HarianJendela Alkitab

Wujudkan Apa Yang Kita Pikirkan Dan Katakan (Siraman Rohani 13/12/2016)

Wujudkan Apa Yang Kita Pikirkan Dan Katakan (Matius 21: 28-32)

 Saudara-saudari…

Hari ini kita merayakan Pesta Santa Lusia. Dia adalah anak seorang bangsawan Italia dari keluarga Kristen. Ayahnya meninggal sewaktu Lusia masih kecil. Sejak kecil ia punya kerinduan untuk hidup suci. Tetapi sewaktu dia beranjak dewasa, ia didesak oleh ibunya untuk menikah dengan seorang pemuda kafir. Sewaktu ibunya sakit, Lusia mengajak ibunya untuk berziarah ke makam santa Agatha di Kathania. Usulan Lusia ditanggapi secara positip oleh ibunya. Apa yang dikatakan Lusia ternyata benar-benar dialami oleh ibunya. Doa permohonan mereka dikabulkan Tuhan. Sang ibu sembuh. Sebagai tanda syukur Lusia diizinkan oleh ibunya untuk tetap teguh dan setia pada kaul kemurnian demi Kristus. Pada waktu itu kekaisaran Romawi diperintah oleh Diokletianus, seorang kaisar kafir yang bengis. Orang Kristen yang gigih membela dan mempertahankan imannya menjadi korban kebengisan kaisar Diokletianus. Mereka ditangkap dan disiksa. Situasi itu dimanfaatkan oleh pemuda-pemuda kafir yang menaruh hati kepada Lusia, namun lamaran mereka ditolak oleh Lusia. Mereka membalas dendam dan melaporkan kepada kaisar. Kaisar termakan laporan sehingga Lusia ditangkap. Mereka merayu agar memperoleh kemurnian Lusia, tetapi Lusia dengan gagah berani mempertahankan kemurniannya. Lusia dipenggal kepalanya oleh seorang Algojo dan mati pada tanggal 13 Desember tahun 304 sebagai perawan dan martir.

Yang menarik dari kehidupan St. Lusia ini adalah ia punya kerinduan yang tinggi untuk hidup suci demi Kristus. Kerinduaan itu diraihnya. Ia diisinkan oleh ibunya untuk ikrarkan kesuciaannya demi Kristus. Ungkapan kerinduannya dihayati dan diamalkannya dalam kehidupan praktis. Walapun ia ditakuti-takuti, tetapi ia tetap setia dan tekun menjalankan apa yang sudah diikrarkannya. Ia tidak takut sedikitpun untuk menjadi martir Tuhan yang penting ia tetap bisa mempertahankan kesuciaan sesuai dengan sumpahnya.

Saudara-saudari….

Lewat Injil hari ini kita mendengar ceritera tentang dua anak, yang sulung dan yang bungsu. Yang sulung diminta oleh bapanya pergi kerja di kebun anggur dan ia menjawab ya, tetapi tidak pergi; sementara yang bungsu ketika diminta pergi ke kebun angggur, dia menjawab tidak, tetapi kemudian menyesal dan pergi bekerja di kebun Anggur. Yesus dengan sengaja menceriterakan dua anak ini untuk mengingatkan orang Israel dan orang yang berdosa. Anak sulung dalam ceritera itu adalah symbol dari tingkahlaku hidup orang Yahudi, orang pilihan Allah. Sebagai bangsa pilihan Allah, mereka merasa bangga dan menganggap diri sangat dekat dengan Allah. Tetapi sayangnya bahwa mereka tidak mengikuti perintah Tuhan. Mereka lebih senang berkata-kata tetapi tidak wujud-nyatakan apa yang dikatakannya. Mereka menjawab ya, tetapi tidak menghayati dan mengamalkan pernyataan ya-nya dalam kehidupan konkrit. Sementara anak bungsu, orang-orang berdosa, awal mulanya mereka menolak permintaan Tuhan, mereka lebih senang mengikuti kehendak peribadinya, tetapi dalam proses, mereka menyesal, mereka bertobat dan memberi diri kepada Allah dan memohon ampun atas segala dosanya. Kemudian dengan setia menjalankan perintah Tuhan sampai pada akhir hidup mereka.

Injil hari ini kembali mengingatkan kita bahwa mungkin kita juga berpikir seperti orang Israel, kita pengikut Kristus, merasa diri sangat dekat dengan Kristus, dan sangat yakin bahwa kita akan masuk surga pada saat kita mati. Kalau saja perkataan dan perbuatan kita selalu sejalan, selalu hayati dan amalkan perintah Tuhan dalam kehidupan harian kita, maka kerinduan dan harapan kita pasti akan terwujud. Tetapi kalau kita hanya merasa bangga bahwa kita adalah orang-orang Kristus, tetapi hidup kita sangat jauh dari nilai-nilai Injil, maka kekristenan kita samasekali tidak punya arti.

Marilah saudara-saudari, ikutilah semangat hidup dari St. Lusia yang kita rayakan pestanya hari ini. Ia sungguh setia dan tekun menghayati dan mengamalkan kesucian hidupnya sampai rela mati demi kesucian hidup. Kata dan perbuatannya sungguh sejalan.

Kita berdoa semoga Tuhan selalu membantu kita agar perkataan dan perbuatan kita pun senantiasa sejalan dalam hidup harian kita.

Kita meminta St. Lusia dan Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen.

 Kredit Foto: Non di Solo Pane

Tags

Pastor Fredy Jehadin SVD

Misionaris SVD yang berkarya di Papua New Guinea. Bertugas sebagai pembina para frater SVD dan mengajar di Catholic Theological Institute di Bomana Port Moresby dan mengajar di Xavier Institute untuk para suster dan bruder yang mau menyiapkan diri untuk mengikrarkan kaul-kaul kekal, dan membantu mereka yang bekerja di lembaga pembinaan para religious di Papua New Guinea.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close