Mirifica e-news (http://www.mirifica.net)
11 Juli 2005 15:47

Oleh-oleh dari Bangkok: Kongres Panggilan Untuk Asia

'Be Not Afraid'

(BANGKOK 23-27 Juni 05, Thailand) -- Jika tetangga mengatakan memiliki ‘jambu bangkok’, ‘ayam bangkok’ atau ‘durian bangkok’ yang ada di benak kita adalah sebuah produk biasa tetapi luar biasa, karena lebih besar, lebih enak dan lebih mahal juga. Judul inipun dapat ditafsirkan demikian mengingat pengalaman selama kongres ini ‘lebih dari biasa’, penuh kwalitas di samping memang kwantitasnya besar. Pertemuan akbar ini dihadiri 3 kardinal, 20 uskup [2 dari Indonesia], 132 imam, 53 religius dan 756 anggota Serra International. Jumlah total 964 peserta dengan 612 anggota koor/penari/orkestra. Perhelatan ini dilaksanakan di Sofitel Hotel dan Bangkok Convention Centre.

1. 63rd Serra International Convention
1.1. Sejarah dan tujuannya
Sesungguhnya gawai yang terjadi adalah Pertemuan Serra International yang ke 63 dan yang pertama kalinya diadakan di Asia. Serra International adalah sebuah badan internasional yang lahir di Seattle AS, 1934, dari 4 orang awam yang ingin mencapai kepenuhan panggilan imannya lewat kerasulan ‘to assist in the education of young men to the priesthood’. Upaya ini adalah juga untuk menanggapi undangan Yesus Mat 9:38: Mintalah kepada tuan yang empunya panenan.
Pada tahun 1951, Serra International masuk bergabung di bawah Pontifical Society for Priestly Vocations yang berkantor di Roma, di bawah Kongregasi Suci untuk Pendidikan. Pada tahun 1968, Serra lebih memfokuskan diri lagi untuk memajukan dan mempromosikan panggilan imam dan juga hidup religius. Serentak memajukan penghayatan kekatolikan para anggotanya agar melalui kerasulan ini mencapai kepenuhan panggilannya sebagai orang Katolik, sebagaimana didasarkan pada sakramen baptis.
Cukup mengejutkan bahwa kesadaran ini malah lahir di sebuah daerah Washington, yang mestinya seminarinya tidak amat sangat mengalami kekurangan calon dan dana seperti yang dialami di sebuah negara ke 3.

1.2. Kegiatannya

a. Called by name : mencari dan mengarahkan mereka yang merasa ‘dipanggil’ menjadi calon imam atau religius.

b. Klub 31 : seorang anggota Serra berkewajiban memilih salah satu hari dalam sebulan di mana ia akan mengikuti perayaan ekaristi dan mendoakan para imam, calon imam, dan benih-benih panggilan baru.

c. Putra-putri Altar : kelompok Serra membantu dan mendampingi anak-anak yang menjadi putra-putri altar; bantuan dalam organisasi maupun dalam animasi dan motivasi serta panggilan imam/religius.

d. Kelompok Pramuka : mendampingi para anggota pramuka dan menuntun mereka untuk lebih berani trampil dan siap melayani orang lebih banyak, lebih jauh, secara lebih penuh, serentak lebih berani melayani Tuhan/gereja sebagai imam/religius.

e. Promosi panggilan tingkat paroki/keuskupan : beruapaya mengumpulkan, menyebarkan materi animasi bagi promosi panggilan di paroki. Menjadikan paroki sumber panggilan.

f. Retret panggilan hidup : Serra menyelenggarakan retret bagi yang berminat pada panggilan bagi yang hidup single dan tertarik akan hidup panggilan. Peserta diajak bermenung tapi juga berbicara tentang panggilannya. Pendampingan juga berlanjut sesudah retret.

g. Pekan Eksplorasi buat Pria dan Wanita. Secara terpisah anak pria dan wanita diberi kesempatan khusus untuk lebih mengeksplorasi minat, rencana, panggilan hidup mereka. Apa arti hidup? Apa saja bentuk hidup?

h. Kerasulan Doa: program doa sangat dianjurkan dan dipraktekkan baik dalam tingkat pribadi, kelompok, komunitas bahkan tingkat gereja/paroki. Kesempatan-kesempatan berdoa diciptakan sebanyak mungkin dan melibatkan sebanyak mungkin orang.

Di dalam klub sendiri, para anggota berkumpul minimal sekali sebulan, selalu dengan acara pokok : get together/snack, doa, pembinaan, masalah-masalah Serra, rencana ke depan, doa dan berkat penutup. Saat ini terdapat 773 club dengan 20,000 anggota tersebar di 40 negara, termasuk 9 negara Asia. Setiap club memiliki seorang imam sebagai ‘chaplain’ dan setiap keuskupan memiliki seorang imam sebagai ‘moderator’, begitu juga untuk tingkat internasional.

