BOOK REVIEW

Panggilan Menjadi Formator Seminari

Referensi buku menjadi formator seminari dari Komisi Seminari KWI

Detail ..

WAWANCARA – 'KARYA SOSIAL EKONOMI GEREJA DIWUJUDKAN DALAM BENTUK KERJA NYATA'

19 Januari 2007 14:46

 WAIKABUBAK, NTT (UCAN) -- Imam yang memimpin kerasulan sosial ekonomi Gereja di Pulau Sumba mengatakan, umatnya tidak seharusnya miskin jika mereka mengembangkan ketrampilan dan belajar bagaimana memanfaatkan sumber daya pulau tersebut.

 Pastor Cyprianus Menti Leyn CSsR, juga vikjen Keuskupan Weetebula, yang mencakup pulau bagian tenggara itu, mengatakan bahwa situasi sosial ekonomi yang  kurang berkembang mendorong Gereja untuk berupaya guna mendukung kesejahteraan ekonomi masyarakat.

 Sumba adalah satu dari pulau-pulau besar di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Propinsi ini memiliki perkebunan tropis, dan nampaknya tandus dan kurang subur khususnya antara Juni dan November, musim kemarau. Namun, Pastor Leyn mengatakan bahwa tanah itu produktif jika diairi.

 Sebanyak 95 persen dari 600.000 lebih masyarakat Sumba adalah petani dan peternak. Menurut imam itu, sebagian besar dari masyarakat masih miskin karena ketidaktahuan dan cara-cara bertani dan beternak yang tidak produktif, dan pesta-pesta tradisional yang boros dan memakan waktu.

 Menurut data Gereja lokal 2003, Sumba memiliki hampir 260.000 umat Protestan, 200.000 penganut Marapu (agama asli), 120.000 umat Katolik, dan 20.000 umat Islam.

 Pastor Leyn berbicara dengan UCA News di akhir 2006 di Waikabubak, pusat pemerintahan Kabupaten Sumba Barat, 33 kilometer tenggara Weetebula.

 

Berikut ini wawancaranya:

 

UCA NEWS: Mengapa Gereja lokal terlibat dalam karya sosial-ekonomi?

 

 PASTOR CYPRIANUS MENTI LEYN: Masyarakat Sumba sangat kaya secara potensial, tapi mereka tidak menyadarinya. Tanah di Sumba Barat itu sangat subur. Meskipun Sumba Timur kelihatan tandus di musim kemarau, tetapi kalau tanah ini diairi sangat subur dan cocok sekali untuk peternakan. Saya yakin, situasi sosial ekonomi masyarakat Sumba akan membaik jika kita menyadarkan mereka akan potensi alam, memberi mereka pelatihan yang tepat dan mendorong mereka untuk mengolah lahan mereka dengan baik.

 

Bidang-bidang apa saja yang Anda kembangkan?

 

 Kami fokus pada dua bidang utama: pertanian dan perkreditan. Kami juga memberi latihan ketrampilan seperti pertukangan, perikanan, dan kerajinan tangan atau industri kecil.

 Di bidang pertanian, kami pertama-tama menyadarkan masyarakat tentang manfaat bertani cara baru yakni terasering, dan mengajarkan mereka cara melakukannya. Lalu kami mengusahakan bibit-bibit mulai dari kacang, jagung, dan padi sampai anakan tanaman umur panjang seperti jambu mente, coklat, dan vanila. Sekarang ini, tanaman-tanaman ini bisa ditemukan di kebun milik masyarakat.

 Kami bekerja sama dengan pemerintah, yang mensuplai bibit dan anakan tanaman, dan juga anggota staf untuk mendukung tim keuskupan dalam memberikan informasi.

 Komisi Sosial Ekonomi keuskupan punya sebuah pusat latihan di Waikabubak yang membuka sejumlah kursus yang mengajarkan masyarakat tentang cara membuat pupuk, cara memupuk tanaman, dan cara memelihara dan mengolah hasil tanaman. Pusat ini juga melatih masyarakat dalam membuat genting dan ubin, dan peralatan pertanian seperti parang dan pacul.

 

Mengapa Anda memasukkan program perkreditan?

 

 Kami sadar bahwa bekerja tanpa modal itu omong kosong. Masyarakat tidak bisa berpartisipasi dalam program pengembangan jika mereka tidak punya uang. Maka kami himpun masyarakat, tanpa membedakan agama, untuk membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB). Banyak anggota KUB adalah umat Protestan dan penganut Marapu. Ini cikal bakal Credit Union (CU).

 Sekarang ini CU ada di mana-mana. Melalui CU, modal berupa uang terkumpul. CU yang dikelola oleh Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi memiliki cabang di beberapa paroki untuk melayani para anggota di desa-desa. Komisi ini mengirim sebuah tim khusus untuk memberi tahu warga desa tentang manfaat CU dan mendorong mereka untuk menabung.

