Urbi

Indahnya Pertemuan Antar Anggota Legio Marie Keuskupan Palangkaraya dan Keuskupan Banjarmasin

ACIES adalah kegiatan pertemuan tahunan sentral dari Legio Mariae. ACIES merupakan kata berbahasa Latin, yang mempunyai makna “balatentara yang siap sedia bertempur.”

Istilah ACIES sangat tepat sekali digunakan untuk perayaan ini dimana para legioner berkumpul, mengadakan upacara dan misa yang berlangsung hikmat untuk penyerahan diri dan pengucapan janji kesetiaan kepada Bunda Maria, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama.

Setiap legioner wajib menghadiri ACIES di setiap tahunnya, baik anggota Legio Mariae yang aktif maupun anggota auksiler (percobaan) beserta para pemimpin rohani dan asisten pemimpin rohani. Apa yang ditimba melalui ACIES nantinya akan dijadikan sebagai “bekal untuk pertempuran” satu tahun ke depan, mencari dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan.

Rekoleksi bersama
Sejak hari pertama, Sabtu sore, 29 Maret 2014, para peserta yang sudah hadir di Wisma Soverdi Palangkaraya mulai mengikuti rekoleksi yang langsung dipandu oleh para pengurus Senatus Bejana Rohani Jakarta, di antaranya: Laurensia Jenny Triratna Dewi, Octavian Elang Diawan, Stefanie Ida Kusumawati Widjaja dan Merlin.

Rekoleksi mengangkat tema: “Bertumbuh dalam Cinta, Bertumbuh dalam Kebijaksanaan.”

Jenny mengawali paparannya dengan penjelasan bahwa Allah menciptakan setiap pribadi manusia secara khusus dan untuk tujuan khusus karena cinta kasih-Nya. Demikian pula keberadaan alam semesta ini yang diciptakan amat sungguh baik.

Di bagian lain, Jenny berkisah tentang pengalaman pribadinya mengikuti Legio Mariae selama 12 tahun.

“Pada 10 tahun pertama keikutsertaan saya dalam Legio Mariae, saya menyadari bahwa apa yang saya jalani hanya sebatas mengisi waktu kosong saja. Meski di sisi lain saya mengakui bahwa saya rajin mengikuti rapat dan kegiatan-kegiatan Legio Mariae lainnya. Dua tahun silam, ketika saya terpilih sebagai perwira dalam kepengurusan Senatus Bejana Rohani Jakarta, saya baru menyadari bahwa ada hal-hal yang perlu diperhatikan secara fundamental (mendasar), sebagai pengejawantahan apa itu iman Katolik,” kata Jenny.

Menjelang akhir sesi pertama, Jenny mengajak semua yang hadir untuk berefleksi bersama seraya menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan, terkait dengan pengalaman dikasihi Allah dan pengalaman-pengalaman lainnya dalam kehidupan.

Malam harinya diadakan Misa Pembukaan yang dipimpin oleh Pastor RD Simon Edy Kabul Teguh Santoso dan Pastor RP Laurensius Ariston SMM.

Legio Mariae suasana misa acies
Misa Acies Legio Mariae dari dua keuskupan: Beminilah suasana misa acies kumpulan beberapa presidium Legio Mariae dari Keuskupan Banjarmasin dan Keuskupan Palangkaraya. (Dok. Komsos Keuskupan Banjarmasin/Dionisius Agus Puguh Santosa)

Dalam homili singkatnya Pastor Simon berharap agar setelah mengikuti kegiatan ACIES kali ini, para peserta dapat mengajak orang lain untuk berdoa dan bertemu dengan Tuhan.

Setelah peserta menikmati santap malam bersama, acara dilanjutkan dengan malam keakraban yang dipandu oleh Octavian Elang Diawan. Dalam kesempatan ini diperkenalkan masing-masing presidium beserta anggotanya yang hadir; baik dari Kuria Ratu Rosari Banjarmasin maupun dari Kuria Bunda Pemersatu Palangkaraya.

Tema yang sama

Hari Minggu, 30 Maret 2014, kegiatan diawali dengan misa yang dipersembahkan oleh Pastor RD Simon Edy Kabul Teguh Santoso, Pastor RP Laurensius Ariston SMM dan Pastor RP Damianus Juin CP.

Selanjutnya, para legioner kembali diajak untuk mendalami tema rekoleksi, yang pada kesempatan ini dibawakan oleh Octavian Elang Diawan dan Merlin. Siang harinya para perwira dari setiap presidium mengikuti rapat bersama sesuai dengan kurianya masing-masing secara terpisah. Untuk Kuria Ratu Rosari mengadakan rapat di ruang pertemuan Wisma Soverdi SVD, sedangkan untuk Kuria Bunda Pemersatu Palangkaraya menggelar rapat di Wisma Unio Keuskupan Palangkaraya.

