BERITA
Trending

Bangun Kemandirian Pangan Di Tengah Pandemi Covid-19: “Kebun Keluarga”

BANGUN KEMANDIRIAN PANGAN DI TENGAH PANDEMI COFID 19:  “KEBUN KELUARGA”

Sebuah Catatan, Rm. Alexius Sudarmanto

(PSE/Caritas Keuskupan Padang)

Tahun 2020 ini merupakan tahun yang sulit bagi kita semua. Hal itu dikarenakan adanya pandemi corona virus dease (covid) 19 yang pertama sekali muncul Nopember 2019, yang melanda kita bahkan seluruh dunia. Penularan virus corona cepat berlangsung, berawal dari Wuhan China diakhir tahun 2019, kini sudah tersebar ke seluruh dunia tidak terkecuali Indonesia. Salah satu cara untuk membendung perkembangbiakan pandemic covid 19 ini adalah dengan mengisolasi diri; tetap tinggal dan diam di rumah saja. Segala aktifitas di lakukan di rumah, baik bekerja maupun belajar bagi para pelajar. Rumah menjadi pusat segala aktifitas, dan diusahakan tidak kontak dengan orang lain dari luar keluarga, kalaupun terpaksa karena berbelanja logistik pangan, usahakan menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain.

Tinggal di rumah saja, lama-kelamaan akan menjadi jenuh dan bosan. Selain itu pangan juga akan menjadi sulit didapatkan. Maka perlu diusahakan kemandirian pangan sehat bagi keluarga. Salah satu aktifitas yang berguna dan dapat menghilangkan kejenuhan dan meningkatkan kemandirian pangan bagi keluarga adalah dengan memanfaatkan perkarangan rumah menjadi lahan untuk menyalurkan hobi berkebun dan kemandirian pangan sehat bagi keluarga. Berkebun dengan memanfaatkan pekarangan rumah sambil berjemur agar badan sehat dan dapat manfaat untuk menambah asumpan gizi dari hasil kebun sendiri, dengan menanam tanaman yang bermanfaat bagi upaya kemandirian pangan keluarga, dengan cara bertanam secara organik di pekarangan keluarga.

1). Berkebun Organik

Berkebun organik maksudnya adalah bahwa kita tidak menggunakan pupuk dan obat-obatan kimia atau buatan, tetapi kita menggunakan pupuk dan obat-obatan organik yang dihasilkan atau berasal dari hewan ternak dan tanam-tanaman organik yang berguna bagi sebuah ekosistem  makluk hidup dalam dunia pertanian.  Ekosistem tanah harus diindahkan dan jangan dirusak oleh penggunaan pupuk  dan obat-obatan kimiawi.

Dalam sebuah ekosistem tanah yang baik, mestilah mengandung unsur  biomikroba sebagai mahkluk kecil yang berfungsi merubah bahan-bahan organik menjadi asupan nutrisi yang berguna bagi tumbuh-kembangnya tanaman pangan bagi manusia.   Tanah yang baik dan subur adalah tanah yang menyediakan makanan yang cukup untuk bertumbuh dan berkembang bagi tanaman. Tanah sendiri tidak butuh makanan, yang membutuhkan makanan adalah tanaman yang tumbuh dan berkembang dengan medianya adalah tanah.

Tanaman pangan yang dihasilkan dari usaha tani organik akan menjadi sehat  bila dikonsumsi oleh manusia, sebab residu kimiawi yang tinggal dalam tubuh manusia yang mengkonsumsi tidak ada. Residu kimiawi yang berbahaya bagi tubuh manusia akan sangat sulit dicerna bagi tubuh manusia yang justru akan menimbulkan gangguan kesehatan dalam tubuh manusia, yang bisa menyebabkan banyak penyakit bahkan memicu pertumbuhan sel kanker maupun tumor. Itulah sebabnya kita dianjurkan agar kita mengkonsumsi sayuran  dan tanaman organik, karena sayuran dan tanaman organik lebih sehat bagi  tubuh kita.

