BOOK REVIEW

Psikologi Dan Pendidikan Calon Imam

Dokumen Vatikan dari Congregazione per L'Educazione Cattolica untuk Pendidikan Calon Imam

Detail ..

Imam dan Milenium Ketiga

Buku ini berisi dokumen Gereja tentang Imam sebagai Guru Sabda, Pelayan Sakramen, dan Pemimpin Jemaat Kristen

Detail ..


PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI UNTUK PERAYAAN HARI PERDAMAIAN SEDUNIA 1 JANUARI 2006

02 Januari 2006 17:53

1. DALAM PESAN TRADISIONAL untuk Hari Perdamaian Sedunia pada awal Tahun Baru ini saya menyampaikan salam hangat dan ucapan selamat kepada semua orang di manapun juga, terutama kepada mereka yang mengalami penderitaan sebagai akibat kekerasan dan konflik bersenjata. Salam saya penuh dengan pengharapan untuk dunia yang lebih tenang, dunia di mana makin banyak orang dan komunitas melibatkan diri bagi keadilan dan perdamaian.

2. Pertama-tama saya ingin mengungkapkan syukur saya yang mendalam kepada para Pendahulu saya, Paus-paus yang agung, Paulus VI dan Yohanes Paulus II, yang rajin memajukan perdamaian. Dengan dibimbing semangat Sapta Bahagia mereka me-nangkap dalam banyak peristiwa historis yang menyertai pontifikat mereka campurtangan penyelenggaraan Allah, yang tak pernah berhenti prihatin atas masa depan umat manusia. Sebagai bentara Injil yang tak kenal lelah, mereka senantiasa meng-undang setiap orang untuk berpangkal pada Allah untuk upaya mereka demi kerukunan dan perdamaian di seluruh dunia. Amanat pertama saya bagi Hari Perdamaian Sedunia ini dimaksudkan untuk mengikuti jejak ajaran mereka yang luhur; Dengan itu saya ingin mengulangi tekad tetap Takhta Suci untuk meneruskan pengabdiannya bagi perdamaian.
Nama Benediktus yang saya pilih pada hari pemilihan saya ke Takhta Petrus, adalah tanda komitmen pribadi saya bagi perdamaian. Dengan memilih nama itu saya ingin mohon Santo Pelindung Eropa, yang mengilhami peradaban perdamaian di seluruh benua, dan Paus Benediktus XV yang menolak Perang Dunia Pertama sebagai “pembantaian yang sia-sia belaka”1 dan bekerja untuk pengakuan universal; tuntutan tinggi perdamaian.

3. Tema yang dipilih untuk refleksi pada tahun ini – Dalam kebenaran terletak perdamaian - mengungkapkan keyakinan bahwa di mana dan bilamana pun orang diterangi cahaya kebenaran, mereka dengan sendirinya melangkah di jalan perdamaian. Konsitusi Pastoral Gaudium et spes, yang dipromulgasikan 40 tahun yang lalu pada penutupan Konsili Vatikan II, menyatakan bahwa umat manusia tak akan berhasil “membangun dunia yang insani sejati bagi setiap orang, di manapun di bumi, kecuali semua orang dibarui dalam roh dan bertobat kepada kebenaran perdamaian”2. Namun apakah arti kata-kata “Kebenaran perdamaian” itu sesungguhnya? Untuk menjawab pertanyaan ini secara tuntas, kita harus sadar bahwa perdamaian tak bisa ditipiskan menjadi tiadanya konflik bersenjata, melainkan harus dipahami sebagai “buah tatanan yang ditanam dalam masyarakat oleh Pendiri ilahinya”, tatanan “yang harus diusahakan oleh umat manusia yang makin haus akan keadilan yang sempurna”3. Sebagai hasil tatanan yang direncanakan dan dikehendaki kasih Allah, perdamaian mempunyai kebenarannya sendiri yang tak terkalahkan, dan sesuai dengan “kerinduan yang tak tertahan dan pengharapan yang ada dalam diri kita”4.

