OPINI

Mesbah Kudus Suami Isteri (14)

      Dari Mesir  Ke Tanah Terjanji

SATU syarat bagi setiap calon pasangan nikah yaitu mereka harus sudah memiliki rumah sendiri.  Kelengkapan dari rumah itu adalah gudang makanan, kebun, ternak dan tabungan. Itu artinya mereka harus mulai mandiri, bertanggungjawab atas hidup mereka sendiri.  Tidak ada orang lain selain suami istri bertanggungjawab atas  pasangannya, membahagiakan pasangan hidupnya dan anak –anak buah cinta mereka.   Dalam kenyataan  belum banyak pasangan yang siap  memasuki bahtra kehidupan keluarga dan benar-benar mandiri.

Ibu Hartini, bukan nama sebenarnya merasa letih dan capeh menghadapi perilaku ibu mertuanya.  “Siang malam aku selalu menjadi orang yang kalah.  Saya bukan lagi  seorang ibu  yang bertanggungjawab pada kehidupan keluargaku, suami dan anak melainkan  pembantu rumah tangga ibu mertuaku.  Banyak energi terkuras habis dalam   relasi  penuh konflik  dengan Ibu mertua yang bertindak sebagai penguasa dalam keluargaku. Suamiku  kemudian  tidak bisa mengendalikan emosi lalu ikut memojokan aku dan membela Ibunya.   Akulah yang salah dan kalah”.

Pengalaman  tertindas  itu terasa bagaikan pengalaman bangsa Israel di Mesir.  Bangsa Mesir di bawah kuasa Firaun  melakukan penindasan, kekerasan terhadap bangsa Israel.   Keputusan Allah membawa keluar bangsa israel dari Mesir di bawah pimpinan Musa adalah satu pilihan yang tepat. Sejalan dengan pengalaman bangsa Israel itu, Ibu Hartinipun memutuskan untuk segera meninggalkan  rumah, tinggalkan suami dan anak.  Pilihannya untuk  keluar dari situasi  yang menindas ternyata merupakan satu pilihan yang membawa angin segar bagi kehidupan keluarganya.

Di luar sana, tepatnya di Timor  Leste ia menemukan peluang kerja yang memberi harapan hidup.  Ia kembali menjemput anak dan suaminya.  Perjalanan  keluar  dari tanah kelahiran merupakan kesempatan berahmat.  Mereka benar-benar merasa diri sebagai orang bebas  dan mandiri menentukan pilihan hidup sendiri.

Timor Leste  bagaikan tanah terjanji. Di tempat ini Ibu Hartini, suami dan anak hidup bahagia.  Mereka mulai terbuka melihat potensi dalam diri yang bisa mengubah kehidupan mereka. Banyak kegiatan kreatip dan halal sesuai bakat mulai mereka kerjakan. Berkatpun mulai mengalir dalam kehidupan keluarganya hari demi hari.

Konflik memang membuat orang putusasa. Tetapi bukan demikian  pada Ibu Hartini dan keluarganya.  Ia berani melihat harapan hidup di masa depan, berani memutuskan pilihan yang terbaik dan berani pulah mewujudkan  impiannya.   “Saya tidak pernah diam.  Saya selalu tergerak untuk mencari jalan  terbaik di tengah kesulitan hidup keluargaku.  Saya tahu kepada siapa saja aku bisa  bertanya dan menemukan jalan hidup yang benar”, ucap Ibu Hartini.

Hidup manusia memang mesti mengalir terus  seperti air. Sekalipun  air itu harus menghadapi kesulitan tetapi ia selalu dapat menemukan jalannya.  Ia harus  mengalir dan memberi kehidupan.   Pikiran, perasaan  atau emosi  bahkan cita-cita manusia pun tidak boleh terhenti dan membeku di tempatnya. Allah menciptakan manusia dengan kemampuan itu untuk terus berkreasi, terus bergerak mewujudkan keberadaannya demi hidup itu sendiri yang Allah anugerahkan kepada kita.

Mengelolah kehidupan keluarga adalah  satu seni.  Di dalam  kesulitan apapun suami-istri  mesti menemukan seni bagaimana mengembangkan pikiran, bakat dan kesanggupannya. Buah dari seni mengembangkan potensi  dalam diri itu  adalah   semangat baru,  bangkit dan bergerak menuju  kemandirian  dan kemerdekaan dari segala tekanan atau penindasan.  Keluar dari Mesir  adalah juga berarti keluar dari kemalasan, kebodohan, keangkuhan diri;  berani meninggalkan  satu bentuk kehidupan yang beku dan mati rasa,  mati inisiatip.

Konflik  apa yang  sedang  atau  akan terjadi dalam kehidupan keluarga anda?  Temukan sebab-sebanya dan mulailah  dengan berani melakukan gerakan keluar  dari ‘Mesir’  menuju ‘tanah terjanji’ yaitu hidup keluarga yang sejahtra, mandiri dan merdeka.    Gerakan keluar  dari ‘diri sendiri’ itu adalah satu seni bagaimana mengelola semua potensi dalam diri anda sendiri untuk  kehidupan keluarga anda.  ***

 

Kredit Foto: Ilustrasi (Ist)

 

Tags

RD. Anton Prakum

Dithabiskan menjadi Imam pada 9 Juni 1991 di Mulankera, Lembata, Guru dan pembina para calon imam di Seminari San Dominggo Hokeng tahun 1994-2003, saat ini bertugas sebagai Pastor Paroki Sta Bernadete Soubirous Pukaona Keuskupan Larantuka. Menjadi kontributor pada Majalah Hidup dan beberapa media lokal di NTT.

Related Articles

Check Also

Close
instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close