BERITA
Trending

Sebuah Kisah Tentang Alm Mgr. Martinus Dogma Situmorang OFMCap

MIRIFICA.NET – Almarhum Mgr. Situmorang sejak setahun terakhir memang telah beberapa kali menjalani pengobatan karena ada gangguan sekitar livernya, bahkan saat menjalani perawatan beberapa waktu yang lalu diketahui juga ada gangguan pada jantungnya. Bulan-bulan terakhir fisiknya terlihat lemah, meskipun dengan kekhasan caranya, Mgr. Situmorang berusaha menyembunyikannya dengan kelakar, sikap, dan perilaku sehari-hari yang bagi mereka yang mengenalnya dari dekat tentu tahu ada perbedaan. Wajahnya terlihat sedikit membengkak, jalan pun tidak normal seperti biasanya. Beberapa orang terdekat menginformasikan bahwa saat itu sebenarnya sel-sel kanker yang diidapnya telah bermetastasis.

Opung Uskup Situmorang tetap hadir dalam Sidang KWI di Bandung, 4-13 November 2019. Dalam salah satu  sesi pada hari studi ia masih ikut memoderatorinya, tampil sebagaimana biasanya, lengkap dengan gaya khas seorang Uskup Situmorang yang penuh guyonan. Ketika berjalan, terlihat tubuhnya kurang stabil, seperti ada yang mengganggu. Namun, jangan tanya “Monsinyur, bagaimana kondisi, sehat kah?” Jawabannya pasti dengan penuh keyakinan, “sehat”. Ini menjadi sidang terakhir yang diikutinya dengan setia sepanjang  hampir 37 tahun menjadi uskup.

KomsosKWI, Gereja Katolik Indonesia, katolik, Konferensi Waligereja Indonesia, Mgr Situmorang, Mgr. Martinus Dogma Situmorang OFMCap, RIP, uskup indonesia, Uskup Keuskupan Padang
Mgr. Martinus Dogma Situmorang OFMCap menjadi moderator saat hari studi sidang KWI 2019

Pada hari ke-3 Sidang KWI ia dibawa ke RS karena kondisinya menurun dan membutuhkan penanganan medik secepatnya. Dua hari kemudian menerima sakramen pengurapan orang sakit dari tangan Mgr. Kornelius Sipayung OFM.Cap., Uskup Agung Keuskupan Medan.

Mgr. Martinus Situmorang lahir di Palipi, Samosir, Sumatera Utara, 28 Maret 1946, dari pasangan Joseph Iskandar Arminius Situmorang dan Maria Dina Sinaga. Ditahbiskan menjadi imam pada 5 Januari 1974. Diangkat menjadi Uskup Padang pada 17 Maret 1983 dan menerima konsekrasi uskup pada 11 Juni 1983 dari tangan Mgr A.G.P. Datubara OFM.Cap (Uskup Agung Medan) sebagai konsekrator utama, yang didampingi oleh Mgr Raimundo C. Bergamin SX (Uskup Padang yang digantikannya) dan Mgr A.B. Sinaga OFM.Cap (Uskup Sibolga) sebagai konsekrator pendamping.

Rapat Presidium di Gedung KWI Cut Meutia 10, Jakarta Pusat, 17 Mei 2018

Uskup Termuda bagi Orang Muda

Almarhum Mgr. Martinus Situmorang ditakdirkan menjadi pemimpin. Sejak usia muda ia selalu ambil bagian dalam kancah kepemimpinan Gereja Katolik. Ia pernah menjadi Sekjen KWI (1988-1997), menjadi Wakil Ketua I KWI selama dua periode (1997-2000 & 2000-2003), menjadi Anggota Presidium KWI mewakili Provinsi Gerejawi Medan (2003-2006), lalu selama dua periode menjadi Ketua KWI (2006-2009 & 2009-2012).  Sejak 2012 ia menjadi Ketua Komisi Pendidikan KWI, merangkap sebagai anggota Presidium KWI mewakili Provinsi Gerejawi Medan sampai saat ini.