4. Bila dilihat demikian, perdamaian nampak sebagai anugerah surgawi dan rahmat ilahi yang pada setiap tataran menuntut tanggungjawab tertinggi: yakni untuk menyesuai-kan sejarah umat manusia – dalam kebenaran, keadilan, kemerdekaan dan kasih – dengan tatanan ilahi. Dimana pun orang kurang setia akan tatanan yang mengatasi segalanya, dan orang kurang menghormati “tata bahasa” dialog yang adalah hukum moral universal yang tertulis dalam hati manusia5, bilamana pun perkembangan se-utuhnya pribadi manusia dan perlindungan hak-hak asasinya dihambat atau diingkari, bilamana pun orang-orang yang tak terbilang banyaknya dipaksa untuk menderita ke-tidakadilan dan ketidaksetaraan yang tak tertahankan, bagaimanakah kita dapat ber-harap bahwa perdamaian yang amat berharga itu akan diwujudkan? Unsur-unsur hakiki kebenaran yang mendasari nilai perdamaian itu tidak ada. Santo Agustinus melukiskan perdamaian sebagai tranquillitas ordinis6, ketenangan tatanan. Dengan itu dimaksudkannya keadaan yang memungkinkan kebenaran tentang manusia dihormati dan diwujudkan.

5. Siapakah dan apakah yang dapat menghalang-halangi kedatangan perdamaian? Kitab Suci, dalam buku pertama, Kitab Kejadian, menunjuk dusta yang dinyatakan pada awal sejarah oleh hewan dengan lidah mendua, yang disebut oleh Yohanes Penginjil “bapa dusta” (Yoh 8: 44). Berdusta adalah satu dari dosa yang diceritakan dalam bab terakhir Kitab terakir Kitab Suci, Kitab Wahyu, yang mengusir pendusta dari Yerusalem surgawi: “di luar.. ialah semua yang mencintai dusta” (22: 15). Berdusta dikaitkan dengan tragedi dosa dan akibatnya yang parah, yang mempunyai, dan tetap mempunyai akibat-akibat yang membinasakan hidup orang-orang dan bangsa-bangsa. Hendaknya kita ingat akan kejadian-kejadian abad yang lalu, ketika sistem-sistem ideologis dan politis yang sesat secara liar memerangi kebenaran dan menghasilkan eksploitasi dan pembunuhan jumlah tak terbilang orang-orang, melenyapkan semua keluarga dan komunitas. Sesudah pengalaman seperti itu, bagaimana mungkin kita gagal bersikap serius terhadap dusta di zaman kita, dusta yang merupakan kerangka adegan kematian yang mengancam di banyak bagian dunia. Setiap pencarian sejati perdamaian harus mulai dengan kesadaran bahwa soal kebenaran dan dusta menjadi keprihatinan setiap orang; hal itu amat menentukan masa depan damai planet kita.