Malam harinya, Pastor Simon Edy Kabul Teguh Santoso membagikan sharingnya kepada semua yang hadir. Pastor Simon mengungkapkan bahwa pengalaman ACIES tahun ini adalah membanggakan, karena belum pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. “Para peserta datang dengan kekuatan penuh dan spirit yang baru,” tegasnya.

Pendapat Legioner tentang ACIES tahun 2014

Ketua Kuria Ratu Rosari Banjarmasin Agustina Ryta Purwaningsih memberikan rincian peserta dari Keuskupan Banjarmasin yang terlibat dalam ACIES di Palangkaraya tahun ini. “Selama 6 tahun menjadi anggota Legio Mariae di Banjarmasin, baru kali ini saya merasakan pengalaman ACIES yang luar biasa sekali; baik dari segi anggota yang ikut, yang jumlahnya 3 kali lipat lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya ACIES setiap tahunnya dihadiri oleh + 80 orang legioner, sekarang dengan diadakannya ACIES bersama Kuria Ratu Rosari Banjarmasin dan Kuria Bunda Pemersatu Palangkaraya, peserta yang ikut mencapai + 280 orang legioner,” terang dia.

Menurut Ryta, Kuria Ratu Rosari Banjarmasin adalah kuria senior, dimana di dalamnya terdapat delapan presidium senior aktif dan satu presidium junior aktif. Nama ke-8 presidium senior, antara lain: Presidium Ratu Pencinta Damai Katedral, Presidium Maria de La Salette Veteran, Presidium Bunda Termulia Kelayan, Presidium Cermin Kekudusan Kotabaru, Presidium Bunda Hati Termuni Tanjung, Presidium Rosa Mystica Banjarbaru, Presidium Benteng Daud Stasi Landasan Ulin, Presidium Benteng Gading Stasi Landasan Ulin.

Sedangkan nama presidium juniornya adalah Presidium Bunda Kristus Kelayan. Dalam Kuria Ratu Rosari juga terdapat 2 presidium dalam pemeliharaan: Presidium Takhta Kebijaksanaan Pelaihari dan Presidium Bintang Laut Sungai Danau. Selain itu juga terdapat presidium yang masih baru (masa percobaan): Presidium Rahmat Ilahi Batulicin dan Presidium Perlindungan Orang Berdosa Batulicin. Sedangkan untuk presidium junior yang masih baru meliputi: Presidium Bunda Pencipta Banjarbaru, Presidium Bunda Segala Bangsa Banjarbaru, dan Presidium Bunda Penebus Banjarbaru.

“Dalam Kuria Ratu Rosari juga terdapat presidium yang tidak aktif (vakum): Presidium Perawan Yang Amat Bijaksana Veteran, Presidium Bunda Para Pendosa Tanjung, Presidium Putri Kerahiman Katedral, dan Presidium Maria Bunda Gereja Veteran,” jelas Ryta.

Untuk Kuria Ratu Rosari Banjarmasin, pelaksanaan ACIES kali ini adalah yang ke-20 kalinya. Dalam ACIES kita mengulangi janji kita kepada Bunda Maria, “Aku adalah milikmu ya Ratu dan Bundaku, segala milikku adalah kepunyaanmu.” Kita mengungkapkan janji kita sekaligus menyerahkan kembali diri kita, dan segala yang kita miliki.

Sebenarnya potensi di Kuria Ratu Rosari Banjarmasin untuk presidium junior sangat banyak sekali, terbukti di satu paroki saja di Banjarbaru, saat sosialisasi langsung terbentuk tiga presidium junior. Di Banjarmasin juga banyak sekolah-sekolah dan asrama-asrama Katolik; juga kelompok SEKAMI di paroki-paroki. Karena pengenalan mereka tentang Legio Mariae masih kurang, dimana kegiatan Legio Mariae dianggap terlalu disiplin dan notabene lebih banyak diikuti oleh orang tua.

Terobosan yang akan dilakukan ke depannya, akan mensosialisasikan Legio Mariae di kalangan anak-anak SEKAMI di paroki-paroki di Keuskupan Banjarmasin.

Legio Mariae janji
Janji iman: Para anggota Legio Mariae atau legioner mengucapkan janji iman pada kesempatan misa Acies bersama para presidium Legio Marie dua keuskupan yakni Keuskupan Banjarmasin dan Keuskupan Palangkaraya. (Dok. Komsos Keuskupan Banjarmasin/Dionisius Agus Puguh Santosa)

Salah seorang pengurus Senatus Bejana Rohani Jakarta Octavian Elang Diawan mengaku terkesan dengan penyelenggaraan ACIES tahun ini. “ACIES kali ini luar biasa dan istimewa banget, karena diikuti oleh legioner dalam jumlah yang besar. Kemudian dihadiri oleh 2 orang Uskup dan 6 orang imam. ACIES kali ini merupakan bentuk kecintaan dari para imam maupun para legioner dan kesungguhan panitia. Dan ini merupakan kegiatan ACIES yang istimewa, jika saya membandingkan dengan kegiatan-kegiatan ACIES serupa di keuskupan-keuskupan lainnya tidak seperti ini, termasuk di Jakarta sekalipun,” ungkap dia.

