KATEKESE

Bahan Misa untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-42

Perayaan Ekaristi Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-42

4 Mei 2008

Media Komunikasi Sosial :

Pada Persimpangan Antara pengacuan diri dan pelayanan

Mencari kebenaran untuk berbagi dengan orang lain

Komentar Pembukaan:

Saudara/i yang terkasih dalam Tuhan. Hari ini, Gereja Katolik sejagat merayakan hari komunikasi sosial sedunia yang ke-42. Paus Benediktus XVI mengundang semua orang kritiani agar menyatukan hati dan cita-cita untuk memajukan komunikasi yang sejati di antara kita dan dengan Tuhan. Lewat pesan Paus yang berjudul : “Media Komunikasi Sosial: Antara pengacuan diri dan pelayanan. Mencari kebenaran untuk berbagi dengan orang lain”, Sri Paus mengajak kita sekalian untuk turut serta mengambil bagian secara aktif dalam perjuangan kebenaran keadilan dan perdamaian melalui sarana-sarana komunikasi sosial yang dianugerahkan Allah kepada kita. Bahwa kita perlu menggunakan sarana kominikasi sosial bukan untuk memecahbelahkan umat manusia, tetapi untuk membangun jalinan kasih di antara kita. Marilah kita mengawali ekaristi hari komunikasi sosial sedunia ini dengan menyanyikan lagu pembukaan.
Lagu Pembukaan

Tuhan Kasihanilah kami

Gloria

Doa Pembukaan:

Ya Allah Bapa kami, hari ini kami umat Katolik sedunia merayakan hari Komunikasi Sedunia ke-42. Kami mengucap syukur atas anugerah daya cipta, kreativitas, dan ketekunan yang menghasilkan sarana-sarana komunikasi yang mengagumkan dan semakin menyatukan umat manusia. Semoga perayaan ini memberikan inspirasi kepada kami untuk memanfaatkan semua anugerahMu itu dalam mewartakan kebenaranMu di dunia ini, sehingga tak seorangpun umatMu dikucilkan oleh media komunikasi sosial. Demi Yesus Kristus . . . . … …Amin.
Bacaan I : [Teks hari minggu yang bersangkutan]

Mazmur Tanggapan

Bacaan II: [Teks hari minggu yang bersangkutan]

Bait pengantar Injil

Bacaan Injil: Mrk 7:31-37

Homili: Gagasan pokok homili:

Injil Markus menandaskan mujizat penyembuhan orang tuli dan bisu. Dalam perspektif komunikasi paling kurang terdapat tiga unsur utama dalan cerita penyembuhan itu. Pertama, situasi ketidakmampuan untuk berkomunikasi (tuli dan bisu/gagap). Kedua, proses penyembuhan yang dibuat Yesus dengan menggunakan segala sarana dan ekspresi yang mungkin, dan ketiga, mukjizat dan konsekuensi dari komunikasi Yesus.

1. Situasi : Ketidakmampuan untuk berkomunikasi.

Mengapa orang tidak mampu berkomunikasi. Atau dengan perkataan lain, manakah halangan dan rintangan yang membuat manusia tidak bisa dan tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain secara baik.
Ada rintangan teknik , yakni rintangan komunikasi karena alat-alat teknis seperti radio, televisi, telpon, internet, SMS yang tidak berfungsi secara baik.
Rintangan semantik: bahasa yang tidak dimengerti karena menggunakan jargon-jargon asing dan khas daerah tertentu yang belum berlaku umum.
Rintangan fisik: pendengaran yang kurang baik, cara bicara yang terlalu cepat, dll
Rintangan psikologis: takut, cemas, khawatir, prasangka negatif, dll.
Injil hari ini berbicara tentang rintangan fisik (tuli dan bisu/gagap) dan juga rintangan psikologis (minder, cemas, malu untuk tampil) yang membuat orang itu tidak mampu berkomunikasi secara baik dan dengan demikian ia akhirnya menjadi orang yang terhempas dari persekutuan komunitasnya (terkucilkan).