2. 4th Continental Congress on Vocation for Asia

Pertemuan Serra Internasional ini sekaligus menyelenggarakan Kongres Panggilan Internasional yang ke 4 dan juga untuk pertama kalinya dilakukan di Asia dan untuk panggilan di Asia.. Kongres pertama di Brazilia, 1994, kemudian di Roma pada 1997 dan Canada pada tahun 2002. Tujuan kongres panggilan untuk Asia ini antara lain : memahami bersama tantangan panggilan di zaman modern ini; mengupayakan suatu promosi panggilan imam dan hidup membiara; sharing pengalaman suka duka pengembangan panggilan. Mendiskusikan trend-trend tepat guna dalam formasi dewasa ini. Melihat kemungkinan menjembatani jurang antara banyaknya panggilan serta ketidakmampuan mendukung pembinaan panggilan. Melihat kemungkinan kerjasama lebih baik dengan Serra International.

Kongres masal ini dihadiri oleh hampir 1000 peserta aktif dan didominasi kaum awam anggota Serra International. Peserta dengan ‘latar belakang’ panggilan imam dan religius untuk Asia sendiri terasa ‘kurang’ dan umumnya yang datang adalah imam atau promotor panggilan yang sudah mempunyai hubungan dengan Serra.

Kongres ini lebih banyak ditandai dengan kuliah-kuliah umum, entah melalui khotbah, melalui ceramah dan sedikit kesempatan untuk sharing apalagi diskusi terbuka dan terarah bagi panggilan di Asia. Kendati demikian, beberapa ‘oleh-oleh dari Bangkok’ akan kami sharingkan lewat beberapa capita selecta berikut ini.

3. Kardinal Zenon Crocholewski, Prefek Kongregasi Suci untuk Pendidikan

Kardinal Zenon mengutip Yohanes Paulus II yang 10 tahun lalu di Manila, menyapa Asia sebagai benua yang penuh harapan dan bahwa millennium ke 3 ini harus menjadi millennium kebangkitan misi di Asia. Sambil memuji segala kebaikan Asia yang religius, kontemplatif, yang mencintai hidup harmoni dan tanpa kekerasan, Kardinal toh menyebutkan bahwa Asia telah penuh konflik dan intoleransi bahkan banyak orang kehilangan hidup.

Mengutip tema umum kongres ‘jangan takut’, Kardinal toh berpesan agar Asia tidak takut, tidak usah merasa lelah, sebaliknya setia pada iman akan Kristus. Mengutip Benedictus XVI, ia menandaskan: Kristus tidak mengambil apapun dari kita sebaliknya Ia memberikan segalanya; bukalah pintu hatimu dan temukanlah Dia. Asia, jangan takut, untuk melaksanakan panggilan dan tugasnya mewartakan Kristus di Asia.

Demi terjaminnya evangelisasi dan pewartaan maka imam adalah perlu. Tanpa imam evangelisasi berhenti. Maka, pentinglah pembinaan para calon imam : dengan binaan yang sehat secara spiritual dan teologis; penuh dedikasi dan antosias dalam mengikuti Kristus. Asia membutuhkan imam yang gembira, bahagia, yang ekaristis, yang rajin dalam karya pastoral. Hidup mereka lalu akan menjadi ‘pemicu panggilan baru’.

Kardinal menyapa mereka semua yang bertanggung jawab atas panggilan. Pertama-tama para uskup adalah penanggung jawab adanya panggilan. Sangat pentinglah pemilihan mereka yang menjadi formator. Uskup perlu memiliki hubungan pribadi dengan setiap seminarisnya, calon imamnya. Mengajar mereka memiliki cinta dan dan tanggung jawab akan gereja. Uskup adalah ‘padre vero’ para calon imam. Uskup perlu mengetahui otentisitas motivasi panggilan imamnya sebelum ditahbiskan. Adalah tanggung jawab uskup menyiapkan dan mendapatkan ‘the right persons for priestly ordination..’

Peran Keluarga : keluarga adalah tempat di mana panggilan lahir, dikenal dan dipelihara. Keluarga adalah ‘sekolah’ menjadi imam: sekolah pengurbanan, cinta, pemberian diri, doa dan pelayanan. Di sinilah kaum awam harus ikut terlibat mencari, memelihara dan menumbuhkan benih panggilan. Gereja juga bertanggung jawab menjaga dan memperjuangkan imamat para imam gereja. Karena itu kaum awam juga harus memperhatikan bahwa sekolah-sekolah memiliki pendidikan katolik yang baik dan dari sana muncul juga benih-benih panggilan.