6. Perdamaian adalah kerinduan kuat dalam hati setiap orang, lepas dari jatidiri budaya-nya. Maka dari itu setiap orang harus melibatkan diri dalam pengabdian perdamaian yang amat berharga ini dan berusaha mencegah setiap bentuk dusta, agar jangan meracuni hubungan-hubungan. Semua bangsa adalah anggota keluarga yang satu dan sama. Mengangkat perbedaan-perbedaan secara berlebihan bertentangan dengan kebenaran mendasar ini. Kita harus merebut kembali kesadaran bahwa kita mempunyai tujuan bersama yang pada akhirnya mengatasi segalanya, dan kita menerima perbe-daan historis dan kultural tidak dalam pertentangan, melainkan dalam kerjasama dengan orang-orang yang termasuk budaya lain. Kebenaran-kebenaran sederhana inilah yang memungkinkan perdamaian; kebenaran ini mudah dimengerti, bila kita mendengarkan hati kita dengan jujur. Dengan demikian pedamaian dilihat dalam cahaya baru: tidak sebagai tiadanya perang, melainkan sebagai hidup bersama para warga secara serasi dalam masyarakat yang diresapi keadilan di mana juga kesejahteraan se-tiap orang sebisa-bisanya diwujudkan. Kebenaran perdamaian memanggil setiap orang untuk membudayakan hubungan yang subur dan tulus ikhlas; dan membera-nikan mereka untuk mencari dan mengikuti jalan pengampunan dan rujuk kembali, untuk bersikap jujur dalam perundingan, dan setia melakukan apa yang telah dijanjikan. Secara khusus para pengikut Kristus yang mengetahui adanya keburukan yang menghadang dan kebutuhan akan pembebasan oleh Guru ilahi, penuh kepercayan berpaling kepada-Nya dalam pengetahuan bahwa “ia tak berbuiat dosa; dan tiada dusta di bibirnya” (1 Ptr 2: 22; bdk.Yes 53: 9). Yesus menyebut diri-Nya sendiri Kebenaran, dan, dalam berbicara dengan penglihat dalam Kitab Wahyu, ia menya-takan penolakan-Nya terhadap “setiap orang yang mencintai dan melakukan dusta” (Why 22: 15); Ia telah membuka kebenaran penuh tentang manusia dan sejarah umat manusia. Kekuasaan rahmatnya memungkinkan hidup “dalam” dan “dengan” kebenaran, karena ia sendiri seutuhnya benar dan setia. Yesuslah kebenaran yang memberi perdamaian.

7. Kebenaran perdamaian harus memancarkan sinarnya yang menyelamatkan juga di tengah tragedi peperangan. Para Bapa Konsili Vatikan II dalam Konsitusi Pastoral Gaudium et spes menunjukkan bahwa “tak setiap hal otomatis diperbolehkan antara pihak-pihak yang bermusuhan bila peperangan - yang harus disesalkan – mulai”7. Sebagai sarana untuk sebisa-bisanya membatasi akibat peperangan yang membina-sakan, terutama bagi penduduk sipil, komunitas internasional telah menciptakan undang-undang kemanusiaan internasional. Dalam aneka situasi dan pelbagai konstelasi, Takhta Suci telah mengungkapkan dukungannya bagi undang-undang kema-nusiaan ini, dan menyerukan agar undang-undang itu dihormati dan segera diwujud-kan, karena keyakinan bahwa kebenaran perdamaian ada juga di tengah peperangan. Undang-undang kemanusiaan internasional harus dipandang sebagai satu dari ungkapan terbaik dan paling efektif tuntutan intrinsik kebenaran perdamaian. Justru ka-rena itu hormat terhadap undang-undang itu harus dianggap mengikat semua bangsa. Nilainya harus dihargai dan pemenuhannya yang tepat dijamin; ia juga harus disesuaikan dengan keadaan sekarang dengan norma-norma yang dapat diterapkan pada skenario yang berubah dari konflik bersenjata dewasa ini dan penggunaan senjata yang paling baru dan paling mutakhir.

8. Di sini saya ingin menghaturkan terima kasih kepada organisasi-organisasi internasional dan kepada semua yang setiap hari melibatkan diri dalam aplikasi undang-undang kemanusiaan internasional. Dan saya juga tak lupa menyebut begitu banyak serdadu yang melibatkan diri dalam tugas peka mengatasi konflik dan memulihkan keadaan yang perlu untuk perdamaian. Saya ingin mengingatkan mereka akan kata-kata Konsili Vatikan II: “Semua yang menjadi tentera dalam mengabdi negerinya ha-rus melihat diri sendiri sebagai penjaga keamanan dan kemerdekaan sesamanya, dan, dengan melakukan tugas ini sebaik-baiknya, juga mereka memberi sumbangan bagi perdamaian”8. Pada front sulit ini Ordinariat Militer Gereja Katolik melaksanakan reksa pastoral: saya mendukung Ordinariat Militer dan para pastor militer untuk, da-lam setiap situasi dan konteks, berperan sebagai bentara setia kebenaran perdamaian.