Elang memberikan contoh, untuk pelaksanaan ACIES di Senatus Bejana Rohani Jakarta biasanya dihadiri sekitar 100 orang, itu pun jumlah para legioner hanya separuhnya, sisanya adalah umat awam. “Saya melihat energi yang ada begitu nyata, rasanya saya ingin belum pulang menyaksikan situasi ini,” ucap Elang berapi-api penuh semangat.

Elang, berharap Legio Mariae dapat dimiliki oleh sebanyak orang dengan berbagai variasi umur (anak-anak, orang muda, orang tua). “Saya melihat Legio Mariae di sini mempunyai komposisi yang sangat bagus, dalam arti, semua rentang umur ada, dari mulai anak kecil sampai nenek dan kakek pun ada. Dan itu semua bila dilihat dari titik ekstrim yang paling muda dan yang paling tua menunjukkan sesuatu yang luar biasa.

Dari pengalaman berdialog dari hati ke hati dengan mereka, saya merasakan bahwa kehadiran mereka di tempat ini dipenuhi dengan sukacita sekaligus rasa haru. Kehadiran anak-anak dan kaum muda secara khusus menjadi perhatian yang istimewa, bagaimanapun gereja kita di masa depan akan dikendalikan oleh orang-orang muda ini. Jadi bila sedini mungkin mereka dikondisikan nyaman dengan gereja (dalam hal ini Legio Mariae), maka diharapkan ke depannya mereka semakin nyaman dengan gereja,” ungkapnya lebih jauh.

Elang juga menyimpan harapan besar bahwa dari Legio Mariae ini, orang-orang muda tidak hanya merasa nyaman ketika menjadi peserta saja, namun juga mau menjadi para leader gereja, menjadi agen perubahan, termasuk tumbuhnya benih-benih panggilan imamat.

“Kami akan mencoba merubah paradigma, dimana selama ini keanggotaan Legio Mariae cenderung didominasi oleh ibu-ibu dan para lansia dan Legio Mariae kurang bisa merangkul sebanyak mungkin orang.” janjinya.

“Jika boleh disebut, Legio Mariae selama ini kurang bisa menggarami, karena Legio Mariae akhirnya hanya diminati oleh kalangan tertentu. Kami sedang mengupayakan perubahan paradigma tersebut, dengan harapan Legio Mariae bisa diikuti oleh semua orang, semua umur, dan Legio Mariae bisa menjamah untuk semua area aktivitas gereja (koinonia, diakonia, martyria, liturgya, dan kerygma). Dan selama ini, Legio Mariae lebih banyak mengjangkau bidang diakonia, karena itu yang paling banyak dilakukan oleh anak-anak dan para orang tua, atau ibu-ibu,“ kata Elang kemudian.

Elang berpendapat, dengan adanya perubahan paradigma serta keikutsertaan Legio Mariae dalam kelima ranah tersebut, diharapkan orang muda, pria-wanita, masuk dalam keanggotaan Legio Mariae. Legio Mariae tidak hanya menjadi lapis kedua atau ketiga saja, namun sungguh-sungguh menjadi kebanggaan dari Gereja, menjadi tulang punggung gereja dan tidak hanya menjadi ban serep saja.

Sedangkan Fr. Mayolus Tiro, MSF yang baru pertama kalinya mengikuti kegiatan ACIES, mengaku mengalami suasana yang luar biasa di Palangkaraya. “Saat saya masih kecil, ibu saya adalah seorang legioner, dan saya sering mengikuti kegiatan Legio Mariae bersama ibu,” kesannya.

Fr. Mayolus memandang bahwa penyelenggaraan ACIES kali ini adalah sebuah kebanggaan besar; karena banyak orang muda maupun anak-anak legioner yang terlibat.

Seraya mengutip ungkapan dalam homili Mgr. Sutrisnaatmaka, dia mengatakan, “Jika sejak dini iman kekatolikan di tanamkan pada diri anak-anak, maka perkembangan iman mereka di masa depan dapat dipastikan baik.”

Fr. Mayolus meyakini bahwa iman adalah opsi fundamental (pilihan yang mendasar), sesuatu yang paling mendasar dan sangat menentukan kehidupan seseorang. “Dalam kegiatan Legio Mariae seperti ini, ini adalah perayaan iman, yang kemudian nantinya dapat diwujudkan dalam sikap praksis moral dalam kehidupan sehari-hari. Pihak Gereja hendaknya memberikan dorongan secara terus-menerus terhadap kegiatan seperti ini,” kata dia.

Tautan:  Dua Uskup, Dua Acies Legio Mariae Keuskupan Banjarmasin dan Keuskupan Palangkaraya Bertemu

Tags

Dionisus Agus Puguh Santosa

Umat Paroki Bunda Maria Banjarbaru, Banjarmasin, Kalimantan Selatan; anggota Komsos Keuskupan Banjarmasin, kontributor Majalah Keuskupan "Ventimiglia" dan Majalah "Hidup".

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close