Last but not least, setiap keuskupan harus memiliki ‘plan of vocational planning’, harus ada program dan penanggung jawab untuk promosi panggilan.

Kardinal menghimbau Gereja Asia memandang benua mahaluasnya dan saling membantu bersama semua pemerhati panggilan agar benih sabda Tuhan benih panggilan tumbuh dan membawa kabar gembira ke seluruh Asia dan dunia. Jangan takut, pesannya!

4. Intermezzo : beberapa catatan pinggir panggilan

Rm. Francis Boncini, direktur Pontifical Work for Priestly Vocation dari Roma mengawali pertemuan antar para promotor panggilan dengan mengajak para peserta untuk ‘duc in altum’ dalam menebarkan jala panggilan.

Kemudian, Rm. Kiely SJ, dosen moral dari Universitas Gregoriana memberikan pengamatan atas dasar studi dan tugasnya di Roma mengenai kenyataan panggilan dewasa ini. Ia menyebutkan adanya krisis nilai sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi hidup para imam. Ada sebuah devaluasi keutamaan kristiani. Obedience, poverty, prayer tidak lagi menarik untuk dihayati. Orang berpikir dan berbuat sesuai kemauannya, kesukaannya saja. Budaya baru ini melanda para calon imam pula. Hal ini semakin parah karena banyak calon imam tidak lagi berasal dari budaya Katolik yang kokoh. Gambaran imamat pun turut berubah. Sambil mengutip sebuah riset di Afrika, imamat lebih dilihat sebagai upaya pemerolehan status sosial dengan tawaran : kekayaan/kepunyaan, akses kepada wanita dan kekuasaan. Ia mengingatkan agar dalam formasi para calon imam, jangan sampai dianggap bahwa nilai-nilai kekristenan dan imamat sudah jadi dengan sendirinya dalam diri para calon. Ia mengingatkan bahwa situasi atau budaya dan lingkungan zaman ini ditambah kerapuhan manusiawi sang calon mengakibatkan formasi menjadi amat penting, genting dan sulit.

Selanjutnya Rm Edward Burns yang adalah sekretaris eksekutif panggilan untuk konferensi waligereja Amerika Serikat memberitahukan bagaimana panggilan di AS sangat terpukul oleh skandal seks yang barusan menimpa gereja. Kendati demikian, mereka tidak berkecil hati. Secara khusus Tahun Ekaristi dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menggalang doa bagi panggilan, bagi para imam dan calon imam. Bahkan, secara berani mereka turun ke jalan melalui prosesi sakramen mahakudus di jalanan. Hasilnya ternyata membanggakan dan membangkitkan hormat dan kecintaan orang akan imam. Rm Edward juga memberi kesaksian betapa kuatnya pengaruh keteladanan imam terhadap lahirnya panggilan muda. Ia menyebutkan sebuah riset bagaimana tahun 1978, saat Paus Yohanes Paulus II menjadi paus mereka memiliki 63,882 imam sedangkan di tahun 2004 mereka memiliki 112,737 imam. Dan, ia berani menjamin bahwa naiknya jumlah imam ini tidak lepas dari pengaruh kuat Yohanes Paulus II yang menaikkan ‘bursa panggilan di AS’. Masih dari hasil penelitannya juga : umumnya 74% dari putra altar melanjutkan ke seminari; 69% dari lector melanjutkan ke seminari. Sebuah data lain yang menarik dari Rm Edward ialah bahwa 3% dari orang Katolik AS adalah keturunan Asia. Sedangkan 12% dari imam di seluruh AS adalah keturunan Asia. Rm Edward dengan meyakinkan lalu mengajak ‘jangan takut’.

5. Mgr. Luis A. G. Tagle : Identity of Priests and Religious of the 21st Century

Uskup dari keuskupan Imus, Filipina ini masih muda dalam usia namun sungguh ahli dalam membahas materinya serta trampil dalam menyajikannya.

Ia membedakan dengan tajam sambil menandaskan bahwa imam terarah pada kepemimpinan pastoral. Imam ditahbiskan untuk menjadi ‘gembala’ moral, spiritual, iman. Menjadi gembala pemelihara iman, jiwa-jiwa, komunitas. Penjaga, pemerhati dan pengembang jiwa-jiwa, iman dan hidup kristiani, melalui pengajaran, pengudusan dan penggembalaan [pelayanan]. Tugas para imam menjamin bahwa umat tetap menjadi satu kawanan beriman, beribadah dan bersaksi serta melayani. Imam adalah wajah Kristus sebagai pastor bonus!

