ketidakpedulian. Maka, panggilan untuk menjadi orang yang saleh, yang mencintai Tuhan dan sesama, serta peduli dengan semesta sungguh mendesak untuk dijawab.

Secara istimewa, melalui Kristus Yesus, Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya (Kol. 1:19‑20). Itulah sebabnya, sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil, secara istimewa selama Bulan Kitab Suci Nasional 2019 ini, untuk melihat persoalan-persoalan ekologis yang sedang terjadi. Kita mesti memiliki kepekaan ekologis. Persoalan-persoalan lingkungan sungguh terjadi di depan mata kita. Malahan, tak jarang kita sendiri yang menciptakan persoalan lingkungan tersebut. Menggunakan produk plastik masih menjadi kebiasaan kita. Membuang sampah tidak pada tempatnya masih menjadi tindakan kita. Kita turut berperan dalam menciptakan persoalan-persoalan ekologis.

Kitab Suci menyajikan tokoh-tokoh inspiratif untuk menyadarkan kita akan peranan kita yang positif untuk membaharui dan membangun tata ciptaan. Menjadikan lingkungan kita lebih bersih, asri, dan nyaman untuk ditinggali. Menanam dan memelihara pohon sungguh dapat kita kerjakan. Tindakan-tindakan kecil namun berarti dapat kita lakukan di tempat di mana kita berada. Boleh sendiri dan lebih baik lagi bersama.

Kitab Suci dapat memberi kita inspirasi, visi, dan motivasi untuk mengatasi krisis lingkungan hidup di satu pihak dan menjaga serta memperbaiki tata ciptaan di lain pihak. Maka, ambillah Kitab Suci dan bacalah. (Pst. Ventje F. Runtulalo, Pr)

Note: Bacaan ini juga dapat dilihat pada Buku Renungan Iman dan Pendalaman Iman “Percikan Hati”

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Silakan share link berita ini
Close