Mirifica e-news (http://www.mirifica.net)
22 Januari 2009 09:56

Jurnalisme Warga (Citizen Journalism)


       Peran mendasar dari media komunikasi massa adalah jurnalistik yakni kegiatan mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan informasi kepada khalayak. Dahulu, jurnalistik dikaitkan dengan media cetak seperti majalah dan surat kabar. Pemahaman itu kemudian diperluas untuk media elektronik dan maya. Orang yang menjalankan peran itu disebut jurnalis atau reporter. Ada reporter surat kabar, reporter radio, reporter televisi dan reporter virtual news.  Untuk menjadi seorang reporter, mereka perlu dibekali dengan pendidikan dan pelatihan baik teori maupun praktik untuk mengasah wawasan dan ketrampilan dalam mengelola informasi.

       Pada pihak lain, kegiatan jurnalistik tidak cuma menyangkut bagaimana reporter  mengelola informasi. Jurnalisme juga menyangkut industri. Dan sama seperti industri-industri lain, media komunikasi massa pun harus mengorganisir diri secara profesional sesuai dengan hukum-hukum industri seperti taktik untuk meraup keuntungan, strategi  berkompetisi dengan industri media lain serta upaya-upaya memperluas popularitas.

       Kedua unsur jurnalisme ini (sebagai informasi dan sebagai industri) bahu membahu bekerja sesuai dengan profesionalitas mereka masing-masing. Dan terkadang, publik menjadi korban dan sasaran terpaan media. Media menjadi ‘pencipta berita'. Apa yang media katakan akan menjadi bahan diskusi dalam masyarakat, sebaliknya apa yang tidak dikatakan-disampaikan oleh media, tidak menjadi relevan dalam diskusi masyarakat. Media (pegiat media) menentukan tema pembiaraan untuk publik (agenda setting) sekaligus menentukan juga pentingnya pembicaraan itu. Akhirnya, penting tidaknya suatu isu, akan ditentukan oleh  media komunikasi.

Sekilas Contoh

         Serangan tentara Israel ke jalur Gaza mendapat kecaman dunia. Di Indonesia, semua media komunikasi baik cetak, elektronik dan maya memberikan informasi tentang ‘kebiadaban' (terminologi yang dipakai oleh media massa di Indonesia) tentara Israel dan penderitaan masyarakat sipil Palestina yang menjadi korban  serangan serdadu Israel. Berita dikemas dengan cara sedemikian sehingga masyarakat Indonesia menjadi membenci bukan saja terhadap pasukan Israel di medan perang tetapi malah berakibat pada penyerangan terhadap Sinagoga (rumah ibadat agama Yahudi) di Surabaya oleh para pengunjuk rasa.

          Pada saat yang sama,  internet sebagai media maya (virtual space) menampilkan jutaan informasi yang mengatakan bahwa tindakan Israel adalah sebuah reaksi terhadap tembakan-tembakan roket  milisi Hamas ke wilayah Israel. Selama tahun 2008 saja, pihak Hamas telah menembakkan 1.750 roket (dan 1.528 peluru mortir), dua kali lebih banyak dibandingkan tahun 2007 dan 2006 serta lima kali lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dan ini mengganggu kenyamanan warga Israel teristimewa yang bermukin di wilayah perbatasan (GlobalSecurity.org). Informasi ini dapat kita temukan dalam layanan pesan singkat (Short Message Service), milist, friendster, forum diskusi yahoo messanger rooms, block, dll. Informasi tersebut turut memberikan sisi tilik lain dari pemberitaan media konvensional. Tanpa berniat untuk mempersalahkan media konvensional serta tanpa mendukung invasi serdadu Israel, yang hendak dikatakan disini adalah bahwa kegiatan jusnalistik yang biasanya menjadi monopoli para jurnalis profesional (kegiatan profesi)media konvensional, kini tengah dilaksanakan juga oleh komunitas-komunita independen, kelompok-kelompok minat, bahkan orang perorangan.  Mereka berusaha dengan caranya mencari, mengumpulkan, mengelola dan menyebarkan informasi sama halnya dengan para reporter media massa yang kita kenal selama ini seperti surat khabar, radio, televisi, dll. Pekerjaan yang sebelumnya dilaksanakan oleh para pegiat media konvensional sebagai suatu profesi, kini telah dilaksanakan juga secara orang- perorangan.  Kegiatan pengambilalihan peran  para jurnalis profesional oleh kelompok masyarakat atau orang-perorangan inilah yang dinamakan jurnalisme warga (citizen journalism).

Ketersediaan Akses dan Peluang Gereja

       Jurnalisme warga ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Hanya bahwa pada periode akhir ini, kegiatan jurnalisme warga semakin meningkat baik dari segi jumlah maupun dari intensitasnya dan variasi. Hal itu sejalan dengan kebebasan mengeluarkan pendapat yang semakin diakui (demokratisasi komunikasi) di kebanyakan negara sekaligus oleh adanya peluang ketersediaan akses oleh menyebarkan media komunikasi modern antara lain melalui:

•·        mata program, yakni peluang yang diberikan oleh media massa kepada masyarakat untuk berperan serta dalam meberikan tanggapan dan menyumbangkan informasi. Misalnya program ‘suara anda' pada stasiun Metro TV, kolom suara pembaca dalam surat khabar, program interaktif di radio, dll.

  • karakter media massa itu sendiri yang memungkin siapa saja dapat mengumpulkan, mengelola dan menyebarkan informasi kepada khalayak (teman dan handai taulannya) seperti sms, blog, mailing list, dll
  • kegiatan terstuktur seperti  komunikasi alternatif (komunikasi kerakyatan) yakni bentuk komunikasi yang intinya mau melihat fakta dari sisi tilik rakyat jelata dengan menggunakan media murah seperti poster, pamflet, teater rakyat, teater jalanan, dll.

       Dalam menjalankan fungsi alternatif, jurnalisme warga sesungguhnya memberikan sumbangsih  berharga dalam menyampaikan warna lain yang baru sama sekali dari informasi konvensional (fungsi inovatif),  melengkapi informasi-informasi yang masih kurang dari pemberitaan media umum (fungsi komplementaris) dan sekaligus menyampaikan koreksi-koreksi terhadap kekurang-akuratan pemberitaan media umum (fungsi korektif).

       Dengan melihat kenyataan bentuk jurnlisme ini, gereja diimbau untuk tidak mengabaikan jurnalisme warga dalam seluruh karya pewartaannya. Terpaan media konvensional kian hari mendominasi agenda pembicaraan masyarakat yang terkadang tidak seluruhnya bisa dipertanggungjawabkan secara akurat. Jurnalisme warga merupakan suatu alternatif pembanding, dimana Gereja mendapat informasi berdasarkan sisi tilik lain (sudut pandang warga), lalu dengannya ia bisa memutuskan kebijakannya dengan lebih arif bagi karya penyejahteraan warga masyarakat.

Agus Alfons Duka, SVD
Sekretaris eksekutif Komsos KWI