Mirifica e-news (http://www.mirifica.net)
08 September 2008 14:08

Para Suster PRR diminta melayani kaum miskin dan kaya


 Larantuka, NTT (UCAN) Ketika Kongregasi Puteri Reinha Rosari (PRR) merayakan 50 tahun tarekatnya, para uskup memuji karya para biarawati itu di tengah kaum miskin namun juga meminta mereka melayani orang kaya.

 Misa ulang tahun pada 15 Agustus itu diperingati pada tanggal saat mendiang Uskup Agung Gabriel Wilhelmus Manek SVD, vikaris apostolik Larantuka, mendirikan tarekat itu tahun 1958. Tiga tahun kemudian, ia diangkat untuk memimpin Keuskupan Agung Ende. Kota Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur di Pulau Flores yang mayoritas penduduknya Katolik, terletak 1.780 kilometer timur Jakarta.

 Lebih dari 100 anggota kongregasi itu, yang mewakili 56 komunitas di tanah air, serta puluhan religius, klerus dan orang awam lainnya menghadiri acara di Biara Pusat PRR di Lebao, timur Larantuka  itu.

 Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung mempersembahkan Misa itu. Para prelatus lain yang menjadi konselebran adalah Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota, Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang, Uskup Maumere Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD, pensiunan uskup Atambua Mgr Anton Pain Ratu SVD, dan Uskup terpilih Petrus Boddeng Timang dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

 Mengakui adopsi Bunda Maria sebagai teladan tarekat yang didirikan pada pesta St. Perawan Maria Diangkat ke Surga itu, Uskup Kung mengatakan dalam homilinya: "Pada masa hidup Bunda Maria yang kini diteladani PRR, seorang hamba melayani orang terhormat dan berkuasa. Sedangkan pada masa sekarang, hamba lebih bermakna melayani dan mengabdi kaum kecil dan sederhana."

 Oleh karena itu, katanya, "Pelayanan PRR bagi orang kecil harus tetap menjadi fokus  pelayanan dan karya PRR ke depan."

 Uskup Agung Turang, dalam sambutannya pada resepsi setelah Misa itu, memuji karya kongregasi itu bagi kaum miskin. Namun ia menasehati, "Ke depan sebaiknya pelayanan tidak hanya diprioritaskan  kepada  kaum miskin, tapi perlu juga diberikan pelayanan pastoral kepada orang-orang kaya yang saat ini telah menjadi tren yang sulit mendatangi Gereja pada hari Minggu." Pengabaian Misa hari Minggu, katanya, telah menjadi "sebuah tren" bagi orang kaya yang sibuk dengan bisnis mereka.

 UCA News juga berbicara dengan beberapa orang awam dan seorang petinggi tarekat itu tentang karya para biarawati itu.

 Yakobus Beorang, seorang katekis dari Paroki St. Johanes Pembaptis di Lebao, memuji pelayanan tarekat itu bagi orang-orang biasa. "Kualitas anggota tarekat itu tidak diragukan lagi. Sejumlah suster disekolahkan sampai ke luar negeri. Begitupun aset-aset yang dimiliki bisa menjamin kemandirian tarekat," tambahnya.

 Elisabeth Riberu, dari Paroki Ratu Rosario Tersuci Katedral di Larantuka, berterima kasih kepada tarekat itu karena telah mendirikan banyak sekolah dan klinik yang membantu orang miskin dari berbagai agama.

 Suster Maria Graciana PRR, wakil pemimpin umum PRR, menegaskan bahwa para suster tersebut selalu mendasarkan karya mereka pada gagasan awal pendiri tarekat tersebut.

  "PRR sebaiknya tidak menciptakan karya yang melembaga dan mengikat suster-suster dengan karya itu. PRR harus bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain yang membutuhkan, terutama Gereja lokal. Ketika karya di salah satu Gereja lokal sudah kuat dan mandiri, para suster PRR boleh berangkat lagi ke tempat baru yang membutuhkan. Hingga saat merayakan 50 tahun berdirinya, prinsip ini tetap terpelihara dalam mengembangkan karya misioner," kata suster itu, yang bergelar doktor teologi dan mengajar di Seminari Tinggi St. Paulus di Kentungan di Yogyakarta itu.

 Para anggota tarekat melakukan beberapa karya pastoral, katanya, seperti membantu program pembinaan iman untuk anak-anak di beberapa paroki dan mengajar katekese di sekolah-sekolah negeri dan swasta.

 Namun, ia menjelaskan bahwa perhatian terhadap anak miskin yang tidak memiliki akses untuk bersekolah dan terhadap keadaan ekonomi dan kesehatan masyarakat yang kurang, terutama di daerah-daerah terpencil, menggerakkan hati para suster itu. Mereka menanggapinya dengan mengelola sekolah, panti asuhan, asrama, dan klinik, dan memberikan kursus keterampilan bagi para perempuan muda yang putus sekolah.

  "Dengan demikian, karya PRR meliputi bidang pastoral, pendidikan, kesehatan dan sosial," tegas Suster Graciana.

 Ke depan, kata pimpinan PRR itu: "PRR harus semakin kuat berpegang pada spiritualitasnya sambil menerjemahkan visi dan misi sesuai dengan pengertian, bahasa dan kebutuhan zaman sekarang. Hal ini direalisasikan dengan terus-menerus membuat evaluasi, refleksi, dan pembaharuan di semua aspek kehidupan kongregasi."

 Suster itu mengungkapkan optimisme bahwa jumlah anggota kongregasi itu akan terus meningkat. "Dalam lima tahun terakhir, kami telah menerima calon baru sekitar 15-20 orang. Di Timor Leste dan Kenya kami sudah membuka rumah novisiat," kata suster itu.

 Hingga kini kongregasi itu memiliki 348 suster, 21 novis dan 16 postulan, yang tinggal di 56 biara di 22 dari 37 keuskupan di Indonesia serta di Belgia, Italia, Kenya, dan Timor Leste.

***

28 Agustus 2008    703 kata         www.ucanews.com