Urbi

Renungan Harian : Jumat, 13 November 2015

13 November 2015

Bac. I: Keb.13:1-9

Bac. Injil: Luk. 17:26-37

 Kejarlah Nilai Kudus Di balik Sarana Rohani

SAYA masih ingat peristiwa yang menyedihkan setelah saya merayakan perayaan ekaristi di kota tertentu. Saat itu ada seorang bapak marah besar kepada bapak yang lain karena kalung rosario miliknya yang terbuat dari emas terjatuh dan putus karena disenggol oleh seorang ibu. Bapak itu marah dan memaki bahwa ibu berdosa karena kalung rosarionya rusak. Ironisnya adalah pemilik kalung rosario tersebut baru selesai misa dan adalah seorang prodiakon. Beberapa umat yang berada dekat dengan posisi mereka, menghampiri dan meleraikan perselisihan tersebut. Ketegangan dapat dicairkan hanya kemarahan dan cacian masih melekat pada diri mereka.

Kitab Kebijaksanaan Salomo menekankan bahwa dengan hal-hal duniawi manusia hendaknya bisa mengalami hal-hal rohani. Ada empat nilai yang disampaikan Max Scheler. Nilai kesenangan adalah nilai yang dikejar bedasarkan penginderaan manusia. Manusia bisa merasakan sesuatu sebagai hal yang enak atau tidak enak. Nilai vital adalah nilai dikejar yang mendukung kehidupan seperti nilai takut, berani, lemah, kuat, sehat dan sakit. Nilai kejiwaan merupakan nilai yang bedasarkan benar, baik dan indah serta nilai keadilan. Nilai kekudusan adalah nilah yang dialami bedasarkan pengalaman rohani yang timbul melalui tindakan-tindakan duniawi.

Contoh diatas menunjukkan bahwa manusia masih berhenti pada benda. Manusia memberhalakan benda melalui sikapnya metuankan benda tersebut atas dirinya. Ia masih melihat sarana sebagai nilai senang atau tidak senang.  Ia melekatkan diri dengan materi. Materi tidak dikontrol malah sebaliknya mereka dikontrol oleh materi. Sikap memperbanyak materi bisa saja berarti memperluas egoisme. Kelekatannya terhadap kalung rosario adalah kelemahannya sehingga ia mencoba kuat dengan kemarahannya. Kemarahan dan makiannya seolah-olah benar namun buruk secara keadilan. Kalung rosario adalah sarana walaupun terbuat dari bahan yang murah atau mahal sekalipun. Ia lebih suka marah dan memaki dibandingkan berbicara dengan suasana kekeluargaan walaupun ia seorang prodiakon. Hal ini menunjukkan bahwa ia berusaha mengejar nilai kekudusan hanya dengan memahami perbuatan baik dan berdoa hanya di dalam Gereja dan tidak mewujudkan dalam kehidupan sehari hari.

Saudara-saudari terkasih, marilah kita behentikan sikap memberhalakan benda dan memperluas egoisme materi dan ketakutan rohani yang berlebihan. Manusia boleh mengejar materi dan kerohanian lebih baik namun tidak berhenti pada benda yang seolah-seolah menjadi jimat yang akan menolong dan menambah harga diri. Kita mengenal Allah dibalik nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Jangan sampai kita puas pada keindahan, kebenaran dan keindahan menurut egoisme kita.  Kita sebaiknya berusaha mengejar nilai kekudusan dan tidak berhenti pada benda sebagai sarana. Nilai kekudusan lebih kekal daripada nilai kesenangan. Yesus menegaskan dalam Injil Lukas 26-37 pada hari ini. ***(Fr. Segu)

 

Kredit Foto: Rosario kudus, pandu.katolik.or.id

 

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close