2. Tanda dan gestikulasi: Yesus menggunakan segala media yang mungkin

Melihat kenyataan itu, manakah cara untuk mengatasi rintangan dan halangan komunikasi yang dibuat Yesus? Yesus memisahkan orang tuli dan bisu itu dari kerumunan. Suatu pendekatan pribadi tanpa mau mencari popularitas diri. Tetapi hal itu sudah didahului terutama oleh sikap Yesus yang menghargai mitra komunikasinya (orang tuli dan bisu) tanpa prasangka negatif seperti yang biasa dibuat oleh orang Yahudi terhadap orang-orang yang sakit dan cacat. Pada Yesus ada sikap positive thinking. Lalu Yesus memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, meludah dan meraba lidah orang itu, menengadah ke langit dan dan berkata, “Efata”, yang berarti terbukalah. Yesus dalam hal ini menggunakan semua sarana yang mungkin untuk membebaskan orang dari belenggu yang merintangi dan menghambat terlaksananya sebuah komunikasi yang efektif.
3. Mukjizat dan konsekuensinya : Komunikasi menghasilkan komunitas sejati

Mukjizat akhirnya terlaksana. Orang yang sebelumnya tuli dan bisu pada akhirnya bisa mendengar dan berbicara. Ia dapat berkomunikasi lagi. Karena Yesus, dengan menggunakan segala sarana yang mungkin, berhasil mematahkan segala rintangan dan halangan berkomunikasi. Tetapi, mukjizat Yesus tidak berhenti disini (mendengar dan berbicara). Ia akhirnya dapat lagi mengintegrasi diri dengan masyarakat, bergabung kembali tanpa takut, cemas dan gelisah. Komunitas akhirnya takjub dan tercengang karena komunikasi Yesus ‘menjadikan segala-galanya baik’ (ay 37).
Pesan Bapa Suci untuk Hari Komunikasi Sedunia ke 42 tahun ini, bila direfleksi lebih dalam, sebenarnya mau mengajak semua orang Kristiani terutama para komunikator, para pelaku dan pegiat media komunikasi dan juga para pemilik dan pengguna media komunikasi modern agar mengikuti model komunikasi Yesus yang menggunakan sarana komunikasi (baik sarana modern maupun tradisional) untuk membongkar segala rintangan dan halangan komunikasi di antara umat manusia. Dan hal itu baru terlaksana kalau setiap kita mampu memanfaatkan semua sarana komunikasi yang tersedia untuk melayani sesama dan mengupayakan kebenaran. Bukannya menggunakan media komunikasi untuk membohongi dan manipulasi orang lain, menggunakan media komunikasi semata-mata untuk mencari keuntungan ekonomi (tujuan bisnis). Media komunikasi hendaknya digunakan sedemikian rupa agar ia menjadi “pembawa damai bila terjadi pertengkaran; pembawa terang bila terjadi kegelapan; pembawa pengampunan bila terjadi balas dendam. . .”
Catatan:

Di akhir homili, hendaknya dibuat penekanan tentang pentingnya kolekte hari komunikasi sedunia untuk mengembangkan karya komunikasi sosial di keuskupan dan paroki. Hal itu sungguh-sungguh ditandaskan dalam dekrit Inter Mirifica Konsili Vatikan II : ‘pada hari komunikasi sosial sedunia umat beriman diajak menyadari kewajiban-kewajiban mereka di bidang itu, memanjatkan doa-doa baginya dan mengumpulkan dana untuk maksud itu” (IM no 18)
Doa Umat:

Imam : Saudara-Saudari terkasih, Hari Komunikasi Sedunia ke-42 tahun ini mengambil tema: “Media komunikasi sosial: antara pengacuan diri dan pelayanan. Mencari kebenaran untuk berbagi dengan orang lain”. Marilah kita dengan penuh harapan menyampaikan doa-doa permohonan kita kepada Bapa Surgawi

