BERITA
Trending

Kardinal Suharyo: Semoga Kita Saling Meneguhkan Dalam Keadaan Sulit Ini

Dalam Misa Hari Raya Kabar Sukacita

MIRIFICA.NET – Rabu, 25 Maret 2020, di Ignatius Kardinal Suharyo memimpin Perayaan Ekaristi merayakan Pesta Maria menerima Kabar Sukacita, tanpa dihadiri umat beriman. Misa berlangsung pukul 08.00, dihadiri oleh beberapa suster yang membantu menjadi petugas Liturgi. Meski digelar tanpa umat, dalam rangka mencegah penyebaran virus Cofid 19, perayaan ini diikuti puluhan ribu orang lewat livestreaming yang dikerjakan oleh hidup TV-Komsos KAJ dan Komsos Gereja Katedral.

Berikut ini Mari kita renungkan Homili Bapa Kardinal:

Saudari-saudaraku yang terkasih, ketika kita dan seluruh umat manusia sedang mengalami kecemasan, karena wabah yang melanda seluruh dunia Gereja mengajak kita untuk merayakan pesta Bunda Maria menerima Kabar Sukacita. Kita berharap, kita yakin bahwa perayaan ini dapat menjadikan landasan harapan kita semakin kokoh.

Kita semua tahu, harapan kita, kita landaskan pada keyakinan iman, Allah yang telah memulai karya yang baik, akan menyelesaikannya juga. Dan atas dasar itu kita boleh berharap, kendati kita sekarang ini, bersama seluruh umat manusia sedang mengalami kegelisahan, pada waktunya nanti, berkat karya Tuhan dan usaha usaha kita untuk bekerjasama dengan Tuhan, keadaan ini akan menjadi baik kembali. Dalam hal ini kita boleh meneladan Bunda Maria, yang kisahnya, kita dengarkan dalam Injil tadi.

 25 Maret, Angelus, Bapa Kami, bapa suci, Bunda Maria, coronavirus pandemic, doa Angelus, Doa bersama, gereja katolik, Hari Raya Kabar Sukacita, Ignatius Kardinal Suharyo, katekese, komunitas Kristiani, Kristus yang bangkit, Paus Fransiskus, pope francis, Umat Kristiani

Kita bertanya siapakah Bunda Maria itu, sampai ia bisa berkata, Sesungguhnya aku ini Hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu. Jawabannya bisa sangat panjang, tetapi secara pendek kita bisa mengatakan begini: Maria bisa mengatakan seperti itu, karena Maria hidup dalam semangat atau dalam spiritualitas yang di dalam Kitab Suci disebut Spiritualitas Orang Miskin Yahweh. Sejarahnya Panjang; tetapi bolehlah kita; mengambil yang singkat; untuk menerima gambaran spiritualitas macam apa; yang dihayati Bunda Maria dan spiritualitas macam apa yang ingin kita contoh dari Bunda Maria.

Kita semua tahu, sejarah umat Allah Perjanjian Lama, berakhir dengan kehancuran. Dalam sejarah pada tahun 587 sebelum masehi Kerajaan Israel, umat Allah Perjanjian Lama dikalahkan dan mereka dibawa ke pembuangan yang disebut pembuangan Babilonia. Bisa dibayangkan hidup di dalam pembuangan itu seperti apa? Sejarah menunjukkan selanjutnya bahwa Kerajaan Babilonia dikalahkan oleh Kerajaan Persia dan Raja Persia pada waktu itu, 50 tahun kemudian memberi izin kepada umat Allah Perjanjian Lama yang dibuang untuk kembali ke tanah terjanji. Ternyata tidak semua umat Allah Perjanjian Lama, menggunakan kesempatan itu untuk kembali ke tanah terjanji.

Kelompok yang pertama merasa bahwa Allah yang mereka percaya, ternyata sudah dikalahkan oleh Allahnya orang Babilonia; Cara berpikir orang pada waktu itu, kalau dua bangsa berperang yang berperang adalah Allah mereka. Israel kalah. Maka Allahnya juga kalah, tidak ada gunanya lagi percaya kepada Allah yang kalah. Sebagian lain lagi berpikir bahwa dosa mereka sudah terlalu besar sehingga dihukum oleh Allah. Dan Allah tidak mengampuni kesalahan yang maha besar itu, mereka menjadi kelompok yang putus asa.

