HarianJendela Alkitab

Benar-benar Merdeka

Rabu, 9 April 2014,

(Dan. 3:14-20,24,25,28; Yoh 8: 31-42)

“Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yoh.8:36)

Sekurang-kurangnya ada dua kemungkinan untuk bicara soal “merdeka”. Pertama, “merdeka dari” dan kedua “merdeka untuk”. Pada masa perjuangan dulu, santer harapan rakyat Indonesia untuk “merdeka dari” penjajahan Belanda maupun Jepang. Pada masa perjuangan sekarang, kita lebih membahasakan “merdeka untuk” mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal baik. Injil hari ini juga berbicara hal yang sama, yaitu tentang “merdeka”. Kita diajak untuk “merdeka dari” belengguh dosa supaya kita tidak menjadi hamba dosa. Menurut Yesus, seorang yang menjadi hamba dosa, bisa dibebaskan asal ia mau diubah dan berubah. Ia bisa menjadi orang yang benar-benar merdeka jika Anak Manusia yang memerdekakannya. Sengsara dan wafat-Nya di kayu salib telah membuat kita benar-benar terbebas dari kuasa dosa. Namun pada kenyataannya, meski seseorang telah dibabtis secara Katolik, tidak sedikit manusia yang tetap berdosa. Mengapa? Karena banyak orang yang tidak tetap tinggal dalam firman-Nya (bdk. Yoh. 8: 31-32). Sadar atau tidak, orang seringkali mau tetap hidup di dalam kebenarannya sendiri dan melupakan kebenaran yang sesungguhnya, yakni Yesus Kristus. Mereka “merdeka dari” belengguh dosa (asal) tapi tidak “merdeka untuk” mengisi kemerdekaan itu dengan firman Tuhan. Sehingga jatuh kembali dalam dosa dan tidak benar-benar merdeka.

Mereka yang tidak benar-benar merdeka, antara lain seperti ini: ada jenis orang yang tak pernah merasa bersalah dan lebih suka menyalahkan orang lain. Ada pula yang terus kukuh mempertahankan ego-nya sebab baginya keinginannyalah yang harus diikuti. Dan entah berapa banyak lagi yang menganggap apa yang dipikirkannya adalah kebenaran mutlak, misalnya dipilih menjadi anggota legislatif, lantas orang harus melayani mereka karena mereka adalah anggota warga negara yang terhormat. Orang yang demikianlah yang sulit untuk bisa terlepas dari perhambaan dosa. Melalui firman, Yesus memelihara kita untuk benar-benar terbebas dari perhambaan dosa. Maka bagi kita yang “merdeka untuk” tetap tinggal dalam firman-Nya, kita akan selalu mengetahui kebenaran yang mutlak dan kebenaran yang mutlak itulah yang benar-benar memerdekakan. Orang yang benar-benar merdeka, seperti murid-murid atau kita yang dipilih Yesus yang bertahan dalam firman-Nya. Saat kita dipilih, kita berkata dan bertindak menurut Sabda: bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani sesama terutama untuk mereka yang berkekurangan atau membutuhkan pertolongan.

Pertanyaan reflektif:

Kebenaran apakah yang sebenarnya bertentangan dengan firman Tuhan tetapi masih kita bertahankan sebagai bagian dari hidup kita, mungkin membelengguh kita, bahkan kita sulit melepaskannya dengan segala alasan-alasan kita?

Doa:

Allah Bapa sumber kebenaran sejati, lepaskanlah kami dari belenggu kebenaran kami sendiri yang tak sesuai dengan firman-Mu. Buatlah kami untuk bisa benar-benar merdeka karena mengikuti-Mu, bukan mengikuti kecenderungan-kecenderungan nafsu duniawi kami yang bisa membuat kami kembali menjadi hamba dosa. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

(RD. M.Harry Sulistyo)

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close