Sedangkan mereka yang dipanggil untuk hidup religius, adalah mereka yang mau menghidupi sungguh-sungguh janji baptisnya dengan mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah saja lewat ‘total consecration’, secara radikal mengikuti Yesus dari dekat. Maka, orang memilih hidup membiara bukan untuk menjadi pemimpin pastoral, tetapi lebih untuk mengikuti Yesus sambil memberi kesaksian tentang Yesus melalui hidup yang sungguh-sungguh menjadi milik Tuhan saja. Tak ada yang dapat memisahkan mereka dari Tuhan: baik kekayaan, ambisi, kekuasaan apapun juga. Para religius menjadi tanda yang hidup dari Yesus yang taat, solider dan menyelamatkan orang lain. Religius adalah wajah Kristus yang hidup bagi Bapa dan sesamanya, dalam ketaatan, kemiskinan dan kemurnian.

Tentu saja, semangat hidup religius dapat memperkaya hidup pastoral para imam. Tetapi tidak berarti bahwa imam dan religius adalah sama; sebab, jika demikian, biarawati yang adalah religius akan meminta haknya ‘disamakan’ seperti imam!

Uskup Tagle kemudian mengatakan identitas atau jati diri serta hidup para imam dan religius abad 21 ini tidaklah lepas dari situasi, suasana khusus yang menandai abad 21 ini. Ia menunjuk adanya 4 fenomena besar yang menandai situasi abad 21 ini.

Pertama : Pengaruh globalisasi : dunia dan manusia dewasa ini sangat terpengaruh oleh globalisasi. Dunia menjadi tanpa dinding, tanpa batas dan menjadi satu keluarga besar. Apa saja yang dominan dan ‘menjagad’ akan paling mempengaruhi. Entah itu ide, pikiran, gaya hidup, mode, paham, hobby atau kemajuan teknik. Dunia penuh persaingan. Lahir komunitas-komunitas ‘elit’, atas dasar modal, paham, kuasa, kepentingan, dll. Dunia semakin sekular, konsumeristik, materialistik dan individualistik juga terpecah-pecah oleh persaingan. Hal baik dan buruk sama-sama berpeluang menaklukkan manusia. Maka, tantangan bagi para imam dan religius: nilai apa yang kalian tawarkan pada globe ini dan sekalian penduduknya? Adakah nilai sejati yang bisa meng-global? Adakah sesuatu yang bisa mempersatukan?

Kedua : Berkurangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan baik pemerintahan maupun gereja. Di mana-mana para pemimpin dibanjiri kritik, protes, caci maki bahkan secara tidak santun dan hormat. Kepemimpinan gerejapun tak lepas dari kritik terbuka. Kewibawaan gereja dipertanyakan. Ingat saja kasus pelecehan seksual. Ingat saja, di keuskupan, di paroki, umat terinspirasikan oleh semangat ‘reformasi’, lebih berani mengeritik apalagi jika kekurangan itu sangat kentara. Maka, tantangan bagi para imam dan religius: wibawa apakah yang anda punyai? Jubah, sleyer, salib? Kuasa, status sosial, keberhasilan finansial? Atau, kewibawaan karena service, karena pelayanan, pengurbanan?

Ketiga : Semakin terkucilnya kaum miskin dan kecil dalam masyarakat: dunia menjadi semakin miskin. Sebuah skandal bahwa orang mati kelaparan, busung lapar, bunuh diri karena tak bisa bayar SPP. Mana option for the poor Gereja? Tantangan bagi para imam dan religius: jadilah ‘welcoming fathers, brothers, sisters’. Jadilah sebuah ‘home’ bagi mereka. Bagaimana paroki, umat kita menjadi caregivers; bagaimana imam dan religius sungguh available bagi mereka, dengan unconditional love?

Keempat : Pencarian akan makna hidup, akan jiwa dari kehidupan: orang pada hidup tanpa arah, tanpa makna. Ternyata kesenangan, makanan, uang, seks, kekuasaan bukan nilai abadi yang menentramkan dan membahagiakan. HP, villa, plesir, kekerasan, terorisme bukan jawaban. Orang bosan, stress dan terus mencari makna hidup. Para imam dan religius ditantang menawarkan makna hidup, nilai spiritual. Be light, be salt! Jangan sembunyikan terangmu, garam duniamu, ‘kepemimpinan pastoralmu’, ‘immitatio Christi’mu. Jadilah ‘living reminder’ of Christ, jadilah ‘living signs’ of Christ: let the people look it from you. Biarkan mereka menemukan kepenuhan hidup dalam hidup kamu!

Situasi kongkrit dunia dan manusia abad ini meminta imam dan religius abad ini lebih tampil sebagai ‘pembangun persaudaraan atas dasar kasih’; menjadi pemimpin/tokoh teladan karena pelayanan, pengurbanan dan pemberian diri; menjadi pemerhati dan pejuang bagi mereka yang miskin, terkucil: compassionate and caring; menjadi ‘via, vita et veritas’, menjadi jawaban dari kebutuhan dan kerinduan orang akan arti hidup.

