HarianJendela Alkitab

Renungan Harian Kamis, 13 November 2014

Filemon 1:7-20 : Lukas 17: 20-25

Kita selalu membuat berbagai pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang kita buat hanya dengan tujuan agar dapat diketahui kejelasan terhadap apa yang belum kita pahami. bahkan dalam kitab mazmur, melihat manusia sebagai sebuah pertanyaan paling besar dan mereka tidak akan pernah mendapatkan jawaban dari pihak mereka sendiri. Jawaban atas pertanyaan mereka (bahkan manusia sebagai sebuah pertanyaan besar) hanya akan didapat bila manusia kembali memahami kenyataan hidupnya dalam relasi dengan Allah.

Untuk itulah, kita tidak berhak untuk melakukan sesuatu hal hanya untuk dikatakan oleh orang lain bahwa kita baik. Kebaikan dibuat karena memang seharusnya dibuat. Kebaikan dibuat tidak karena sebuah keterpaksaan. Kebaikan dibuat dengan dasar sukarela. Bahkan bila tindakan kebaikan itu harus berkonsekuensi pada sebuah kecaman. Penolakan. Sindiran. Semisal pada diri rasul Paulus. Konsekuensi dari kebaikan yang ia buat dengan dalil pewartaan injil Kristus adalah penjara. Penjara menjadi rumah baginya manakala penolakan dibuat oleh orang-orang yang membenci Kristus. Kebaikannya mendatangkan hasil. Pertahanan dirinya membuahkan hasil yang baik. Kebaikan dan pertahanan dirinya ia dapatkan dari Kristus yang telah memberi diri seutuhnya sampai wafat di kayu salib.

Dan kebaikan bagi kita itu selalu berhubungan dengan hal-hal besar. Sadisnya, kita selalu melihatnya dalam takaran di luar diri kita. Jika kita menerima pemberian orang lain yang mewah, kita menganggap orang itu sangat baik. Sementara pemberian yang sederhana dan yang kecil bisa saja kita beranggapan sebagai sebuah penghinaan. Hal itu, karena kita lebih melihat dari besar kecilnya sebuah pemberian tanpa melihat ketulusan dan nilai dari pemberian itu. Kerajaan Allah sebagaimana kita baca dalam teks injil hari ini, lagi-lagi dilihat sebagai sesuatu yang lahiriah. Sesuatu yang terlihat fisik. Sesuatu yang pasti bombastsis. Sesuatu yang akan membuat kita terperangah karena datangnya dari luar diri kita. Sementara Yesus memperlihatkan sebuah kenyataan lain dari apa dinamai sebagai kerajaan Allah. “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah.” Maka sebenarnya yang sangat diperlukan dari kita untuk melihat kedatangan kerajaan Allah adalah dengan keheningan. Keheningan dalam hal ini adalah keheningan berpikir. Keheningan batin. Semuanya ini diperlukan untuk merasakan kehadiran kerajaan Allah itu pertama-tama dalam hati kita masing-masing. Bahkan, kerajaan Allah itu merupakan sebuah kenyataan penderitaan yang membuahkan kebahagiaan bagi segenap umat manusia. Dan, salib menjadi simbol semuanya. Salib menjadi simbol penderitaan yang menyelamatkan.

Tags

RD. Hiro Nitzae

Imam dari Keuskupan Agung Kupang; pastoral rekan di Paroki Penfui Kupang.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close