2). Bentuk dan Cara Berkebun Organik :

Bentuk dan Cara berkebun organik tergantung dari sarana ataupun alat yang dipergunakan  dalam berkebun organik, sbb:

a. Menanam dalam POT:

Pot merupakan wadah untuk tempat menampung media tumbuh seperti tanah atau kompos yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Pot  sendiri dapat terbuat dari berbagai macam bahan, entah itu semen, plastik kara, kayu, fiber atau berbahan logam. Pada umumnya orang mempergunakan pot berbahan semen ataupun plastik, karena kedua bahan ini lebih tahan dan lebih baik bagi pertumbuhan tanaman.

Berbagi Anak Bangsa, Caritas Indonesia, Caritas Atambua, Covid – 19, dirumah aja, Gerakan Solidaritas, Indonesia, Jaga jarak, katekese, keuskupan tanjungselor, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, pewartaan, Saling Peduli, stay at home, Lawan Covid-19, berkebun dirumah, hasil bumi, tanaman, Gereja Katolik Indonesia, Katolik, Katekese, Bahan Pangan, Masyarakat Mandiri, Berkebun, Hari Pangan Sedunia, Pangan Lokal
Ilustrasi

Selama ini banyak orang menggunakan pot untuk media tumbuh bagi tanaman bunga, padahal pot juga bisa untuk media tanaman pangan seperti sayur-sayuran. Tanaman pangan itu juga dapat menjadi tanaman hias sekaligus. Ada beberapa tanaman sayuran yang daunnya menarik, seperti slada berdaun coklat kemerah-merahan, bayam merah, dll. Sehingga dengan adanya budidaya aneka warna sayur-sayuran dapat menjadi juga sekaligus tanaman hias.

Berbagi Anak Bangsa, Caritas Indonesia, Caritas Atambua, Covid – 19, dirumah aja, Gerakan Solidaritas, Indonesia, Jaga jarak, katekese, keuskupan tanjungselor, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, pewartaan, Saling Peduli, stay at home, Lawan Covid-19, berkebun dirumah, hasil bumi, tanaman, Gereja Katolik Indonesia, Katolik, Katekese, Bahan Pangan, Masyarakat Mandiri, Berkebun, Hari Pangan Sedunia, Pangan Lokal
Ilustrasi

Menanam dengan media pot mestilah secara rutin berkala dirawat dengan melakukan penyiraman maupun penambahan pupuk, yang sebaiknya dengan pupuk organic. Tanah yang ada di dalam pot juga mesti secara rutin digemburkan dengan cara penambahan pupuk kompos maupun dengan cara menggemburkan sambil membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar tanaman yang ada di dalam pot. Mengurangi akar tanaman yang semakin banyak sehingga akan mempersulit tumbuhnya tanaman, karena perakaran yang padat. Seiring bertambah besarnya tanaman, pemakaian pot juga harus disesuaikan, sesuai dengan kebutuhan tanaman itu sendiri; bila tanaman masih kecil sebaiknya memakai pot yang kecil  dan bila tanaman sudah besar maka potnya pun diganti dengan yang lebih besar. 

b. Menanam dalam Polybag:

Polybag merupakan wadah media tumbuh bagi tanaman pengganti pot, terbuat dari plastik yang berbentuk kontong. Pada prinsipnya fungsi polybag sama dengan pot, sebagai wadah media tumbuh untuk tanah subur ataupun kompos, lobang kecil-kecil di bagian bawahnya serta seluruh sisi-sisinya.  Polybag biasanya  hanya bisa dipakai sampai dua tahun bila terus menerus dipergunakan, tetapi bila diurus dengan baik akan bertahan lebih lama, merawatnya bersamaan dengan merawat tanaman yang ada di dalamnya. Kita menyiram tanaman sebaiknya juga menyiram wadah polybag juga supaya tidak dibiarkan kering sehingga cepat lapuk. Selain itu juga membuat plastik menjadi dingin dan menjadi wadah yang baik bagi pertumbuhan tanaman yang ada di dalamnya.