6. Intermezzo : sharing panggilan dari Vietnam.

Kardinal John Baptist Pham Minh Man memberikan kesaksiannya mengenai panggilan di Vietnam.

Sebelum tahun 1975 amat banyak dan suburlah panggilan di seluruh Vietnam. Kemudian oleh berkuasanya komunis semakin menurun. Namun 15 tahun terakhir telah dibuka kembali 6 seminari tinggi dan panggilan kian bertumbuh subur. Keuskupan Agung Ho Chi Minh sendiri memiliki 700.000 umat dengan 300 imam projo dan 200an imam religius. Ada lebih dari 200 frater di Seminari Tinggi Interdiosesan. Sementara itu, ada 260 calon frater yang dalam antrian memasuki seminari tinggi. Mengapa? Karena pemerintah menentukan setiap tahun, berapa seminaris dari setiap keuskupan boleh masuk ke seminari tinggi. Biasanya 10-20 calon dari satu keuskupan. Maka yang lain berada alam ‘antrian panjang’.

Rahasia kesuburan panggilan ialah hidup keluarga katolik yang baik: setia pada doa, ekaristi dan sakramen gereja. Juga, setiap tahun Sang Kardinal menyempatkan diri bertemu dengan setiap keluarga dari para calon imam sebelum ia mentahbiskan mereka, dan berdiskusi dengan keluarga mereka mengenai makna doa dan kurban dalam menunjang panggilan pada umumnya dan panggilan anaknya. Adalah para ibu yang merupakan promotor panggilan nomor satu, pendoa dan pengurban, katanya. Sayang sekali, saat ini hidup keluarga mendapat banyak tantangan dan ini berarti juga tantangan bagi lahirnya benih-benih panggilan baru.

7. Bishop Tagle : Rising to the Vocations Challenge of the 21st Century

Yesus lahir sebagai seorang Asia, di tanah Asia. Asia adalah tanah iman kita. Panggilan Yesus diawali, dihidupi dalam situasi kongkrit, zamannya, budayanya, tempatnya. Demikianlah, dunia saat ini merupakan konteks panggilan dan perutusan kita. Abad 21 ini menawarkan tantangannya yang khas dan khusus.

Panggilan imam atau religius bukan hanya soal imam atau religius yang dipanggil. Adalah persoalan seluruh gereja juga. Bahkan gereja secara keseluruhan memiliki tugas dan panggilannya juga. Maka, panggilan khusus imam dan religius tidaklah lepas dari gereja/komunitas/orang beriman.

Panggilan itupun adalah sebuah proses. Makanya disebut calling, bukan call saja. Dan sebagai sebuah proses panggilan dapat saja menjadi lebih lemah atau sebaliknya lebih teguh dan kokoh.

Ada 3 kaki tungku atau tripod yang menyangga, menghidupkan, menjamin panggilan yang sejati yakni : Seseorang yang memanggil, seseorang yang dipanggil dan tujuan dari panggilan itu. Iman tumbuh dan hidup dalam komunitas umat beriman, dalam setiap gereja lokal.

Tuhanlah yang memanggil, atas dasar inisiatif ilahiNya. Panggilan kita adalah sebuah anugerah, sebuah kebebasan Allah. Kita malah tidak pantas menerimanya. Kita tidak punya jasa apa-apa; ini sungguh inisiatif bebas Allah. Panggilan mengandalkan adanya iman. Tanpa iman, tak ada panggilan.

Yang dipanggil biasanya mendengar lalu menjawab. Tidak terlalu mudah saat ini untuk menjadi pendengar yang baik lalu penjawab yang serius. Kemampuan mendengar begitu buruk ditambah lagi hiruk pikuknya dunia. Namun, Memang Tuhan memanggil dan ada yang mendengar dan menjawab, namun bukan untuk beberapa menit, jam, tahun tapi untuk SH [seumur hidup].

Tujuan panggilan ialah demi suatu maksud khusus yaitu menghadirkan Tuhan, kehendakNya, kuasaNya, rencanaNya. Allah menghendaki manusia berbahagia baik di dunia maupun di akhirat. Allah. Orang perlu memiliki ‘tujuan hidup’ yang mau dicapai, dengan gembira sekaligus dengan korban juga.

Tantangan abad ini ialah : Adakah komunitas beriman, adakah umat beriman dari mana Allah memanggil para pilihanNya? Adakah orang yang beriman akan Allah, atau lebih percaya akan kuasa duit, kepenuhan diri dalam teknik/ilmu/ketrampilan, sukses? Adakah gereja cukup subur buat pertumbuhan iman akan Allah? Atau Allah ‘mati’, kehilangan makna? Jika demikian, tidak ada iman, tidak ada komunitas dan gereja tidak mampu menjadi ‘tanah subur’ bagi panggilan… Adakah tanah subur bagi iman di Asia, di mana benih panggilan bisa tumbuh, tidak terjepit di semak-semak atau dimakan burung hutan?