 Di desa-desa kami adakan KUB untuk ibu-ibu dan putri-putri putus sekolah. Tim keuskupan mengunjungi dan melatih menenun dan memasak, memberikan informasi tentang kurang gizi, dan mendorong mereka untuk menabung melalui CU.

 Warga desa merasakan manfaat KUB. Melalui gotong-royong yang merupakan tradisi masyarakat, mereka bersama-sama membuat terasering, membuat pagar, dan memetik hasil. Dari CU, para anggota bisa meminjam uang untuk mendukung usaha mereka seperti pertukangan, kerajinan tangan atau terlibat dalam industri kecil seperti tenun.

 

Dari mana Anda mendapatkan dana untuk program-program pelatihan dan proyek-proyek lainnya?

 

 Lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam negeri dan luar negeri mendukung kegiatan-kegiatan pelatihan kami.

 

Bagaimana masyarakat merasakan manfaat secara ekonomi dari karya Anda?

 

 Situasi ekonomi masyarakat semakin membaik. Mereka sudah bisa memanen dan menjual jambu mente. Dengan penghasilan yang lebih baik, keluarga-keluarga bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka seperti makanan dan pakaian. Bahkan banyak yang bisa menyekolahkan anak-anaknya dan memperbaiki rumah.

 Pemerintah daerah berterima kasih kepada Gereja atas pelayanan sosial ekonomi yang telah meningkatkan situasi ekonomi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat, serta menghidupkan sektor perdagangan.

 Kami, bersama masyarakat, juga mengusahakan program air minum sampai ke desa-desa. Masyarakat senang sekali dengan program “pipanisasi” ini karena sekarang mereka tidak susah mencari air bersih di tempat yang jauh. Rumah warga desa menjadi bersih, dan anak-anak semakin sehat.

 

Apakah Anda melihat hubungan yang erat antara karya sosial ekonomi dan pelayanan pastoral?

 

 Ya. Kami melayani kelompok masyarakat yang sama. Umat Katolik dalam KUB menjadi anggota Kelompok Basis Gerejani. Kami dari komisi sosial ekonomi mengunjungi kelompok itu untuk pelayanan sosial ekonomi, sementara komisi-komisi keuskupan lainnya -- kateketik, Kitab Suci, liturgi -- mengunjungi dan melayani kelompok yang sama dengan program-program mereka sendiri.

 Pewartaan Injil menjadi lebih hidup karena komisi sosial ekonomi mewujudkan dalam bentuk kerja nyata apa yang diwartakan oleh Komisi Kateketik, Komisi Kitab Suci, dan Komisi Liturgi.

 

Pernahkah karya Anda memberi manfaat lain?

 

 Saya sudah agak lama bekerja sebagai delegasi sosial. Belasan tahun. Berkat pelayanan ini, saya mempunyai banyak teman –- baik Katolik maupun non-Katolik. Banyak juga orang Marapu yang menjadi teman saya. Melalui karya ini, banyak orang Marapu menjadi Katolik. Sekarang ini banyak remaja putra dan putri Marapu yang belajar agama Katolik di pusat latihan kami. Jumlah umat Katolik bertambah melalui karya sosial ekonomi.

 

Bagaimana para tokoh agama Protestan dan Marapu melihat hal ini?

 

 Kami tidak melihat masalah besar dalam hal hubungan kami dengan Gereja Protestan atau para tokoh Marapu, karena kami hanya bergerak di bidang penyadaran dan pemberdayaan di bidang sosial ekonomi. Masyarakat sudah pintar dan tidak mudah terprovokasi dengan isu agama.

 Banyak anggota KUB dan CU kami terdiri atas umat Protestan dan Marapu. Kalau ada yang mau menjadi Katolik, kami serahkan kepada tim katekese.

 

Anda adalah delegasi sosial dan vikjen. Bagaimana orang lain melihat Anda?

 

 Kadang-kadang agak lucu. Saya mewakili uskup menghadiri acara gerejani di paroki atau stasi sebagai vikjen, tapi orang lebih melihat saya sebagai delegasi sosial. Ya, dua-duanya sama saja bagi saya. Itulah yang dinamakan pastoral integral dan holistik yang menggembalakan umat secara menyeluruh, baik jasmani maupun rohani.

 

Sejauh ini apakah Anda merasa senang dengan karya sosial ekonomi Gereja lokal?

 

 Oh, senang sekali. Saya senang karena di desa-desa saya ada teman; dan hampir tidak ada lawan. Karya sosial ekonomi ini bukan dari saya dan untuk saya, tapi dari masyarakat dan untuk masyarakat. Atas dasar inilah pihak pemerintah dan Gereja Protestan di Sumba serta para tokoh Marapu menyegani saya.

 Namun, di beberapa tempat masyarakat masih belum menerima pelayanan kami. Saya kira ini karena ketidaktahuan mereka akan karya kami. Tetapi kami berusaha untuk mengatasi dan mencari jalan keluar.

-END-

IS01720.521b     16 Januari 2007     140 baris     (Tanpa hitungan kata)

berita dari UCANews.com

Viewed: 1316 ; Printed: 527


~~ arsip ~~