SEPUTAR VATIKAN

Sambutan Nuntius dalam Perayaan 125 tahun Gereja Katolik di Pulau Sumba.

Perayaan 125 tahun perjalanan Gereja Katolik di Pulau Sumba menjadi tahun Jubelium bagi umat Keuskupan Weetebula. Selama satu tahun diadakan pelbagai kegiatan di wilayah Keuksupan Weetebula, mulai dari Paroki, Dekenat dan Keuskupan. Perayaan tahunan ini memuncak dengan perayaan ekaristi meriah yang dipimpin oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia. Dalam kesempatan berahmat itu, Nuntius Mgr. Antonio Guido Filipazzi selain memimpin ekaristi juga menyampaikan kata sambutan dihadapan umat dan undangan lintas agama yang ada di Pulau Sumba. Berikut ini adalah kata sambutan Nuntio saat perayaan syukur 125 tahun Gereja Katolik di Pulau Sumba:

“Dengan sukacita saya bersama Anda dan untuk Anda merayakan Ekaristi Suci, yang merupakan Perjamuan Syukur sempurna bagi Tuhan atas segala anugerahNya. Hari ini rasa syukur kita kepada Tuhan ditunjukkan terutama atas seratus duapuluh lima tahun kehadiran dan perutusan Gereja di Sumba. Sudah seratus duapuluh lima tahun orang mewartakan Injil di tanah ini, orang merayakan Sakramen-Sakramen ,dengan demikian Gereja Kudus Tuhan hidup dan berkarya.

Saya sangat gembira menyampaikan kepada Anda semua – Mons. Edmund Woga CSSR, para imam, biarawan-biarawati, para keluarga dan seluruh umat beriman – salam dan berkat Paus Fransiskus, yang dengan hormat saya wakili kehadirannya di Indonesia.

Sesungguhnya, Gereja di Sumba, Keuskupan Weetebula adalah bagian dari keluarga besar Gereja Katolik dan oleh keterikatannya dengan keluarga besar inilah Injil diwartakan sampai kemari, berkat jasa para pria dan wanita dari bagian dunia lain yang tiba di Sumba untuk membagikan iman mereka pada Tuhan Yesus,   pembebas manusia yang satu dan sebenarnya.

Dalam ungkapan syukur kepada Tuhan, kita teringat kepada orang-orang yang telah menjadi sarana Tuhan sendiri dalam mewartakan Injil di Sumba. Kita kenang khususnya kedua imam Jesuit awal yang ditemani beberapa awam muda Flores mendarat pada tanggal duapuluh satu (21) April seribu delapanratus delapanpuluh sembilan

(1889). Dan, sesudah mereka, kita kenang para misionaris (SVD) dan, kemudian, para Redemptoris, putra-putra S. Alphonsus Maria Liguori, beserta Kongregasi biarawan biarawati lain yang ada di Keuskupan.  Bersama para pewarta Injil yang datang dari luar, bergabunglah kaum lelaki dan perempuan Sumba imam, biarawan, suster, seminaris, keluarga dan awam, yang tidak saja menanggapi Injil, bahkan mereka sendiri menjadi pekerja dalam perutusan Gereja disini, di bagian Indonesia lainnya dan bahkan di dunia.

Peringatan Jubileum ini bukan lah semata-mata sebuah titik pencapaian, dimana orang berhenti dengan rasa puas diri dan duduk-duduk manis, tetapi ia haruslah menjadi sebuah saat refleksi, doa dan bersukacita untuk mengayunkan kembali langkah Gereja di Sumba.

Sesungguhnya, masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, pekerjaan yang harus ditingkatkan dalam jumlah, namun terlebih dalam kualitas hidup Kristiani. Janganlah lupa bahwa kita biasanya mengukur berdasarkan angka-angka statistic saja, sementara di hadapan Tuhan setiap insan memiliki makna, lewat iman dan amal kegiatannya, lewat kekudusan dan karya kerasulannya didalam Gereja dan di dunia.  Kita semua wajib saling membantu dan mendukung setiap orang agar dihadapan Tuhan ia semakin lebih kristiani, bermurah hati, lebih terlibat, lebih kudus dan bersemangat missioner. Dengan demikian akan semakin berarti dan bernilai merayakan jubileum seperti ini, karena menjadi inspirasi bagi langkah yang masih menanti kita di kemudian hari.