Tantangan kedua ialah: generasi kini sangat sulit mendengarkan. Mendengar ya, tapi mendengarkan, sulit. Lihat saja generasi muda, tak mampu menjadi pendengar yang baik, dengan perhatian dan fokus. Alat komunikasi disalahgunakan untuk tidak berkomunikasi, untuk tidak membangun relasi pribadi. Daya refleksi, daya internalisasi menjadi lemah. Orang cenderung menjawab ‘whatever’, ‘ndak tahu, apa aja’ atas pertanyaan: apa rencanamu untuk hidup? Mau apa sesudah kuliah? Mau hidup di mana, sebagai apa? Bahkan atas pertanyaan ‘siapa pasangan hidupmu’ dijawab ‘tak tahu, siapa saja’.

Tantangan ketiga ialah apakah panggilan sebagai imam dan religius masih menyisakan arti, makna bagi manusia abad ini? Adakah nilai-nilai imamat dan religius menjadi ‘daya tarik’, mempunyai ‘daya pikat’, memiliki ‘jawaban atas pencarian tujuan hidup’? Adakah kesaksian hidup imam dan religius Asia ‘menarik hati kaum mudanya’? Memikat mereka, mengundang dan menantang mereka untuk ikut bergabung? Atau malah sesuatu yang dicemoohkan, yang dianggap nonsense, kesia-siaan?

Gereja Asia, tak perlu takut. Kita tetap maju dengan kepercayaan dan iman akan Kristus. Kita maju sambil belajar dariNya, sambil memandang SalibNya.

Generasi kita mempunyai iman, mungkin tumbuhnya yang sulit. Maka mereka membutuhkan model, teladan orang beriman yang autentik dan setia. Para terpanggil: kitalah jawabannya, kitalah modelnya.

Generasi kita dapat belajar dari kita yang membentuk gereja yang mendengar, yang belajar baik dari Yesus maupun dari tanda-tanda zaman. Gereja yang berkumpul, berdoa, membaca firman, berdasar pada Injil. Gereja yang melayani, yang mendengar, yang memperhatikan. Adakah kita autentik, pantas didengar, dipercaya? Tergantung kitalah apakah mereka akan mendengarkan suara Allah atau tidak.

Generasi kita bukan tanpa arah, bukan tanpa tujuan. Mereka tengah mencari dan mencari. Mereka membutuhkan waktu lebih lama, discernment yang lebih saksama. Kitalah yang tetap membangun relasi, berkontak dengan mereka, beri tempat, beri peluang, beri makna, tunjukkan kebahagiaan karena iman. Jangan takut pada situasi khusus abad 21, teriakan zaman, warnings zaman ini adalah suara Kristus yang meminta kesigapan kita menjawabinya. Roh Kudus akan bertiup ke mana ia mau. Roh Tuhan ada padaKu, Aku telah diurapiNya… Gereja harus percaya akan hal ini.

Dari abad 21 kita yang kongkrit ini, Allah terus memanggil para pilihanNya. Abad kita tidak ‘broken’, tidak ‘weakened’… abad kita ‘blessed’, ‘graced’. Untuk itu ‘be not afraid’.

8. Gereja Katolik Thailandia : sekilas info

Misionaris pertama yang memasuki Siam, nama lama dari Thailand adalah 2 imam Dominican pada 1555. Tahun 1662 ada 11 imam hidup di Ayudhya dan di tahun 1669 Vikariat Apostolik Thailand dibentuk.

Abad 16 ini mencatat jasa para misionaris Perancis. 1885 Rm Colombet MEP mendirikan college Assumption. 1898 Suster-suster St. Paul de Chartres mulai melayani kaum miskin, sakit dan pendidikan anak-anak. 1920 lebih banyak kongregasi religius tiba di Thailand, seperti Carmelite dan St. Clara. Sebuah kongregasi pribumi juga dimulai di beberapa keuskupan.

Dari 63,538,452 penduduk Thailand, 292.207 beragama Katolik, tersebar dalam 10 keuskupan, dengan 685 imam diosesan dan religius. Saat ini terdapat 140 religius pria dan lebih dari 1.300 suster. Di seminari tinggi Lux Mundi terdapat 250 frater. Thailand memiliki sekitar 1000 siswa seminari menengah. Selain itu ada 2,031 tenaga katekis. Gereja Katolik Thailand telah memiliki Imam-imam Diosesan Misioner [MET], seperti MEP

Seminari Tinggi Lux Mundi telah berusia 33 tahun. Dari zaman ke zaman seminari terus berbenah diri guna menghasilkan imam yang sederhana, berbelaskasih, cinta damai, siap melayani. Tiga bidang utama pembinaan adalah:

1/. Self-formation : setiap calon imam pertama-tama bertanggung jawab atas pembinaan dirinya sebagai calon imam. Dialah pembina panggilannya sendiri untuk menjadi matang dari hari ke hari atas dasar pengalaman akan Allah sendiri.

