Mirifica e-news (http://www.mirifica.net)
10 Oktober 2007 15:29

Uskup Suharyo Puji Para Imam MSF Atas Karya Mereka Selama 75 Tahun Di Jawa


SLEMAN, Yogyakarta (UCAN) -- Uskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo berterima kasih kepada para imam Misionaris Keluarga Kudus (MSF) atas karya mereka selama 75 tahun di Jawa, dan menyebut mereka sebagai satu dari tiga "pilar" Keuskupan Agung Semarang.

"Untung ada MSF, sehingga beban dan tanggung jawab pastoral Keuskupan Agung Semarang menjadi lebih ringan," kata Uskup Agung Suharyo dalam homilinya pada Misa Syukur 28 September yang menandai penutupan perayaan peringatan 75 tahun karya para imam MSF di Jawa. Perayaan peringatan itu berlangsung selama setahun.

Uskup Banjarmasin Mgr Fransiskus Xaverius Rocharjanta Prajasuta MSF dan Pastor Yohanes Rohmadi Mulyono MSF, Provinsial MSF Provinsi Jawa, turut memimpin Misa yang berlangsung di Kapel Seminari Tinggi Keluarga Kudus di Sleman, Yogyakarta, tersebut.

Anggota MSF Provinsi Jawa -- 91 imam, tiga bruder, dan 49 frater -- ada di antara 600 klerus, umat awam, dan kaum religius yang menghadiri Misa Syukur itu.

Uskup Agung Suharyo mengidentifikasi para imam MSF, Serikat Yesus (SJ), dan diosesan sebagai "tiga pilar" yang menopang Keuskupan Agung Semarang, dan mengatakan, "Berkat ketiga pilar ini, karya-karya kerasulan dan pendidikan calon imam bisa dikembangkan menjadi semakin bermutu."

Ia kemudian menyebut tuntunan Allah atas keberhasilan para misionaris MSF setelah tiba di Jawa pada Februari 1932: "Pada bulan Maret di tahun yang sama, mereka sudah berhasil membaptis (dua orang). Bahkan, yang lebih istimewa lagi, pada tahun 1936 sudah ada seorang putra asli yang terpanggil menjadi imam. Semua ini jelas merupakan karya Allah yang meminjam tangan, budi, dan hati segenap anggota tarekat. Karya ini patut kita syukuri."

Uskup Agung Suharyo secara khusus memuji kebajikan tiga misionaris MSF pertama -- Pastor M.J.X. Wilkens, Pastor J. Van der Steegt, dan Pastor N. Havenman, ketiganya orang Belanda -- yang telah meletakkan dasar yang benar bagi karya kerasulan mereka. "Para misionaris pertama ini tidak berkarya di kota. Mereka justru melayani umat di pelosok-pelosok desa. Di tempat-tempat yang jauh ini mereka diterima dengan sangat baik oleh penduduk setempat," katanya. "Bukti nyata karya misi mereka," jelasnya, adalah julukan "pastornya orang pribumi" yang dipakai penduduk setempat untuk memanggil Pastor Havenman.

Sebelum Misa berakhir, Pastor Mulyono menanggapi dengan mengatakan, "Selama ini, kami merasa sangat diperhatikan oleh Bapak Uskup." Ia mengakui bahwa para misionaris MSF di Jawa telah meninggalkan sebuah warisan bahwa mereka "selalu dipuji dan jarang sekali atau hampir tidak pernah dicela." Ia berharap, hal ini akan mendorong para anggota MSF untuk terus melakukan pelayanan dengan kerendahan hati.

"Pujian ini juga menantang kami untuk berkarya lebih banyak dan lebih baik dalam karya kerasulan, kerasulan keluarga, dan pendidikan lanjut bagi para imam," katanya. Ia kemudian berterima kasih kepada para uskup, kongregasi-kongregasi religius, organisasi-organisasi Gereja, dan umat awam yang telah mendukung karya MSF di Jawa, serta di tempat-tempat lain di Indonesia.

Pastor Mulyono sebelumnya mengatakan kepada UCA News bahwa para imam MSF berkarya di 12 paroki di Keuskupan Agung Semarang dan dua paroki di Keuskupan Agung Jakarta. "Di kedua keuskupan agung ini, kami diminta untuk memberikan prioritas pada kerasulan keluarga, karya kami yang cukup dominan," katanya, tapi MSF juga membantu Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dengan mengampu Komisi Keluarga.

Selain itu, katanya, MSF memiliki program ongoing formation bagi "anggota kami dan anggota kongregasi lain yang bermasalah agar mereka bisa mempertahankan panggilan religius mereka." Meski demikian, lanjutnya, karya inti MSF adalah kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada keluarga seperti kursus persiapan perkawinan, konsultasi keluarga, dan seminar-seminar tentang keluarga di tingkat paroki.

Perayaan peringatan 75 tahun karya para imam MSF di Jawa dimulai pada 28 September 2006 dengan sebuah Misa yang dipimpin oleh Uskup Prajasuta di Gereja Sancta Familia (Keluarga Kudus) di Atmodirono, Semarang. Setelah itu, paroki-paroki yang dikelola oleh para imam MSF mengadakan kegiatan-kegiatan khusus seperti open house, pertemuan kaum muda, lomba paduan suara, lomba mencipta lagu rohani, dan retret keluarga.

Pastor P. Jean Berthier dari Kongregasi Misionaris Bunda Maria dari La Salette (1840-1908) membentuk Misionaris Keluarga Kudus tahun 1895 di Grave, Belanda.

Sebelum memulai karya di Pulau Jawa, pada tahun 1926 para misionaris MSF pergi ke sebuah tempat yang kini disebut Kalimantan. Upaya mereka mengarah pada pembentukan Keuskupan Banjarmasin dan Keuskupan Agung Samarinda, yang masing-masing berada di Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Selain Uskup Prajasuta, dua prelatus MSF lain yang berkarya di Indonesia adalah Uskup Agung Samarinda Mgr Florentinus Sului Hajang Hau MSF dan Uskup Palangkaraya Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF.

-END-

IJ03519.559b 9 Oktober 2007 71 baris (696 kata)


Berita dari: Kantor Berita Katolik Asia (UCAN, Union of Catholic Asian News)