Harian

Setia dan Bijaksana; Ef.3:2-12 , Luk 12:39-48, (Renungan Hari Pangan Sedunia, 22 Oktober 2014)

Dunia sekitar kita saat ini adalah dunia yang dipenuhi dengan banyak penderitaan, khususnya mereka yang belum mampu memenuhi kebutuhan primernya yaitu makan. Mereka ini menderita kelaparan karena perang, bencana alam, dan kemiskinan absolut. Keprihatinan inilah yang juga akhirnya mengundang perhatian FAO (badan dunia untuk urusan pangan dan pertanian) dalam mencetuskan Hari Pangan Sedunia. Keprihatinan itu didasarkan atas kondisi di lapangan bahwa tidak tersedianya pangan yang cukup bagi lebih dari satu milyar manusia, yang sebagian besari dijumpai di Asia Pasifik.  Hak atas pangan adalah hak azasi manusia. Namun hak ini kerap diabaikan karena orang tidak peduli kepada sesamanya yang menderita dan berkekurangan. Karena itu membangun sikap bijaksana atas penggunaan pangan menjadi hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Kedaulatan pangan atas semua penduduk di bumi menjadi sebuah keharusan yang hendaknya menjadi kesadaran bersama.

Injil hari ini sangat jelas pesannya. Para murid diminta untuk senantiasa setia dan bijaksana. Menjadi setia dan bijaksana itu ibarat perumpamaan tuan rumah dan pencuri yang datang sewaktu-waktu. Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Yesus berfirman: “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat  yang tidak kamu sangkakan. “Menjadi murid yang baik artinya menjadi murid yang setia dan sekaligus bijaksana. Tampaknya Yesus sangat menghargai mereka yang setia dan bijaksana ini, terlihat dari perumpamaan yang tegas-tegas mengatakan bahwa pengurus rumah yang setia dan bijaksana itu akhirnya akan diangkat menjadi pengawas harta benda pemilik rumah. Sedang mereka yang kurang setia dan bijaksana akan menderita dan menerima “banyak pukulan”.  Perumpamaan ini tampaknya sangat hitam putih sifatnya. Namun ada pesan moral mendalam yang mau dikatakan: hendaklah kita senantiasa menjadi bijaksana dengan terus berjaga-jaga, mempersiapkan segala sesuatunya dengan peduli kepada orang  lain.

Inspirasi Injil hari ini mengajak kita untuk peduli kepada orang lain dengan mengembangkan sikap bijaksana dan setia dalam hal pangan. Sejauh mana aku memang sungguh bijaksana dalam memperlakukan pangan dengan makan secukupnya dan tidak berlebihan? Dengan peduli kepada orang lain?

Pertanyaan reflektif:

  • Paus Fransiskus pernah menyinggung adanya kebiasaan buruk membuang makanan. Paus Fransiskus mengatakan membuang makanan berarti juga merampas hak makan orang miskin. Sudahkah aku membiasakan diri untuk tidak membuang makanan?
  • Menjadi setia dan bijaksana berarti membangun semangat kepedulian kepada mereka yang membutuhkan, khususnya kepada mereka yang miskin dan berkekurangan. Sudahkah aku peduli kepada mereka yang kelaparan?

Doa:

Ya Tuhan ajarlah aku untuk semakin bijaksana dan peduli dalam memperlakukan pangan sebaik-baiknya. Semoga dengan kebijaksanaan itu semakin banyak orang kelaparan terbantu dan bisa menikmati pangan. Demi Yesus Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin. (RD H. Sridanto Aribowo)

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close