Kita bawa warta gembira bahwa Kristus telah membebaskan kita. Bahwa ini merupakan suatu kabar luar biasa, karena setiap orang yang terbelenggu secara eksternal, bahkan dewasa ini sudah lebih internal sifatnya, berpeluang menjadi sungguh-sungguh bebas. Hanya Kristus yang membuat kita sungguh bebas dan bukan yang lainnya! Injil dengan kebenarannya dan cinta kasihnya cukup membebaskan kita, dan tak perlu lagi ideologi sosial, politik atau ekonomi. Pembebasan yang dibawa Kristus, terlebih dan terutama adalah pembebasan dari dosa. Bila manusia masih menjadi budak dosa dan budak dunia, kebebasan eksternal bukanlah sungguh sebuah kebebasan, alih-alih kebebasan itu bisa membawa ke perbudakan internal yang semakin lebih besar.

Ijinkanlah saya memberikan suatu rekomendasi bagi karya masa depan Keuskupan Weetebula, dengan menimba inspirasi dari Pendiri Redemptoris – Santo Alfonsus Maria Liguori, dan dari pesan berulang-ulang Paus Fransiskus tentang belas kasih Tuhan. Sungguh perlu menyambut pembebasan Kristus yang kita terima melalui Sakramen Pengakuan, yang dilakukan secara teratur dan benar. Sayangnya, sudah beberapa waktu terakhir, Sakramen ini tengah mengalami krisis berat dalam teori dan praktek, dan masih terus berlangsung, juga di Indonesia. Disinilah mungkin letak sumber berbagai keburukan dan permasalahan dalam Gereja dan juga masyarakat! Oleh karenanya, saya mengajak Keuskupan Weetebula untuk bertindak dengan sungguh dalam karya pastoral Sakramen Pengakuan. Saya mengajak para imam projo dan biarawan untuk terlebih dahulu menerima sakramen Pengakuan ini, untuk mempersiapkan diri dalam studi dan doa bagaimana melayani Sakramen ini, untuk mendidik umat beriman dan untuk menyediakan diri dan bermurah hati dalam melayani saudara-saudari mereka. Saya mengajak seluruh umat beriman agar lebih sering dan secara baik menerima Sakramen Pengakuan. Janganlah jatuh dalam kemalasan atau kebiasaan serta pemikiran yang sesat yang membuat kita menjauh dari Pengakuan Dosa! Bagi orang muda, sakramen akan juga menjadi tempat bantuan merenungkan panggilan mereka. Bagi para imam, biarawan, biarawati, orang yang berumah tangga,  Sakramen akan menjadi sarana yang ampuh untuk memperoleh bimbingan dan dukungan dalam menanggapi secara setia panggilan masing-masing.

Melalui pengalaman pembebasan secara pribadi, yang telah Kristus berikan kepada kita, kita akan bisa menyampaikan pembebasan ini kepada yang lain-lain, hingga bersama dengan kita dan seperti kita mereka mengalami sukacita seorang anak durhaka yang pulang kembali ke rumah Bapa. Inilah, sesungguhnya, dasar, prasyarat bagaimana menjadi pewarta Injil dan sekaligus pembangun masyarakat sipil: memelihara terutama kehidupan dan formatio Kristiani.

Keuskupan Weetebula yang terkasih, ambillah kembali langkahmu dalam bimbingan Tuhan dan Roh KudusNya! Teruslah membawa sukacita dan penuh kesetiaan bagi semua orang Kabar Sukacita bahwa Yesus adalah kebenaran dan cinta kasih yang membuat kita sungguh-sungguh bebas!”

 

Salam dan Berkat Tuhan

Mgr. Antonio Guido Filipazzi

Duta Besar Vatikan untuk Indonesia

 

Keterangan foto: Mgr. Antonio Guido Filipazzi saat membawakan kata sambutan dalam Perayaan Misa Syukur 125 tahun Gereja Katolik di Pulau Sumba.

Tags

RD. Kamilus Pantus

Imam diosesan (praja) Keuskupan Weetebula (Pulau Sumba, NTT); misiolog, lulusan Universitas Urbaniana Roma; berkarya sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI, Juli 2013-Juli 2019

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close