Berbagi Anak Bangsa, Caritas Indonesia, Caritas Atambua, Covid – 19, dirumah aja, Gerakan Solidaritas, Indonesia, Jaga jarak, katekese, keuskupan tanjungselor, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, pewartaan, Saling Peduli, stay at home, Lawan Covid-19, berkebun dirumah, hasil bumi, tanaman, Gereja Katolik Indonesia, Katolik, Katekese, Bahan Pangan, Masyarakat Mandiri, Berkebun, Hari Pangan Sedunia, Pangan Lokal
Ilustrasi

Seperti halnya dengan pot, pemakai polybag juga mesti disesuaikan dengan besarnya tanaman yang hendak di tanam.  Polybag pada umumnya berwarna hitam, dengan berbagai ukuran. Pengisian tanah atau kompos ke dalam polybag bisa disesuaikan dengan melipat polybag tersebut sesuai dengan kebutuhan. Bila kita hendak menanam dengan media yang tidak terlalu tinggi bisa kita gulung atau lipat polybagnya, dengan demikian pemakaian polybag dapat lebih fleksibel ketimbang dengan memakai pot dan lebih ringan.

c. Menanam dalam karung plastik

Menanam dalam karung plastik pada prinsipnya sama dengan menanam dengan mempergunakan wadah seperti dengan halnya mempergunakan  pot dan polybag. Pemakaiannya lebih terbatas karena sifat karung plastik yang juga tidak tahan lama, jikalau kita tidak memperlakukannya dengan tidak baik. Seperti halnya merawat polybag, kita dapat mempertahankan lebih lama dengan pemakaian karung plastik ; sambil kita menyiram tanaman sebaiknya juga kita menyiram wadah karung juga supaya tidak dibiarkan kering sehingga cepat lapuk.

Berbagi Anak Bangsa, Caritas Indonesia, Caritas Atambua, Covid – 19, dirumah aja, Gerakan Solidaritas, Indonesia, Jaga jarak, katekese, keuskupan tanjungselor, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, pewartaan, Saling Peduli, stay at home, Lawan Covid-19, berkebun dirumah, hasil bumi, tanaman, Gereja Katolik Indonesia, Katolik, Katekese, Bahan Pangan, Masyarakat Mandiri, Berkebun, Hari Pangan Sedunia, Pangan Lokal
Ilustrasi

Biasanya orang mempergunakan wadah media tumbuh dengan karung plastik adalah untuk budidaya jahe merah maupun jahe gajah ataupun jahe emprit. Ada juga karung plastik  dipergunakan orang untuk menanam ubi jalar di lahan sempit.

d. Menanam dalam Drum atau Tong

Drum atau tong plastik besar bekas biasanya dipergunakan untuk menampung air hujan atau wadah  bagi yang lain. Selain itu, rupanya dapat dipergunakan sebagai wadah pengganti pot untuk berkebun di pekarangan sempit. Kalau drom atau tong cukup besar, kita bisa mempergunakannya sebagai wadah media tumbuh, dengan membuat lobang pada sisi-sisi vertikalnya tentu dengan membuat jarak. Pada lobang-lobang itu lah kita menanam tanaman sayur-sayuran yang bisa kita manfaatkan untuk konsumsi keluarga.  Dan pada bagian tengahnya diberi pipa paralon minimal 4 inci atau maksimal 6 inci dengan dop tutupnya, dibawah dan di atasnya, dan juga kita memberi beberapa lobang pada  sisi vertikal pipa paralon tersebut, agar cacing maupun mikroorganisme dalam tanah bisa keluar masuk untuk menyuburkan tanah dalam tong tersebut, dan dengan demikian kita dapat membuat kompos di dalam pipa paralon dari limbah dapur rumah tangga.

Berbagi Anak Bangsa, Caritas Indonesia, Caritas Atambua, Covid – 19, dirumah aja, Gerakan Solidaritas, Indonesia, Jaga jarak, katekese, keuskupan tanjungselor, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, pewartaan, Saling Peduli, stay at home, Lawan Covid-19, berkebun dirumah, hasil bumi, tanaman, Gereja Katolik Indonesia, Katolik, Katekese, Bahan Pangan, Masyarakat Mandiri, Berkebun, Hari Pangan Sedunia, Pangan Lokal
Ilustrasi

Setiap hari kita bisa masukan limbah dapur ke dalamnya, dan apabila sudah penuh kita bisa mengambilnya dengan membuka tutup bagian bawah, dan kompos dikeluarkan, bisa dimasukan di tanah pada dalam drum atau tong itu kembali. Ini berguna sekaligus untuk menjaga kesuburan tanah di dalam tong. Prinsip dasar yang mendorong ide ini adalah kita mengusahakan kompos dengan memanfaatkan limbah dapur rumah tangga, sekaligus kita menanam sayuran untuk pangan keluarga dalam satu wadah yang kata pepatah mengatakan, “sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui”. Dengan demikian kita mengirit biaya untuk pembelian pot dan tong pembuatan kompos. Untuk satu drum / tong plastik besar bisa dibuat lobang tanam sekitar 40 s/d 70 lobang, tergantung kebutuhan dan jenis tanaman sayur yang akan dibudidayakan. Selain itu masalah keterbatasan lahan dan  masalah yang ditimbulkan dengan limbah organik rumah tangga terpecahkan.

