HarianJendela Alkitab

Renungan Harian│Rabu, 20 Januari 2016 Hari Biasa (H) │1Sam.17:32-33.37.40-51; Mrk.3:1-6│

TAK selamanya marah itu buruk dan membuat sakit seseorang. Dalam sejumlah konteks, marah bisa menjadi tanda sehat. Yang penting, yang terjadi bukanlah marah terus-menerus dan tanpa alasan. Seseorang dapat menyalurkan akumulasi ketegangan psikologis dengan melampiaskan amarahnya. Melampiaskan tegangan yang dirasakan dalam bentuk kemarahan adalah menyehatkan. Akibat lain dari kemarahan yang wajar adalah sembuhnya orang lain yang terkena kemarahan itu. Syaratnya, kemarahan yang terlontar itu terukur dan terkendali. Dengan kemarahan semacam itu seseorang dapat terkoreksi dan terhindar dari kesalahan yang terjadi terus-menerus atau kesalahan yang terjadi secara otomatis dan spontan.

Injil hari ini mengisahkan Yesus yang terkadang melampiaskan rasa marah-Nya, bahkan sampai luar biasa mengamuk saat mengusir para pedagang dari Bait Allah di Yerusalem. Penyebab kemarahan Yesus adalah kedegilan hati atau keras kepalanya orang-orang yang mengambil keuntungan dari praktik-praktik keagamaan. Kedegilan yang dimaksud Yesus adalah sikap batin yang tak berkehendak baik untuk mengungkapkan kebenaran kendati pribadi yang bersangkutan mengetahui secara persis duduk perkaranya. Orang-orang Farisi dan mereka yang berada di sinagoga mengetahui bahwa melakukan kebaikan dan menyelamatkan kehidupan itu boleh di mana pun dan kapan pun. Akan tetapi, niat jahat menghalangi mereka untuk mengungkapkan kebenaran.

Kepentingan pribadi dan golongan bisa mewarnai moralitas dan tindakannya. Kebenaran yang seharusnya berlaku umum dalam kenyataannya sering dijadikan relatif dan disesuaikan atau dikompromikan dengan kondisi tertentu yang menguntungkan pihak-pihak tertentu saja. Tak jarang akibatnya, kebenaran ilahi diberangus atau dibungkam. Misalnya, seruan Gereja dalam Ajaran Sosialnya tentang besaran upah yang menyejahterakan dan wajar bagi para pekerja awam di lembaga-lembaga gerejawi kerap kali dikalahkan oleh tuntutan mengabdi Gereja seperti yang dilakukan para imam atau biarawan-biarawati. Semoga di zaman ini, Yesus tak perlu lagi meluapkan amarahnya akibat melihat kita melakukan tindakan-tindakan yang tak sesuai dengan kehendak-Nya.

 

Kredit Foto: Cara positif melampiaskan marah,Ilustrasi (Ist)

Tags

RD RF Bhanu Viktorahadi

Imam diosesan (praja) Keuskupan Bandung; sekarang menjadi staf pendidik Seminari Tinggi Fermentum Keuskupan Bandung dan dosen filsafat Universitas Katolik Parahyangan.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close