P : Bagi para pemimpin gereja

Bapa, dampingilah para pemimpin gereja di negara kami, agar mereka berani masuk ke dalam dunia komunikasi sosial sebagai medan dimana kabar gembira Yesus Kristus dapat diwartakan dan dihidupi. Marilah kita memohon:

U : Semoga kami menemukan kasihMu dalam Komunikasi

P : Bagi para pegiat media komunikasi sosial di negara kami

Ya Bapa, semoga Kau dampingi para produser, presenter media, perancang siaran dan pemilik media komunikasi di negara kami agar keadilan, perdamaian dan cinta kasih senantiasa menjadi unsur utama dalam tayangan-tayangan mereka. Marilah kita memohon:

U : Semoga kami menemukan kasihMu dalam Komunikasi

P : Bagi para keluarga-keluarga kristiani di paroki kami.

Ya Bapa, semoga keluarga-keluarga kristiani di paroki kami Kau lindungi sehingga mereka tidak mudah dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh negatif media komunikai sosial yang membahayakan keutuhan keluarga mereka. Marilah kita memohon:

U : Semoga kami menemukan kasihMu dalam Komunikasi

P : Bagi pemimpin negara kami

Bapa, bukalah hati dan budi para pemimpin negara kami, agar mereka senantiasa menghormati dan menghargai kebebasan berekspresi dan menyatakan pendapat di negara ini. Marilah kita memohon:

U : Semoga kami menemukan kasihMu dalam Komunikasi

P : Bagi kita sekalian yang mengambil bagian dalam perayaan ini

Bapa, semoga kami tidak takut menggunakan media komunikasi sosial untuk memperjuangkan kebenaran dan melayani sesama kami. Marilah kita memohon:

U : Semoga kami menemukan kasihMu dalam Komunikasi

(dapat ditambah doa umat sesuai dengan situasi dan kebutuhan setempat)

I : Demikianlah doa-doa permohonan yang kami sampaikan kepadaMu. Semoga Engkau senantiasa mendengarkan kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami ……Amin.

Persiapan persembahan

Dapat dibuat perarakan bahan persembahan diiringi lagu. Bahan-bahan yang diarak adalah roti dan anggur. Sesuai dengan keadaan setempat dapat dibawa juga sarana komunikasi sosial yang berperan menyampaikan kebenaran dan menciptakan keadilan dan damai.
Doa persiapan persembahan:

I : Bersama persembahan yang kami antarkan ke altarMu, kami mohon ya Bapa, semoga karya komunikasi sosial yang dilaksanakan oleh umatmu sungguh-sungguh diarahkan untuk melayani kebenaran dan membawa perdamaian di antara umat manusia. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami yang . . .

U : Amin.

Doa Syukur Agung:

Prefasi dan lagu kudus

Bapa Kami

Ajakan doa damai

Lagu komuni

Setelah lagu komuni, bisa didoakan secara bersama-sama atau oleh lektor doa dari Santu Fransiskus Asisi: ‘Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai’.

Tuhan, Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah au pembawa terang,
Tuhan semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,
Memahami dari pada dipahami, mencintai dari pada dicintai,
Sebab dengan memberi aku menerima
Dengan mengampuni aku diampuni
Dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.
Amin
Doa sesudah komuni

I : Bapa, kami bersyukur dan berterima kasih atas komunikasi sosial yang Kaupercayakan kepada kami untuk menciptakan kebenaran dan keadilan di dunia. Tetapi terutama kami berterimakasih oleh sakramen ekaristi yang kami sambut dalam perayaan ini. Semoga daya ekaristi itu memampukan kami untuk berani mengorbankan diri kami seperti PuteraMu sendiri yang mengorbankan dan mengkomunikasikan diriNya bagi umat manusia demi kebenaran. Demi Yesus Kristus PuteraMu Tuhan dan Pengantara kami . . .

U : Amin

Pengumuman

Berkat akhir dan pengutusan

Lagu Penutup

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close