2/. Formation by community : bina diri diraih lewat kerjasama, saling membantu. setiap seminaris ikut bertanggung jawab dan membantu bina panggilan sesamanya.

3/. Formation by animation : di sini lebih dibuka peranan formator/pembina terhadap setiap calon imam. Ada 6 bidang yang menjadi pokok perhatian yakni :

a/. Kematangan pribadi secara jasmani, rohani dan emosional. Hasilnya ialah menjadi orang yang bertanggung jawab, penuh dedikasi, gembira, mempunyai pengaruh yang kuat pada lingkungan dan mampu berrelasi dengan orang lain.

b/. Kematangan intelektual: kemampuan akademis, berakal budi, mampu menanalisa secara tepat dan benar, mampu mengerti orang lain. Pengetahuan yang mendasar tentang iman dan ilmu pengetahuan.

c/. Kematangan rohani: penghayatan nilai-nilai injil. Hidup rohani yang nyata lewat hidup rohani, doa , meditasi liturgi dan praktek-praktek spiritual lainnya. Hidup sesuai injil dalam kata dan karya.

d/. Hidup berkomunitas: kemampuan hidup bersama sebagai saudara seiman, bekerjasama, saling menerima.

e/. Kemampuan megapresiasi budaya: mampu mengenal, mencintai dan menghargai budaya setempat.

f/. Kematangan pastoral dan missioner: memiliki amor pastoralis dan ketrampilan pastoral serta jiwa missioner mewartakan Kabar Gembira melalui hidup dan kesaksiannya di hadapan sesama orang Kristen maupun non Kristen.

9. Dibuang sayang, dilupakan jangan…

Satu dua kesan pribadi yang menarik untuk disimak. Pertama, menyangkut tata cara orang Thai bersalaman. Sekilas mengesankan keangkuhan karena tidak mau berjabat tangan, tidak mau berkontak fisik dalam mengungkapkan relasi, komunikasi dan interaksi. Namun, lebih jauh, orang Thai, mengungkapkan hormat mereka lebih sebagai ungkapan dari dalam hati yang dinampakkan keluar sambil mengatupkan ke dua tangan di dada, berdiri sikap sempurna lalu membungkuk memberi salam. Mereka mereservir kontak badan untuk suami isteri, orang tua dan anak di dalam lingkungan rumah/keluarga. Di lain pihak, sangat nampak kesantunan saling sapa dan hormat ala Thai ini. Bukan hanya kepada para uskup, imam, biarawati atau tamu, terhadap sesama mereka, salam ini saling diberikan. Sangat indah, santun dan membawa damai di hati. Saya teringat, negeri kita, dikenal sebagai negara berpenduduk yang ramah tamah dan lemah lembut budi bahasanya… Andai, tata cara sopan seperti ini dikembangkan, setiap hari, dari hati yang tulus, kayaknya kekerasan dan terorisme akan banyak berkurang…

Ketika berbicara dengan seorang imam dari Thailand, saya menanyakan ‘kenapa tidak kelihatan banyak pengemis di jalan-jalan’ utama? Temanku menjawab ‘ada pengemis’ namun saya tidak pernah melihatnya selama di Bangkok. Beliau mengatakan bahwa selain pemerintah melarang mereka turun ke jalan, pemerintah menyediakan tempat dan pelayanan bagi mereka. Juga, masyarakat seolah memiliki satu kesepakatan tak tertulis agar tidak membiasakan memberi kepada pengemis, dengan demikian mereka tidak akan meminta-minta lagi sebab semua tidak memberikan… Hebat juga? Hebat apanya? Kemampuan tidak memberi atau kemampuan mendidik para ‘gepeng’?

Satu lagi, kucing termasuk binatang yang disayangi, kendati gajah jauh lebih populer. Di banyak pintu pagar luar rumah ada piring untuk memberi makan kucing-kucing yang hidup di jalanan. Seperti di Indonesia, di banyak tempat para sopir akan menghindari menabrak kucing, dan kalau menabraknya harus ‘menguburkannya’ dengan pelbagai adatnya begitu juga di Bangkok. Binatang yang satu ini mempunyai tempat di masyarakat Thai. Mungkin, karena itu pula, dalam salah satu misa di ballroom Sofitel Hotel berbintang 5, seekor kucing besar sempat naik ke altar, berputar sejenak lalu menghilang di belakang panggung.