e. Menanam tanpa mencangkul tanah

Prinsip yang mendasari metode ini adalah bahwa tanah adalah ibu pertiwi yang member kehidupan bagi makhluk hidup yang hidup diatasnya, termasuk manusia. Maka bila kita mencangkul tanah, kita sama saja menyakiti ibu pertiwi yang tentunya sikap yang kurang berbalas budi. Sebaiknya yang kita lakukan adalah dengan memberikan makanan yang berguna bagi kesuburan ibu pertiwi, yaitu kompos. Maka kalau kita memberikan ibu pertiwi makanan yang baik, pada gilirannya ibu pertiwi akan memberikan kepada kita makanan yang baik pula bagi manusia, dengan member kesuburan bagi tanaman pangan yang kita usahakan di atas tanah sang ibu pertiwi yang kita cintai.

Berbagi Anak Bangsa, Caritas Indonesia, Caritas Atambua, Covid – 19, dirumah aja, Gerakan Solidaritas, Indonesia, Jaga jarak, katekese, keuskupan tanjungselor, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, pewartaan, Saling Peduli, stay at home, Lawan Covid-19, berkebun dirumah, hasil bumi, tanaman, Gereja Katolik Indonesia, Katolik, Katekese, Bahan Pangan, Masyarakat Mandiri, Berkebun, Hari Pangan Sedunia, Pangan Lokal
Ilustrasi

Tehnik menanam tanpa mencangkul tanah adalah dengan membuat kota pembatas, bisa dengan kayu bekas, susunan batu bata atau batu kali setinggi 25 s/d 40 cm. Ke dalamnya kita masukkan limbah-limbah organik kemudian mengalami proses pembusukan dengan bantuan mikroorganisme yang bebas di alam,  bisa juga kita masukan kohe ke dalamnya, pada prinsipnya  sama dengan pembuatan kompos. Setelah  media tersebut dingin, barulah kita bisa menanam di lahan tersebut.

f. Menanam dengan memanfaatkan bekas botol air mineral

 Botol plastik bekas air mineral  dapat juga dipergunakan sebagai wadah media tanam tamanan, baik sayuran, buah-buahan maupun bunga, terutama tanaman yang tidak  besar sesuai dengan wadah medianya. Semisal sayuran sawi pangsit, sayuran slada daun bawang, bawang merah. Tetapi kalau jenis terong yang akan tumbuh besar agak kesulitan dalam pertumbuhannya, kecuali dengan mempergunakan botol bekas yang besar, misalnya gallon bekas. Tanaman buah seperti strobery dapat mempergunakan media tanam botol air mineral bekas.

Berbagi Anak Bangsa, Caritas Indonesia, Caritas Atambua, Covid – 19, dirumah aja, Gerakan Solidaritas, Indonesia, Jaga jarak, katekese, keuskupan tanjungselor, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, pewartaan, Saling Peduli, stay at home, Lawan Covid-19, berkebun dirumah, hasil bumi, tanaman, Gereja Katolik Indonesia, Katolik, Katekese, Bahan Pangan, Masyarakat Mandiri, Berkebun, Hari Pangan Sedunia, Pangan Lokal
Ilustrasi

Selain dipergunakan untuk media atau wadah tanah, botol plastik bekas air mineral dapat juga dipergunakan sebagai media tanam dengan system hidroponik maupun system aquaponik sederhana.

g. Menanam system Hidroponik

Tanaman memerlukan makanan untuk bertumbuh dan berkembang. Tanaman tidak memakan tanah, tetapi tanaman memakan nutrisi yang terkandung dalam tanah dalam bentuk cairan. Karena cairan bernutrisi itulah yang dalam dihisap oleh akar tanaman. Air berfungsi untuk memudahkan atau memperlancar tanaman menyerap nutrisi atau unsure hara yang dibutuhkan bagi tumbuh kembangnya tanaman itu sendiri. Tanah pada prinsipnya hanya menjadi media tumbuh dan berkembangnya tanaman. Kesuburan tanaman tergantung dari unsur hara yang terkandung di dalam tanah dalam bentuk cairan, baik itu unsure hara makro N, P dan K maupun unsur mikro dalam bentuk garam-garam mineral dan vitamin yang dibutuhkan tanaman.

