Harian

Kamis 25 September 2014: Arahkan Hidup kepada Tuhan

Nabi Musa adalah orang yang sangat peduli terhadap rakyatnya. Dalam perjalanan di padang gurun selama empat puluh tahun, Nabi Musa membantu rakyatnya untuk setia kepada Tuhan. Berkali-kali ia mesti mengarahkan hati rakyat kepada Tuhan. Padahal mereka sering tidak peduli terhadap seruannya. Rakyat yang sedang kelaparan, misalnya, mengeluh kepada Nabi Musa. Tidak hanya mengeluh. Mereka juga mempertanyakan mengapa Nabi Musa membawa mereka keluar dari tanah Mesir.

Suatu ketika banyak rakyat yang dipagut oleh ular berbisa. Hal itu terjadi karena rakyat tidak percaya kepada Tuhan. Apa yang dibuat Nabi Musa? Ia memohon keselamatan bagi rakyatnya itu kepada Tuhan. Tuhan menyuruh Nabi Musa membuat tiang yang diberi ular tembaga di atasnya. Lantas Nabi Musa menacapkannya di tengah-tengah rakyat. Semua yang dipagut ular berbisa yang memandang kepada ular tedung itu memperoleh kehidupan.

Ternyata Tuhan begitu baik kepada rakyat yang berdosa melawannya. Tuhan tidak membinasakan mereka. Justru Tuhan membantu mereka untuk memperoleh kehidupan. Begitu besar kasih Tuhan kepada manusia.

Kasih Tuhan itu semakin besar ketika Tuhan Allah mengutus Yesus untuk membebaskan manusia dari kungkungan dosa. Cara Yesus membebaskan manusia dari dosa itu sangat tragis. Ia datang kepada umat milik kepunyaan-Nya, tetapi ditolak. Bahkan dengan cara yang sangat keji, mereka menangkap, menyiksa, mengadili dan membunuhNya. Mereka membunuh Yesus dengan menggantungnya di atas salib sebagai tanda penghinaan.

Tetapi apa yang terjadi sesudah penyiksaan yang keji itu? Yesus yang wafat di atas kayu salib itu kemudian bangkit pada hari ketiga. Yesus hidup lagi. Tentu hal ini pertama-tama karena kuasa Tuhan atas dirinya. Yesus itu nabi yang berkenan kepada Tuhan. Karena itu, Tuhan berkenan pula membangkitkan-Nya dari alam maut. Kematian tidak menguasainya. Ia bangkit dengan jiwa dan raga-Nya. Ia tetap hidup di tengah-tengah umat manusia.

Bagi orang kristiani, Yesus menjadi tokoh istimewa. Yesus menjadi perantara antara Allah dan manusia. Yesus memberi hidup kepada manusia, kalau orang mau menyerahkan hidup kepada Tuhan. Setiap orang yang mau meninggalkan dosa-dosanya dan mengandalkan Tuhan dalam hidupnya akan memperoleh kehidupan yang abadi.

Soalnya adalah apakah manusia mau menerima Tuhan sebagai satu-satunya penyelamat? Bukankah manusia mudah tergoda oleh hal-hal duniawi yang menawarkan kebahagiaan instan? Mari kita mengarahkan hidup kita kepada Tuhan. Dia tidak akan pernah menyakit kita. Justru Tuhan senantiasa menawarkan kasihNya kepada kita.

Tuhan memberkati.

Keterangan foto: Jalan menuju kehidupan: ilustrasi dari trololoblogg.blogspot.de

Tags

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI, Juli 2013-Juli 2019

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close