Penutup

Kongres Panggilan untuk Asia ini tidak diakhiri dengan perumusan statement atau rekomendasi apapun. Mungkin karena memang tidak sungguh disiapkan, -maklum terkesan ‘numpang’ pada Pertemuan Serra Internasional, maka tidak juga dibuat kesimpulan khusus, selain yang disimpulkan oleh masing-masing peserta.

Beberapa pokok, kenyataan ataupun pemikiran yang tumbuh dalam dialog dan sharing para peserta :

· Kongres ini lebih merupakan awal dari suatu proses yang lebih serius guna membicarakan dan memajukan panggilan di Asia. Langkah pertama ialah : sharing, saling mendengar dan memberitahukan suka duka panggilan di masing-masing negara.

· Langkah selanjutnya sesudah kongres ini ialah masing-masing negara berinisiatif membangun jejaring, lanjutan sharing berupa informasi maupun materi promosi panggilan serta agenda kegiatan-kegiatan di mana negara lain boleh berpartisipasi, misalnya: pelaksanaan workshop bagi para promotor panggilan tingkat nasional.

· Serra International boleh menjadi penginisiatif bagi pertemuan yang lebih serius menyangkut peningkatan promosi panggilan bahkan dalam mendampingi peningkatan human resources di seminari-seminari.

· Kesadaran dan peran serta kaum awam terhadap promosi dan dukungan terhadap panggilan perlu lebih dikerahkan dan disosialisasikan. Dasar keterlibatan ini adalah doa, sesuai pesan Yesus : rogate ergo! Semangat dan bentuk kerja Serra perlu disosialisasikan kepada sebanyak mungkin umat awam.

· Hampir semua keuskupan di negara-negara Eropa, Amerika dan Australia memiliki Vocation Director untuk tingkat nasional dan tingkat keuskupan, guna memajukan panggilan imam maupun religius. Demikian pula negara-negara Asia seperti Filipina, Malaysia, Thailand, Nepal, Singapura, Myanmar. Beberapa negara memiliki kepemimpinan tingkat nasional dan secara berkala mengumpulkan dan mempersiapkan para Vocation Director dari keuskupan dengan pelbagai pelatihan dan pembinaan.

· Asia adalah tanah lahirnya Sang Mesias namun disadari juga bahwa Asia adalah ‘the least evangelized continent’ dan bahwa Gereja Asia harus lebih berupaya memajukan evangelisasi di Asia. Salah satu tanda baik ialah banyak negara Asia selain mengirimkan misionaris religius ke luar negerinya, juga telah memiliki imam-imam diosesan missioner yang berkarya di luar negaranya. Misalnya : Pilipina, India, Thailand, Korea dan Vietnam. Sebetulnya Indonesia adalah ‘salah satu raksasa misi Asia’: mungkin perlu lebih dibangunkan lagi?

Last but not least, Gereja Katolik Indonesia, perlu berbangga dengan telah adanya sekelompok awam pemerhati panggilan dalam bentuk Gotaus, Kelompok Semangat dan Paguyuban Gembala Utama. Menjadi tantangan ke depan ialah agar gerakan-gerakan ini lebih ‘go national bahkan go international’, apalagi gerakan-gerakan ini sungguh merupakan partisipasi kongkrit dari umat awam. Toh kita dengan rendah hati dapat belajar banyak dari Gereja Katolik Thailand. Dengan umat yang relatif kecil mereka mampu mengadakan sebuah kongres international yang besar, sukses dan melibatkan banyak orang, dan pelbagai pihak. Ternyata ‘konotasi Bangkok’ dengan nilai plus, nilai kwalitas ekstranya, berlaku juga buat gereja. Bukan hanya ‘durian Bangkok’ itu ‘so pasti enak’ atau ‘bermutu lebih’, begitupun Gereja Katolik Bangkok memiliki ‘mutu lebih’.

Kap kun kap, terima kasih banyak Bangkok, terima kasih Thailand, terima kasih Serra International.
Jangan takut, ya, kita tidak takut!

Jakarta, 30 Juli 2005,
Rm. Terry Ponomban
Sekr. Eks. Komisi Seminari KWI

TUHANku…..,
Teman-temanku….,

Ada banyak benih panggilan di tanah airku,
Mereka harus ditumbuh-suburkan!
Ada banyak panggilan yang masih tidur,
Mereka harus dibangunkan!
Ada banyak panggilan yang takut dijawab,
Mereka harus diberanikan!
Ada banyak panggilan dalam bahaya hilang,
Mereka harus dipertahankan!
Ada banyak panggilan yang alami penolakan
Mereka harus dikuatkan!
Ada banyak panggilan yang terlumpuhkan oleh karena kemiskinan
Mereka harus dibantu secara finansial!
Inilah Gotaus,
utuslah Gotaus