9. Dewasa ini, kebenaran perdamaian terus dibahayakan dan ditolak oleh terorisme, yang ancaman kriminal dan serangannya menciptakan ketakutan dan ketidakamanan di dunia. Para Pendahulu saya Paulus VI dan Yohanes Paulus II seringkali menunjuk tanggung jawab mengerikan para teroris, seraya sekaligus menolak strategi mereka yang tak berperasaan dan mematikan. Ini seringkali merupakan buah nihilisme yang tragis dan meresahkan yang dilukiskan Paus Yohanes Paulus II sebagai berikut: “Mereka yang membunuh dengan tindakan terorisme membuat putus asa umat manusia, kehidupan dan masa depan. Dalam pandangan mereka segalanya harus dibenci dan dibinasakan”9. Bukan hanya nihilisme, melainkan juga fanatisme religius, yang dewasa ini juga disebut fundamentalisme, dapat mengilhami dan memberanikan pemikiran dan kegiatan kaum teroris. Sejak semula Yohanes Paulus II sadar akan bahaya eksplosif yang diwakili fundamentalisme fanatik dan ia menolaknya mentah-mentah, seraya mengingatkan melawan upaya memaksakan (dan bukannya hanya mengusulkan agar diterima dengan sukarela) keyakinan diri sendiri tentang kebenaran. Ia menulis: “Memaksakan kepada orang lain apa yang dianggap sebagai kebenaran, berarti, melanggar martabat manusia, dan akhirnya Allah sendiri yang mencipakan manusia menurut gambar-Nya”10

10. Bila dilihat lebih tepat, nihilisme dan fundamentalisme mempunyai hubungan salah dengan kebenaran: Penganut nihilisme mengingkari kebenaran, sedangkan penganut fundamentalisme mengira dapat memaksakannya dengan kekerasan. Kendatipun ber-beda asal-usulnya dan latar belakang budayanya, keduanya menunjukkan penghinaan yang membahayakan manusia dan hidup manusia, dan akhirnya menghina Allah sendiri. Hasil tragis bersama ini pada dasarnya timbul dari penjungkirbalikan kebenaran tentang Allah: nihilisme mengingkari eksistensi Allah dan penyelenggaraan-Nya dalam sejarah, sedangkan fundamentalisme fanatik merusak wajah-Nya yang penuh kasih dan kerahiman, menggantikannya dengan berhala yang mereka buat sendiri. Dalam menganalisa sebab-sebab gejala kontemporer terorisme, bukan hanya sebab-sebab politis dan sosialnya harus diperhatikan, melainkan juga motivasi kultural, religius dan ideologis yang lebih mendalam.

11. Mengingat risiko yang dihadapi umat manusia zaman kita, semua orang katolik di semua kawasan di dunia ini mempunyai kewajiban untuk lebih penuh mewartakan dan memberi kesaksian tentang “Kabar baik perdamaian”, dan menunjukkan bahwa pengakuan kebenaran sepenuhnya tentang Allah merupakan syarat pertama dan mutlak untuk meneguhkan kebenaran perdamaian. Allah adalah Kasih yang menyelamat-kan, Bapa penuh kasih sayang yang hendak melihat anak-anak-Nya saling memandang sebagai saudara-saudari, bekerjasama untuk mengerahkan aneka bakatnya bagi pengabdian kepentingan umum keluarga umat manusia. Allah adalah sumber harapan pasti yang memberi arti kepada hidup pribadi dan komunitas. Allah, dan hanya Allah, menyelesaikan setiap karya baik dan perdamaian. Sejarah membuktikan lebih dari cukup bahwa pertentangan melawan Allah untuk mengenyahkan-Nya dari hati manusia, hanya menakutkan dan memiskinkan umat manusia dan membawa ke jalan buntu. Hal ini harus mendorong kaum beriman kristiani untuk menjadi saksi-saksi Allah yang secara tak terpisahkan adalah kebenaran dan kasih, untuk melibatkan diri dalam pelayanan perdamaian dalam kerja sama luas dengan orang-orang kristiani lain, para penganut agama lain dan dengan semua orang yang berkehendak baik.

