KATEKESE

Mengetahui Sejarah dan Fungsi Skapulir

SKAPULIR adalah benda berbahan kain (biasanya wol) yang digunakan pada bahu. Pasalnya, kata skapulir berasal dari kata Latin scapula, yang artinya bahu. Bentuknya pun beraneka ragam dan warna. Skapulir merupakan tanda yang mengungkapkan komitmen sang pemakai kepada kehidupan kontemplatif.

Dasar biblis skapulir? 2 Raja 2:2-18 salah satunya. Kisah tentang Nabi Elia dan Elisa. Elisa mewarisi mantol Elia setelah ia terangkat ke surga.

Salah satu skapulir yang sudah disetujui Gereja Katolik adalah skapulir coklat Sta. Perawan Maria menampakkan diri kepada St. Simon Stock yang digunakan Ordo Karmelit. Sejarah Ordo Karmelit sendiri berasal dari Gunung Karmel, tempat Nabi Elia dan pewahyuan kuasa Allah terhadap penyembah Baal (1 Raja 18:20-46). Selain itu, orang-orang zaman dulu yang membaca Kitab Suci ingin hidup seperti para nabi dan menanggapi panggilan menjadi pertapa di Gunung #Karmel. Itulah asal usul Ordo Karmelit.

Skapulir yang satu ini terdiri dari dua potongan kain coklat persegi yang dihubungkan dengan dua tali sehingga ketika dipakai, satu kain akan ada di dada dan satunya di punggung.

Di tahun 1251, seorang Karmelit bernama Santo Simon Stock (Ia dijuluki ‘stock’ karena tinggal dalam rongga sebatang pohon) menyaksikan penampakkan Maria. Bunda Maria memberikan habit (pakaian khusus rahib) sebagai tanda cinta istimewa dan janji perlindungan seorang ibu bagi umat Putranya.

Dasar devosi skapulir ini adalah bahwa Maria dengan semangat dan spiritualitas keibuannya, akan mencintai setiap kita sama seperti yang Ia lakukan kepada Yesus, sekarang dan waktu kita mati.

Skapulir adalah tanda konsekrasi total diri kita (usaha penyucian diri kita supaya serupa dengan Maria -karena skapulir coklat berdevosi kepada Maria), sehingga patutnya kita terus diingatkan untuk hidup dengan kualitas hidup Maria. Doa rutin pemakai skapulir ini kepada Bunda Maria adalah: “Pakai aku hari ini”. Seperti yang Pius XII juga katakan, sebagai seorang pencinta berat skapulir, “Tentunya Bunda kita yang terlembut tidak akan menunda -bahkan secepat mungkin- membukakan gerbang kerajaan surga bagi anak-anaknya.”

Dalam penampakan tersebut, Maria mengatakan bahwa orang yang meninggal dengan mengenakan skapulir ini tidak akan pernah disiksa oleh api yang kekal.

St. Yohanes Paulus II mengatakan bahwa skapulir itu ampuh karena ia merupakan suatu habit, baik dalam arti yang sesungguhnya (jubah) ataupun sebagai habitus (pola hidup) beriman.

Sta. Theresia dari Lisieux berkata, “Betapa bahagianya saya bahwa Anda mengenakan skapulir suci! Itulah tanda pasti dari nasib Anda!”

Pustaka:
Hahn, Scott. 2011. 40 Signs of Life. Malang: Dioma Publishing
Catatan “The Brown Scapular of Our Blessed Lady of Mount Carmel”

Kredit Foto: catholiccompany.com

Tags

Kevin Sanly Putera

Jurnalis lepas, videografer, trainer, Tim Komsos KWI

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close