Mirifica e-news (http://www.mirifica.net)
04 Mei 2007 17:01

RIBUAN UMAT KATOLIK SAMBUT JENAZAH USKUP AGUNG EMERITUS GABRIEL MANEK SVD


ATAMBUA, NTT (UCAN) -- Ribuan umat Katolik menyambut jenazah Uskup Agung Emeritus Gabriel Wilhelmus Manek SVD, seorang warga asli dari Keuskupan Atambua, yang meninggal dan dimakamkan di Amerika Serikat tahun 1989.

Jenazah uskup dan misionaris asal Timor yang pertama itu dipulangkan atas permintaan Tarekat Puteri Reinha Rosari (PRR), sebuah kongregasi yang didirikannya tahun 1958.

Jenazah uskup tiba di Denpasar, Bali, pada 17 April. Uskup Denpasar Mgr Benyamin Yosef Bria, warga asli dari Keuskupan Atambua, memimpin sebuah prosesi menuju Gereja St. Fransiskus Xaverius di Kuta dan Katedral Roh Kudus di Denpasar. Jenazah uskup diterima dengan tarian Bali serta tarian hedung dari Flores Timur, dan tarian likurai dari Timor.

Uskup Agung Manek mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pemimpin Keuskupan Agung Ende bulan Desember 1968, setelah delapan tahun, karena menderita sakit. Ia pergi ke Amerika Serikat tahun itu juga untuk menjalani pengobatan.

"Selama tinggal di Amerika, sekalipun sakit ia tetap menjalankan tugas pastoral; rajin melayani umat Katolik, termasuk orang-orang Suku Indian," kata Uskup Bria, yang mengunjungi Uskup Agung Manek di Denver saat ia menempuh studi di Washington. Uskup Bria juga menghadiri pemakaman Uskup Agung Manek di makam milik Serikat Sabda Allah (SVD) di Chicago tahun 1989.

Makam uskup dibongkar pada 13 April 2007. Suster Maria Benediktis Gromang PRR, superior jenderal PRR, yang menghadiri upacara pembongkaran makam, mengatakan bahwa jenazah uskup masih utuh. "Rencana semula adalah membawa pulang tulang-belulang almarhum ke Larantuka, tetapi ketika kuburnya digali kembali kami menemukan jenazah almarhum masih utuh; seperti orang baru meninggal dunia,” katanya.

Dari Bali, jenazah uskup diterbangkan ke Kupang, Timor Barat, pada 19 April. Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang, sejumlah imam dan kaum religius, dan pejabat pemerintahan termasuk Gubernur Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Piet Alexander Tallo, seorang Protestan, menyambut jenazah uskup.

"Selamat datang di tanah kelahiranmu,” kata Fabianus Harry Luwalu, seorang tokoh masyarakat beragama Katolik, dalam sambutannya.

Ribuan umat Katolik mengiringi jenazah uskup menuju Biara PRR, kemudian menuju Katedral Kristus Raja, tempat Uskup Agung Turang memimpin Misa. "Kehadiran suster-suster PRR merupakan bukti karya nyata Uskup Agung Manek, di samping karya-karya mulia lain yang pernah dilakukan selama masa hidupnya,” kata Uskup Agung Turang.

Dari Kupang, jenazah uskup dibawa ke Lahurus, tempat paroki asalnya, yang berjarak 325 kilometer arah timur laut Kupang. Uskup Agung Manek, yang ditahbiskan sebagai imam pada 28 Januari 1941, adalah imam pertama dari paroki tersebut.

Pada 20 April, umat Katolik berbaris di jalan sambil menunggu iring-iringan kendaraan, untuk memberikan penghormatan. Mereka membuat altar dengan salib, patung Maria, foto almarhum uskup agung, lilin bernyala, dan bunga di atasnya. Mereka berkumpul dan berdoa serta berlutut ketika iring-iringan kendaraan itu tiba.

Di sebuah desa, orang-orang kusta dan kerabat mereka mengejar iring-iringan kendaraan itu dan meminta agar kendaraan dihentikan. Mereka mendekati mobil ambulans dan mencium peti jenazah uskup sambil menangis.

Di Ailomea, tempat kelahiran Uskup Agung Manek, keluarganya menyambut jenazah uskup di Kapela Mgr. Gabriel Manek, sebuah kapel yang dibangun enam tahun lalu oleh kerabat uskup dan suster-suster PRR.

Jadokus Manek mengatakan, keluarga bersyukur kepada Allah karena menyertai Uskup Agung Manek sepanjang hidupnya. "Jasad mendiang tetap utuh dan segar hingga saat ini semata-mata karena rahmat Tuhan," katanya.

Seusai ibadah, jenazah uskup dibawa menuju Gereja St. Petrus di Lahurus, yang berjarak satu kilometer. Pastor Feliks Kosat SVD, Provinsial SVD di Timor, memimpin Misa. Ribuan umat memadati gereja dan halamannya.

Di Atambua, pada 21 April, ribuan umat menyambut jenazah uskup di Katedral St. Maria Immaculata dengan tarian likurai dan drum band yang dimainkan oleh sejumlah pelajar.

Saat Misa, Uskup Atambua Mgr Pain Ratu SVD mengatakan bahwa almarhum uskup agung berasal dari sebuah keluarga bangsawan, dan memberi teladan dalam mengikuti jejak Yesus Sang Raja.

“Gabriel Manek seharusnya berkuasa. Ia seharusnya dilayani oleh para hamba. Tetapi ia memilih mengikuti Yesus,” kata Uskup Pain Ratu.

“Saya kehabisan kata dan kehilangan akal” menyangkut keadaan jenazah uskup, katanya. “Saya tidak dapat berpikir lagi selain mengakui bahwa ia adalah orang kudus.” Umat menanggapi dengan memberi tepuk tangan yang cukup lama.

Jenazah uskup kemudian dibawa dengan kapal milik Angkatan Laut menuju Larantuka, tempat Gabriel Manek menjadi uskup sejak 1951 hingga 1960. Pada 25 April, ulang tahun tahbisan uskup ke-56, jenazah uskup dimakamkan kembali di Biara PRR.

Uskup Larantuka, Flores Timur, Mgr Frans Kopong Kung; Uskup Agung Ende (terpilih) Mgr Vincentius Sensi Potokota; dan Uskup Banjarmasin (Kalimantan Selatan) Mgr Fransiskus Xaverius Prajasuta MSF memimpin Misa pemakaman.

Suster Gromang mengatakan dalam sambutannya pada upacara pemakaman, “kami membawa pulang jenazah uskup karena kami mencintai dia.”

-END-

IS02375.536b 1 Mei 2007 78 baris (723 kata)


Berita dari UCA News (Union of Catholic Asian News)