12. Bila melihat situasi dunia dewasa ini, kita dapat dengan puas mensinyalir beberapa tanda pengharapan dalam upaya membangun perdamaian. Saya misalnya memikirkan berkurangnya jumlah konflik bersenjata. Meskipun masih menyangkut beberapa lang-kah percobaan menuju jalan perdamaian, namun langkah-langkah itu menjanjikan masa depan yang lebih tenang, terutama bagi rakyat Palestina yang menderita; negeri Yesus, dan bagi mereka yang hidup di beberapa kawasan Afrika dan Asia, yang su-dah bertahun-tahun menantikan hasil positif jalan pendamaian dan rekonsiliasi. Ada tanda-tanda meneguhkan yang harus dikukuhkan dan dimantapkan dengan kerjasama dan kegiatan tanpa lelah, terutama pada pihak komunitas internasional dan organ-organnya yang bertugas mencegah konflik dan mengusahakan solusi damai bagi mereka yang terlibat.

13. Namun segala itu tak boleh menimbulkan optimisme yang naif. Tak boleh dilupakan bahwa secara tragis konflik kekerasan antarsaudara dan peperangan yang membinasakan masih terus menyebarluaskan air mata dan kematian di kawasan-kawasan luas dunia. Ada situasi di mana konflik, bagaikan api dalam sekam, dapat berkobar lagi dan menimbulkan kehancuran besar. Otoritas-otoritas yang bukannya mengusahakan perdamaian, melainkan menghasut warganya untuk permusuhan melawan bangsa lain, memikul beban berat tanggungjawab: di daerah-daerah rawan konflik. Mereka membahayakan keseimbangan yang rapuh yang diperoleh dengan negosiasi yang sabar dan dengan demikian mereka membuat masa depan umat manusia men-jadi tidak pasti dan mengancam. Apakah yang dapat dikatakan tentang pemerintah yang mengandalkan senjata nuklir sebagai cara untuk menjamin keamanan negara mereka? Bersama dengan banyak orang yang berkehendak baik dapat dikatakan bahwa sudut pandangan ini tak hanya mematikan, melainkan juga sama sekali keliru. Dalam perang nuklir tak ada pemenang, melainkan hanya kurban. Kebenaran perda-maian menuntut agar semua – apakah pemerintah yang terbuka atau diam-diam memiliki senjata nuklir, atau merencanakan memperolehnya - setuju untuk mengubah haluan dengan keputusan jelas dan tegas, dan mengusahakan perlucutan senjata nuklir langkah demi langkah dan bersama-sama. Sumber dana yang tersedia dapat dipergunakan untuk proyek pengembangan yang menguntungkan semua bangsa, terutama yang miskin.

14. Sehubungan dengan ini hanya dapat dicatat dengan rasa muak bahwa pengeluaran dana untuk militer jelas terus meningkat dan perdagangan senjata berkembang, sementara proses politis dan yuridis yang diupayakan komunitas internasional untuk memajukan perlucutan senjata dibuang ke dalam kubangan sikap umum yang tak peduli. Bagaimana mungkin ada masa depan perdamaian bila masih ditanam modal ke dalam produksi senjata dan ke dalam penelitian untuk mengembangkan yang baru? Hanya dapat diharapkan agar komunitas internasional mendapatkan kebijaksanaan dan keberanian untuk sekali lagi bersama-sama dan dengan keyakinan yang dibarui, mengangkat proses perlucutan senjata, dan dengan demikian secara konkret menja-min hak atas perdamaian yang dinikmati setiap orang dan setiap bangsa. Dengan komitmen menjamin perdamaian, pelbagai organ komunitas internasional akan mem-peroleh otoritas yang mereka perlukan untuk membuat prakarsa mereka meyakinkan dan efektif.

