Mirifica e-news (http://www.mirifica.net)
23 Juni 2006 09:27

Inisiatif Umat Awam Hasilkan Panti Jompo Pertama Di Banyumas


BANYUMAS, Jawa Tengah (UCAN) -- Panti jompo pertama di Kabupaten Banyumas, yang diprakarsai oleh awam Katolik dari kabupaten tersebut, diresmikan baru-baru ini oleh pejabat Gereja dan pemerintah setempat.

Santosa, seorang pejabat lokal yang mewakili Bupati Banyumas, meresmikan Panti Wredha Catur Nugraha pada 10 Juni. Panti jompo itu terletak di Desa Kaliori, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas.

Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ, beberapa imam, suster, umat awam, dan wakil pemerintah ada di antara 100 orang yang menghadiri peresmian panti jompo tersebut.

Pada acara itu, Poedjiati Subagdja, ketua panitia pembangunan, menyerahkan secara simbolik kunci panti jompo itu kepada Uskup Sunarka. Uskup Sunarka kemudian menyerahkan kunci tersebut kepada Suster Veronica Indrawati dari Kongregasi Putri Maria dan Yosef (PMY) yang akan mengelola panti jompo tersebut.

"Ini merupakan karya Penyelenggaraan Ilahi," kata prelatus Yesuit itu kepada hadirin dalam sambutan pembukaan. Uskup Sunarka menceritakan tentang pertemuannya sekitar tiga tahun lalu dengan Richard Ariono, seorang umat awam yang duduk berseberangan dengan dia di sebuah kereta dalam perjalanan dari Jakarta menuju Purwokerto, 270 kilometer tenggara Jakarta.

Uskup Sunarka menceritakan bahwa saat itu ia tidak memakai jubah, maka ketika ia memperkenalkan diri sebagai seorang pekerja sosial dari sebuah lembaga swadaya masyarakat di Purwokerto, Ariono tidak tahu bahwa ia adalah seorang uskup.

Saat percakapan mereka berlanjut, Ariono, 60, mengatakan bahwa ia dan teman-temannya yang tinggal dan bekerja di Jakarta dan kota-kota besar lainnya membutuhkan sebidang tanah untuk sebuah panti jompo di Kabupaten Banyumas, kenang Uskup Sunarka.

Ariono akhirnya tahu bahwa orang yang duduk berseberangan dengan dia adalah seorang uskup ketika sopir yang menjemput dia di stasiun memanggil dia "Bapak uskup." Menurut prelatus itu, Ariono agak terkejut tapi pertemuan itu nampaknya mengukuhkan keinginan dia untuk membangun panti jompo.

"Ya, nanti saya beri," kata uskup.

Uskup Sunarka mengatakan, Panti Wredha Catur Nugraha merupakan panti jompo pertama di Kabupaten Banyumas. Ia berterima kasih kepada Ariono dan teman-temannya yang memprakarsai proyek tersebut.

"Ini merupakan bakti suci pada tanah kelahiran dari rekan-rekan Purwokerto yang ada di kota-kota besar," kata uskup.

Berbicara kepada UCA News pada acara tersebut, Ariono mengatakan bahwa ide itu muncul ketika ia dan teman-temannya bertemu di Jakarta. Inisiatif itu bertolak dari "rasa kepedulian sosial," lanjutnya. Ia juga mengatakan, beberapa umat awam Katolik mendukung proyek tersebut dengan menyumbangkan uang dan tenaga untuk pembangunan panti jompo itu.

Menurut Suster Indrawati, pembangunan tahap pertama dimulai Oktober 2004 dan menghabiskan dana sekitar 600 juta rupiah. Dalam tahap pertama dibangun empat ruang dengan 37 tempat tidur. Bangunan di atas tanah seluas 700 dari 8,800 meter persegi milik Keuskupan Purwokerto ini diberkati oleh seorang imam Dominikan pada 30 Mei.

Suster Indrawati menambahkan bahwa pembangunan tahap berikutnya akan mencakup pagar keliling, jalan, dan fasilitas-fasilitas lain. Bangunan panti jompo dan semua fasilitasnya akan menghabiskan dana 3 miliar rupiah.

Suster yang memiliki pengalaman 20 tahun dalam mengelola sebuah panti jompo di Semarang, Jawa Tengah, mengatakan kepada UCA News, dua perawat yang bekerja di panti jompo itu saat ini merawat enam wanita -- lima Katolik dan satu Konghucu -- semuanya berusia di atas 60 tahun.

Selain fasilitas kamar di panti jompo itu, katanya, imam-imam Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata (OMI) juga memberikan bimbingan rohani kepada kelima wanita tersebut. Jika seorang penghuni meninggal, kata Suster Indrawati, panti jompo itu akan menyediakan sebuah peti jenazah namun pemakaman ditanggung keluarga yang berduka.

Veronika, satu dari enam penghuni panti jompo itu, mengatakan, ia tinggal di sebuah panti jompo di Semarang sebelum pindah ke Panti Wredha Catur Nugraha pada 29 Mei. Wanita Katolik berusia 77 itu menambahkan bahwa ia senang tinggal di panti jompo itu karena ia merasa lebih dekat dengan anak-cucunya.

Dalam upacara peresmian, Santosa menyampaikan ucapan terima kasih dari pemerintah setempat atas pembangunan panti jompo itu. Pemerintah berharap panti jompo itu memperhatikan masalah kesehatan dan kebersihan.

-END-

IJ00559.491b 19 Juni 2006 65 baris (606 kata)

berita dari UCANews