Mirifica e-news (http://www.mirifica.net)
25 Februari 2005 08:32

Pemimpin Buddha Kagum Terhadap Upaya Inkulturasi Gereja Katolik


JAKARTA (UCAN) -- Seorang pemimpin agama Buddha memuji upaya Gereja Katolik dalam mengadaptasikan budaya dan tradisi lokal.

"Sebagai seorang pemimpin dan tokoh agama Buddha, saya melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana para pemimpin Gereja Katolik berusaha menanamkan dan mewartakan ajaran iman akan Kristus lewat bahasa daerah dan berbagai ritual. Ritual-ritual ini sesuai dengan kaidah agama Katolik," kata Yang Mulia Dutavira Mahasthavira kepada UCA News baru-baru ini. Ia adalah Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Majelis Agama Buddha Mahayana Tanah Suci Indonesia. 

"Terus terang saya kagum terhadap Gereja Katolik yang mengakomodir budaya dan nilai-nilai tradisional suatu bangsa. Suatu agama hanya bisa berkembang baik di suatu bangsa jika ajaran-ajarannya diadaptasi ke dalam nilai-nilai budaya masyarakat lokal," kata pemimpin Vihara Avalokitesvara di Mangga Besar, Jakarta Barat, itu.

Ia menyampaikan komentarnya pada sebuah perayaan (Buddha) Tahun Baru Imlek yang dihadiri beberapa umat Katolik.

Suhu Benny, nama panggilannya, secara khusus menyinggung soal Misa Imlek, yang dirayakan setiap tahun dalam bahasa Mandarin di Paroki St. Petrus dan Paulus di Mangga Besar dan Paroki St. Maria de Fatima di Toasebio -- keduanya di Jakarta Barat. 

"Saya tahu, sebelumnya liturgi Katolik hanya menggunakan bahasa Latin, tapi sekarang liturgi Katolik dan Kitab Suci tidak hanya dalam Bahasa Indonesia tapi juga dalam bahasa daerah. Misa Imlek, misalnya, juga menggunakan 'hio' (dupa Cina), buah-buahan, makanan, dan berbagai jenis wewangian," katanya.

Selain Misa-Misa Imlek di kedua gereja di Jakarta Barat tersebut, ia juga menyinggung perayaan Misa yang sesuai dengan kebudayaan dan tradisi Jawa oleh umat Katolik Jawa di Yogyakarta. "Maka wajar jika ajaran iman akan Kristus bertumbuh dan berkembang di negeri ini," katanya.

Adaptasi membantu umat Katolik memahami dan menghayati iman mereka, kata Suhu Benny. Tanpa adaptasi, lanjutnya, agama akan mengalami kekurangan besar "karena budaya dan tradisi lokal membentuk warisan yang menyatukan masyarakat."

Ia mengakui bahwa pengalaman dan pengetahuannya tentang Gereja Katolik disebabkan oleh hubungan baik dengan Pastor Augustinus Lie CDD, Kepala Paroki St. Petrus dan Paulus. "Kami bekerja sama menjaga kerukunan agama," kata biksu itu.

Ia juga menyebut contoh perkawinan campur yang harmonis. "Suami beragama Katolik, sedangkan istri beragama Buddha. Ketika istri sedang berdoa di vihara, suami menunggu dia. Ketika suami menghadiri Misa, istri menunggu dia di gereja," katanya.

Suhu Benny mengatakan kepada UCA News, ia menganjurkan seorang imam di Paroki Mangga Besar untuk mempelajari bahasa Mandarin untuk melayani umat keturunan Cina, khususnya sejumlah besar umat yang sudah tua, yang tidak bisa berbicara bahasa Indonesia. "Sekarang imam tersebut berada di Beijing untuk belajar bahasa itu," katanya.

Mei Hoa, seorang ibu tiga anak, mengatakan kepada UCA News 9 Februari, ia memilih menjadi Katolik "karena liturgi Katolik mirip dengan perayaan tradisi orang Cina." Umat keturunan Cina dari Paroki Trinitas di Cengkareng, Jakarta Barat, itu menambahkan, sikap universal dari Gereja Katolik adalah menghindari egoisme dan terbuka kepada sesama.

-END- 

IJ7759.422b 23 Februari 2005 48 baris (449 kata)


berita dari UCANews