15. Pihak pertama yang mendapat keuntungan dari pilihan yang menentukan bagi perlucutan senjata ialah negara-negara miskin, yang selayaknya menuntut, setelah mendengar begitu banyak janji, implementasi konkret hak mereka atas perkembangan. Hak itu secara meriah telah dikukuhkan dalam Sidang Umum PBB yang baru lalu, yang pada tahun ini merayakan ulang tahun pendiriannya ke 60. Gereja Katolik, seraya meneguhkan kepercayaannya pada badan internasional ini, menyerukan pembaruan institusional dan operasional yang memberdayakannya untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan yang telah berubah pada zaman ini, dan diwarnai gejala luas globalisasi. PBB harus menjadi sarana lebih efisien untuk memajukan nilai-nilai keadilan, solidaritas dan perdamaian di dunia. Pada gilirannya Gereja yang setia pada perutusan yang diterima dari Pendirinya, mempunyai komitmen untuk di mana-mana mewartakan “Kabar baik perdamaian”. Dalam keyakinan teguh bahwa ia memberikan pelayanan yang perlu kepada semua yang memajukan perdamaian, ia mengingatkan setiap orang bahwa, bila perdamaian harus sejati dan berlangsung tetap, ia harus dibangun di atas wadas kebenaran tentang Allah dan manusia. Hanya kebenaran ini dapat menciptakan kepekaan akan keadilan dan keterbukaan akan kasih dan solidaritas, seraya memberanikan setiap orang untuk bekerja bagi keluarga umat manusia yang bebas dan serasi sejati. Dasar perdamaian sejati terletak pada kebenaran tentang Allah dan manusia.

16. Pada akhir pesan ini, saya ingin menyampaikan kata khusus kepada semua penganut Kristus, seraya mengundang mereka sekali lagi untuk menjadi murid Tuhan yang rajin dan murah hati. Bila kita mendengar Injil, saudara-saudara yang terkasih, kita belajar membangun perdamaian di atas kebenaran hidup sehari-hari yang diilhami perintah kasih. Setiap komunitas harus menjalani proses pendidikan yang luas dan menjadi saksi untuk membuat setiap orang lebih menyadari kebutuhan akan penghargaan lebih penuh terhadap kebenaran perdamaian. Sekaligus saya minta peningkatan doa, karena perdamaian terutama adalah anugerah Allah, anugerah yang harus dimohon tak kunjung henti. Dengan bantuan Allah, pewartaan dan kesaksian kita mengenai kebenaran perdamaian akan menjadi lebih meyakinkan dan menerangi. Dengan kepercayaan dan sikap pasrah keputraan marilah kita memandang Maria, Bunda Pangeran Perdamaian. Pada awal tahun baru ini marilah kita mohon dia untuk membantu seluruh umat Allah, di manapun mereka berada, untuk bekerja bagi perdamaian dan untuk dibimbing cahaya kebenaran yang memerdekakan (bdk.Yoh 8: 32). Melalui pengantaraan Maria semoga seluruh umat manusia tumbuh dalam penghargaan terhadap nilai dasar ini dan berusaha makin menghadirkannya dalam dunia kita, dan, dengan demikian, mempersembahkan masa depan yang lebih aman dan lebih tenang kepada generasi mendatang.

Dari Vatikan, 8 Desember 2005-12-22

Paus Benediktus XVI



1 Imbauan kepada para Kepala Bangsa-bangsa yang berperang (a Agustus 1917): AAS 9 (1917), 423.
2 No.77
3 Ibid.78
4 Yohanes Paulus II, Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2004, 9.
5 Bdk.Yohanes Paulus II, Amanat kepada Sidang Umum ke-15 PBB (5 Oktober 1995), No.3
6 De Civitate Dei, XIX, 13.
7 No.79
8 Ibid.
9 Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2002, 6
10 Ibid.

Viewed: 3609 ; Printed: 597


~~ arsip ~~