HarianJendela Alkitab

Renungan Harian│Selasa, 19 Januari 2016 Hari Biasa (H)│1Sam.16:1-13; Mrk.2:23-28│

PADA suatu pagi yang cerah, seorang pastor yang akan memimpin misa kedatangan seorang berwajah muram. Dengan gelisah orang tersebut bertanya, “Pastor, apakah saya masih bisa menitipkan intensi untuk misa pagi ini?” “Maaf sekali. Sudah intensinya,” jawab si Pastor. “Tapi, Pastor, tak bisakah Pastor mengusahakannya? Hari ini adalah hari meninggalnya ayah saya. Kami selalu membuat intensi khusus demi keselamatan jiwa ayah setiap tahunnya. Pastor, saya merasa ngeri jika tahun ini tak ada misa yang diintensikan untuk ayah saya,” rayu orang itu lagi dengan muka memelas.

Ada kesan bahwa orang yang datang pada pastor itu begitu ketakutan. Dari desakannya untuk mengaplikasikan intensi, ada kesan seakan-akan ayahnya yang telah wafat akan melakukan suatu tindakan yang mengerikan jika namanya tak disebut di dalam misa pagi itu. Dengan kata lain, upacara dan ritus keagamaan seolah-olah dipakai untuk menjamin dan mengatur sesuatu atau seseorang. Semacam itulah yang direkayasa oleh orang-orang Farisi. Dengan mencuci tangan, tak memetik bulir gandum pada hari Sabat, dan ketaatan pada aturan-aturan lainnya, mereka mencoba menggenggam dan menguasai hidup mereka, sesama, dan alam ini. Bahkan, sebisa mungkin, melalui perilakunya itu, sepertinya mereka juga ingin mengontrol dan menguasai Allah.

Tentu saja Yesus tak setuju dengan praktik hidup semacam itu. Untuk itulah Yesus lantang berkata, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Dengan kata-kata-Nya itu, Yesus tak bermaksud melawan hukum, ritus keagamaan, atau bahkan Kitab Suci. Yesus lebih ingin melawan praktik keagamaan yang mengontrol dan membatasi cinta dan belaskasih Allah. Hari ini Yesus menunjukkan kepada kita bahwa cinta, belas kasih Allah lebih besar daripada segala bentuk praktik keagamaan. Marilah kita menggunakan sarana dan praktik keagamaan, Kitab Suci, dan sebagainya itu lebih untuk semakin mengenal betapa panjang, dalam, dan lebarnya cinta kasih Allah, dan bukan untuk membatasinya.***

 

Kredit Foto: Seorang anak kecil berwajah muram,www.ayeey.com

 

Tags

RD RF Bhanu Viktorahadi

Imam diosesan (praja) Keuskupan Bandung; sekarang menjadi staf pendidik Seminari Tinggi Fermentum Keuskupan Bandung dan dosen filsafat Universitas Katolik Parahyangan.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close