Ketika Seksi Kepemudaan dilepaskan mandiri dari induknya, Komisi Kerawam KWI, menjadi sebuah komisi tersendiri, sebagai uskup termuda, dipilihkan Mgr. Situmorang sebagai Ketua Komisi Kepemudaan KWI (1985-1988). Dengan semangat dan jiwa mudanya ia menggiatkan kerasulan di kalangan kaum muda Katolik dengan berbagai aktivitas khas kaum muda. Orang Muda digembalakan secara nasional oleh Orang Muda juga karena Mgr. Situmorang pada waktu itu usianya belum 40 tahun. Ini rekor pertama yang diraihnya dan belum tersaingi sampai saat ini di Indonesia.

Opung bergembira bersama cucu-cucunya, para karyawan Penerbit & Toko Rohani OBOR, dalam perayaan 60 Tahun Imamat Pater Clemens Schreurs CICM di Aula Gedung KWI Cut Meutia, 28 Oktober 2016

Rekor kedua, Mgr Martinus Dogma Situmorang sampai saat ini menjadi uskup Indonesia termuda waktu diangkat menjadi uskup, yaitu pada usia ke-37 tahun. Selain itu, sepertinya ia juga menjadi uskup aktif terlama yang menggembalakan umat di keuskupannya sepanjang 36 tahun.

Akhir Segala Karyanya

Menjadi uskup dalam usia amat muda tidaklah mudah karena harus mengawali segalanya dari ketidaktahuan dan sedikitnya informasi dan pengalaman yang dimiliki. Pada waktu menghadiri pertemuan para uskup baru di Roma, beberapa waktu setelah penahbisannya sebagai uskup, tanpa sadar ia hadir menggunakan jubah berwarna putih. Salah seorang kardinal yang hadir sebagai pendamping para uskup baru tersebut kemudian mengajaknya untuk pergi membeli jubah uskup berwarna hitam. Dalam kepolosan sikapnya, ia mendapat nasihat dari sang kardinal bahwa di Roma hanya ada satu orang yang berjubah putih.

Yang Mulia, Alm Mgr. Martinus Dogma Situmorang OFMCap (Komsos Keuskupan Padang)

Karyanya sebagai seorang uskup memang amat panjang. Namun pada akhirnya, persis seperti kata si Pengkotbah, “segala sesuatu ada waktunya” (Pkh 3:1), begitu juga segala karya Mgr. Martinus Situmorang yang begitu panjang sebagai uskup harus diakhiri pada waktunya oleh Sang Empunya Waktu pula. Tempat yang dipilih-Nya bukan di tengah-tengah umatnya di Sumatera Barat dan Riau, tetapi di Kota Bandung, Jawa Barat, ketika berkumpul bersama-sama para uskup, saudara-saudaranya dalam tahbisan, yang sebagian besar boleh menjadi adik-adiknya karena berusia 50, 60-an tahun.

Setelah wafatnya, dipersembahkan misa arwah di Katedral Bandung dalam perayaan konselebrasi yang dipimpin oleh Mgr. Harun Yuwono (Uskup Dioses Tanjungkarang, Lampung), lalu disemayamkan beberapa jam di Katedral Bandung sebelum diantar ke Bandara Soekarno-Hatta untuk diterbangkan ke Padang pada Rabu, 20 Nov 2019, pukul 17.20 wib.

Setibanya di Padang langsung disemayamkan di Gereja Katedral St. Theresia Kanak-Kanak Yesus, Padang. Kemudian dilanjutkan dengan misa arwah kembali yang dilanjutkan dengan tirakatan oleh umat-umat secara bergiliran. Seluruh prosesi diakhiri dengan Misa Requiem pada hari Jumat, 22 Nov 2019, pukul 12.00, yang dilanjutkan dengan upacara pemakaman.

Bapa Uskup Martinus, selamat jalan menuju keabadian di Rumah Bapa Surgawi.

(RD.Agustinus Surianto Himawan)

Tulisan ini dapat dibaca juga di membumikanide.com

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close