Teladan Kita

B. Henry dari Treviso, 10 Juni

HENRY dilahirkan di Bolzano, Italia pada tahun 1250. Keluarganya amat miskin, sebab itu ia tidak beroleh kesempatan untuk belajar membaca dan menulis. Setelah remaja, Henry pindah ke Treviso untuk mendapatkan pekerjaan. Ia menjadi seorang buruh harian. Sedikit saja orang yang tahu bahwa Henry membagi-bagikan sebagian besar penghasilannya kepada kaum miskin. Ia ikut ambil bagian dalam Misa setiap hari dan menyambut Komuni Kudus sesering yang diijinkan. Henry mencintai Sakramen Tobat juga dan mendapati sakramen pengampunan Allah ini sungguh membesarkan hati. Orang mulai memperhatikan orang Kristen yang bagaimana Henry itu. Penitensinya adalah bekerja giat dalam pekerjaan. Ia melewatkan banyak waktu setiap harinya untuk masuk dalam doa pribadi, biasanya di gereja. Henry dikenal akan ketenangan dan kelemahlembutannya. Terkadang orang mengoloknya sebab ia begitu amat sederhana. Sementara semakin bertambah usianya, Henry mulai tampak kusut dan bongkok. Anak-anak melontarkan ejekan atas penampilannya yang aneh itu. Tetapi Henry tidak marah. Ia paham bahwa mereka tidak mengerti bahwa mereka dapat melukai hatinya.

Ketika Henry telah terlalu tua dan lemah untuk dapat bekerja, seorang sahabat bernama James Castagnolis membawanya masuk ke dalam rumahnya sendiri. Castagnolis memberinya sebuah kamar tempat tinggal dan makanan apabila Henry menghendakinya. Beato Henry bersikukuh hidup bergantung pada amal kasih penduduk Treviso. Mereka murah hati dalam amal kasih mereka berupa makanan, sebab mereka tahu Henry membagikan amal kasih mereka kepada banyak orang yang miskin dan tak memiliki tempat tinggal. Pada masa akhir hidupnya, Henry nyaris tak dapat berjalan. Orang memandang kagum sementara orangtua ini menyeret diri ke gereja untuk ikut ambil bagian dalam Misa pagi. Seringkali pula ia mengunjungi gereja-gereja setempat lainnya, dengan terseok-seok maju ke setiap tujuan.

Betapa misteri yang terkandung dalam diri orang saleh ini. Ketika ia wafat pada tanggal 10 Juni 1315, orang banyak memadati biliknya. Mereka menginginkan sebuah relikwi, sebuah kenangan. Dan mereka menemukan harta bendanya: pakaian kasar matiraga, sepotong balok kayu yang adalah bantalnya, dan setumpuk jerami yang adalah tempat pembaringannya. Jenazah Henry dipindahkan ke katedral agar semua orang dapat menyampaikan hormat mereka. Lebih dari duaratus mukjizat dilaporkan terjadi dalam beberapa hari sesudah wafatnya. Henry dari Treviso dimaklumkan sebagai “beato” oleh Paus Benediktus XIV.

Kesahajaan dan kemurahan hati menandai hidup orang kudus ini. Bagaimanakah aku mengamalkan hidupku sebagai seorang Kristiani?

Sumber:  “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

Credit Photo: Beato Henry dari Triveso, parokiarnoldus.net

 

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close