Teladan Kita

St. Gerardus dari Brogne, 3 Oktober

Gerardus dilahirkan di akhir abad kesembilan di Perancis. Keluarganya kaya raya, tetapi Geradus bukanlah seorang yang sombong. Sesungguhnya, ia dikenal sebagai seorang yang baik hati dan bersahabat. Sepulang dari pergi berburu, ia dan kawan-kawannya kembali ke rumah dalam keadaan capai dan lapar. Setelah mengundang teman-temannya masuk untuk makan minum dan beristirahat, ia sendiri pergi. Gerardus pergi menyelinap menuju sebuah kapel kecil yang berada dalam wilayah tanah miliknya. Ia berdoa untuk jangka waktu yang lama di sana. Tubuhnya yang lelah pun beristirahat dan ia lupa sama sekali mengenai rasa laparnya.

Gagasan muncul di benak Gerardus, andai saja orang banyak menyadari sukacita doa, maka pastilah mereka akan dengan lebih suka hati berdoa. Kemudian pikirannya pun melayang kepada para biarawan yang melewatkan sepanjang hidup mereka menyampaikan puji-pujian kepada Tuhan. Bayangkan betapa mereka beroleh hak istimewa, pikirnya. Maka berdoalah ia memohon kesempatan untuk mendapatkan panggilan religius dan akhirnya ia dapat bergabung dalam biara St Denis.

Gerards mencintai kehidupan yang telah dipilihnya dan setelah menamatkan pendidikan ia ditahbiskan menjadi seorang imam. Ia telah melewatkan sebelastahun sebagai seorang biarawan ketika kepadanya diberikan ijin untuk mendirikan suatu biara baru di tanah miliknya di Brogne. Biara berkembang, tetapi Gerardus merasa terlalu banyak aktivitas dan kesenangan di sana. Sebab itu ia membangun bagi dirinya sendiri sebuah gubug pertapaan di samping gereja. Ia tinggal di sana dengan tenang seorang diri.

Tetapi, ia tidak dibiarkan tinggal dalam damai untuk waktu yang lama. Para superior meminta Gerardus untuk mengunjungi biara-biara di Flanders dan Normandy. Para biarawan membutuhkan bimbingan dan pertolongan agar dapat lebih bertekun. Tugas ini menghantar Gerardus dalam banyak perjalanan selama duapuluh tahun. Sepanjang hidupnya Gerardus hidup dengan cara hidup yang ketat penuh matiraga. Ia melakukannya sebab ia ingin membuktikan kepada Yesus bahwa ia mengasihi-Nya. Ia menunjukkan kasihnya itu dengan suka hati mempersembahkan tindakan-tindakan kecil penyangkalan diri. Ketika tahu bahwa masa hidupnya di dunia akan segra berakhir, ia minta agar diijinkan kembali pulang ke gubug pertapaannya di Brogne. Ijin diberikan. Gerardus wafat dalam damai pada tanggal 3 Oktober 959.

 

St Gerardus menemukan cukacita doa yang berasal dari hubungan yang akrab mesra dengan Tuhan. Adakah suatu cara di mana aku dapat membina hubungan yang lebih akrab dengan Tuhan dalam hidupku sendiri?

Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI, Juli 2013-Juli 2019

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close