
Kamis, 15 Mei 2008
Renungan
OBOR adalah nama yang diberikan bagi lembaga penerbitan dan toko rohani milik KWI di Jakarta. Dari namanya, kiranya jelas apa yang diharapkan oleh para Uskup terhadapnya. Di mana-mana, obor selalu dipakai sebagai penerang dalam kegelapan. Obor memancarkan cahaya (yang besar) yang sinarnya menyebar ke mana-mana.
Nama menunjukkan identitas, jati diri seseorang atau suatu lembaga. Nama diberikan kepada seseorang atau sesuatu tentunya bukan dengan asal-asalan karena di balik nama itu terkandung sebuah harapan untuk diwujudnyatakan. Mengapa dinamai OBOR? Mengapa dinamai Kristiana? Mengapa dinamai Felix? Mengapa dinamai Suseno? Ada juga orang yang (terpaksa) mengganti namanya karena merasa tidak cocok atau tidak pantas dengan kepribadiannya.
Menyebut diri sebagai orang Kristen berarti mengakui bahwa dirinya adalah pengikut Kristus, mengakui bahwa dirinya adalah imitasi Kristus. Di dalam dirinya, orang dapat melihat Kristus. Keren, bukan? Kalau kita mengaku diri sebagai pengikut-Nya dan mengakui bahwa Dia adalah Sang Mesias, siapkah kita juga seperti Dia: menanggung banyak penderitaan, ditolak, atau bahkan dibunuh?
Yesus, ajarilah aku, sebagaimana Engkau ajarkan kepada Santo Petrus, bagaimana caranya menjadi pengikut-Mu. Amin.
[Ziarah Batin 2008, Renungan dan Catatan Harian]