Berbagi Anak Bangsa, Caritas Indonesia, Caritas Atambua, Covid – 19, dirumah aja, Gerakan Solidaritas, Indonesia, Jaga jarak, katekese, keuskupan tanjungselor, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, pewartaan, Saling Peduli, stay at home, Lawan Covid-19, berkebun dirumah, hasil bumi, tanaman, Gereja Katolik Indonesia, Katolik, Katekese, Bahan Pangan, Masyarakat Mandiri, Berkebun, Hari Pangan Sedunia, Pangan Lokal
Ilustrasi

Dalam menanam dengan system hydroponic fungsi tanah digantikan dengan media lainnya, seperti pipa paralon, botol plastik air mineral bekas, batu kerikil, hidroton, sterioform, dll., tanpa tanah. Cairan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dimasukkan ke dalam media tumbuh pengganti tanah yang ada, dan kemudian bibit tanaman ditanamkan yang akannya masuk kedalam cairan atau air yang mengandung  unsur hara yang baik bagi tumbuh kembangnya tanaman.

Setiap kali berkurang, kita harus menambah lagi dan tingkat konsentrasi dapat bertambah sesuai kebutuhan tanaman yang diusahakan  sampai akhirnya waktu  pemanenan tiba.

Sistem ini tidak sepenuhnya organic karena kita masih menggunakan pupuk nutrisi buatan pabrik yang kadang berbentuk larutan kimiawi buatan manusia, kecuali kalau pupuknya dari pupuk organic cair (POC), hasil pengolahan limbah cair kohe.

h. Menanam system Aquaponik

Pada prinsipnya menanam dengan system aquaponik adalah memadukan system menanam hidroponik dengan budidaya pemeliharaan ikan. Sistem aquaponik memanfaatkan kotoran ikan sebagai unsur hara yang berguna bagi tanaman sayur-sayuran yang kita usahakan dengan menaman system hidroponik. Kuncinya ada pada pengelolaan air. Kolam dibuat sedemikian dengan sehingga memungkinkan kotoran ikan dapat keluar dari kolam, dialirkan ke tempat penyaringan lalu dibersihkan dan kotoran itu ditransformasikan oleh bakteri yang ada di penyaringan, lalu dipompakan ke instalasi tanam hidroponik. Nutrisi yang dihasilkan dari penyaringan diserap oleh tanaman dan air yang kaya oksigen dikembalikan ke dalam kolam kembali. Kita budidaya pemeliharaan ikan, bonus sayur-sayuran.

Berbagi Anak Bangsa, Caritas Indonesia, Caritas Atambua, Covid – 19, dirumah aja, Gerakan Solidaritas, Indonesia, Jaga jarak, katekese, keuskupan tanjungselor, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, pewartaan, Saling Peduli, stay at home, Lawan Covid-19, berkebun dirumah, hasil bumi, tanaman, Gereja Katolik Indonesia, Katolik, Katekese, Bahan Pangan, Masyarakat Mandiri, Berkebun, Hari Pangan Sedunia, Pangan Lokal
Ilustrasi

Jenis ikan yang baik untuk system aquaponik adalah ikan nila tilapia, lele dombo, ikan yang banyak menghasilakn kotoran atau sisa pakan ikan. Sisa pakan ikan dan kotorannya kalau dibiarkan lama di dalam kolam akan menghasilkan gas amoniak yang akan sangat mengganggu kehidupan ikan di dalam kolam, selain itu air akan berbau tidak enak. Sistem aquaponik juga menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan antara pemeliharaan ikan dan menanam sayur-sayuran. Hanya saja kita membutuhkan listrik sebagai pengegerak aliran air dari tempat penyaringan ke instalasi hidroponik yang ada. Sedangkan dari instalasi hidroponik kita menggunakan teori grafitasi, begitu juga dari kolam ke tempat penyaringan.

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close