 25 Maret, Angelus, Bapa Kami, bapa suci, Bunda Maria, coronavirus pandemic, doa Angelus, Doa bersama, gereja katolik, Hari Raya Kabar Sukacita, Ignatius Kardinal Suharyo, katekese, komunitas Kristiani, Kristus yang bangkit, Paus Fransiskus, pope francis, Umat Kristiani

Kelompok lain lagi selama 50 tahun hidup di Babilonia, sudah lama ada, yang menjadi pengusaha besar ada yang menjadi penguasa Bupati dan sebagainya mereka berpikir untuk apalagi kembali ke tanah Palestina, ke tanah terjanji kalau mereka sudah hidup nyaman di tanah Babilonia itu. Tetapi ada satu kelompok kecil yaitu orang-orang yang tetap bertahan percaya kepada janji Allah, kepada mereka dianugerahkan tanah terjanji, sekarang mereka di pembuangan, tetapi janji Allah tidak pernah mereka lupakan. Kelompok kecil inilah yang akhirnya kembali membangun Palestina tanah terjanji itu dan membangun kenisah yang sudah hancur luluh rata dengan tanah. Mereka itu hidup berdasarkan janji Allah. Arus spiritualitas inilah yang kemudian diberi nama spiritualitas orang-orang miskin Yahweh. Dan Bunda Maria ada di dalam garis spiritualitas itu-Hidup itu berdasarkan harapan akan janji Allah.

Saudari saudaraku yang terkasih, kita semua tahu, Harapan tidak sama dengan optimisme. Optimisme itu adalah semangat yang didasarkan pada perhitungan-perhitungan manusiawi saja; menurut perhitungan saya sesudah 3 bulan, keadaan akan menjadi lebih baik. Tetapi kalau ternyata keadaan tidak menjadi lebih baik itu, optimisme itu hilang, yang muncul adalah pesimisme. Harapan adalah sesuatu yang sangat berbeda. Harapan itu landasanya adalah iman bahwa Allah yang telah memulai karya yang baik akan menyelesaikannya juga, juga kalau kita merasa seolah-olah Allah itu tidak peduli dengan umat manusia.

Saudari-saudaraku yang terkasih, spiritualitas semacam itu, yang dihayati oleh Bunda Maria, menjadi sangat penting bagi kita semua orang beriman, ketika kita berada di dalam situasi seperti sekarang ini. Kita berharap bahwa Allah yang telah memulai karya yang baik di antara kita,; pada waktunya nanti juga akan memulihkan keadaan kita; memulihkan keadaan umat manusia. Kita diajak untuk semakin teguh di dalam Harapan.

 25 Maret, Angelus, Bapa Kami, bapa suci, Bunda Maria, coronavirus pandemic, doa Angelus, Doa bersama, gereja katolik, Hari Raya Kabar Sukacita, Ignatius Kardinal Suharyo, katekese, komunitas Kristiani, Kristus yang bangkit, Paus Fransiskus, pope francis, Umat Kristiani

Yang terakhir kita bertanya; Apa artinya berharap kepada janji Allah itu? Apakah kita hanya diam saja sampai Allah sendiri kita bayangkan akan melakukan secara langsung campur tangannya di dalam sejarah umat manusia? Harapan Kita tidak seperti itu, ketika kita berharap, kepada kita dianugerahkan kekuatan yang dahsyat; untuk melakukan sesuatu bagi kebaikan Bersama.

Oleh karena itu, berharap; ketika kita dan seluruh umat manusia berada di dalam keadaan cemas; Berarti berani mengajukan pertanyaan ini; Apa yang harus kita lakukan, supaya keadaan kita sekarang ini, di tengah-tengah kecemasan yang melanda, menjadi semakin manusiawi. Bukan berbicara; bukan berpendapat; tetapi melakukan sesuatu. Itulah yang sedang dan terus dilakukan diusahakan oleh Gereja kita; oleh Paroki Paroki  kita di Keuskupan Agung Jakarta ini, dan saya yakin juga dilakukan oleh keuskupan-keuskupan dan Paroki-paroki di seluruh Indonesia.

Teman-teman kita, banyak yang bergerak di lapangan menjadi relawan. Kalau tidak menjadi relawan, melakukan sesuatu sekecil apapun; menyumbang, mengumpulkan dana bagi saudara-saudara kita yang paling terdampak di dalam situasi seperti ini; yang tidak bisa bekerja lagi; karena keadaan; yang berhadapan di garda depan menghadapi wabah yang mengerikan ini; Sekian banyak saudari-saudara kita, sudah, sedang dan terus melakukan hal-hal seperti itu; untuk mewujudkan harapan itu. Dengan kekuatan iman, tumbuh dalam harapan dan Ketika kita berharap, mau tidak mau, kita akan melakukan sesuatu sekecil apapun, agar kita merasa terlibat dan sungguh terlibat di dalam menjadikan situasi kita ini, menjadi semakin manusiawi.

Semoga pengalaman Iman, merayakan Kabar Sukacita bagi Bunda Maria dan bagi umat manusia menjadi kesempatan bagi kita, untuk membaca tanda zaman, merebaknya virus Corona 19 ini sebagai tantangan kemanusiaan dan tantangan iman. Semoga kita saling meneguhkan di dalam keadaan sulit ini, saling mendoakan, dan saling berbagi. Semoga dengan demikian keadaan yang mencemaskan ini, juga menjadi kesempatan bagi kita, untuk bertumbuh dalam iman pengharapan dan Kasih. Tuhan menjaga Kita keluarga; keluarga kita komunitas kita dan seluruh umat manusia. Dengan harapan ini marilah kita lanjutkan ibadah kita.

Sumber: Youtube Hidup TV

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close