KATEKESETeladan Kita
Trending

Santa Gianna Beretta Molla : 28 April

Gianna Francesca Beretta, Teladan segenap ibu

Santa Gianna Beretta Molla percaya bahwa hak istimewa menjadi seorang ibu, menjadi seorang rekan kerja Allah dalam menghadirkan kehidupan baru, berarti senantiasa membela dan melindungi anaknya, entah di dalam ataupun di luar rahim, bahkan hingga pada tahap menyerahkan hidupnya sendiri. Dalam dunia kedokteran sekarang ini, yang lebih modern dan lebih canggih, terbuka lebar kemungkinan untuk menyelamatkan hidup Gianna bersama bayinya. Namun sungguh tragis, justru di masa sekarang ini keputusan hidup dan mati atas bayi-bayi yang belum dilahirkan, dibuat berdasarkan alasan-alasan yang sepele dan kehamilan seringkali diakhiri dengan alasan-alasan yang tidak sesuai dengan prinsip agama dan moral.

GIANNA Francesca Beretta  dilahirkan di Magenta, Milan, Italia pada tanggal 4 Oktober 1922. Ia adalah  anak kesepuluh dari tigabelas bersaudara, putera-puteri pasangan Alberto dan Maria Beretta. Ayah dan ibunya adalah orang katolik yang saleh  dan menjadi anggota Ordo Ketiga Fransiskan (para awam Fransiskan) yang taat.

Pada tahun  1942, ditengah berkecamuknya perang Dunia ke II, Gianna masuk sekolah kedokteran di Milan. Namun ia tidak bisa kuliah karena perang telah sampai ke kota Milan. Saat perang berakhir, ia melanjutkan kuliah di Pavia bersama saudarinya yang bernama Virginia. Kelak Virginia menjadi seorang Dokter dan seorang biarawati Cannosian yang berkarya di India.  Pada tanggal 30 November 1949 Gianna menerima gelar dalam ilmu kedokteran dan bedah dengan nilai mengagumkan. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Juli 1952,  ia meraih gelar dokter spesialis anak-anak.

Pada tanggal 24 September 1955, Gianna menikah dengan Pietro Molla, seorang insinyur yang bekerja sebagai direktur teknik. Upacara pemberkatan nikah dilangsungkan di Basilika San Martino di Magenta dan dipimpin oleh kakak  Gianna sendiri,  pater Guiseppe Beretta.  Mereka dikaruniai empat orang anak. Pada bulan juli 1961 Gianna mengandung anaknya yang keempat. Namun di akhir bulan kedua kehamilannya,  ia didiagnosa dokter memiliki fibroma (tumor) di rahimnya. Tumor ini cukup besar hingga mengancam kelangsungan kehamilan dengan menghimpit janin.

Gianna melewatkan tujuh bulan selanjutnya hingga kelahiran sang bayi dalam kekuatan semangat yang tak tertandingi. Selama itu, ia mohon kepada Tuhan untuk menjaga bayi dalam rahimnya agar tak mengalami kesakitan. Pada hari Jumat Agung tahun 1962, Gianna dibawa masuk RS Bersalin Monza. Keesokan harinya, 21 April 1962, ia melahirkan seorang bayi perempuan melalui operasi caesar. Anak keempatnya ini beberapa hari kemudian dibabtis dengan nama Gianna Emanuella.

Kondisi Gianna semakin memburuk segera sesudah melahirkan. Ia memohon bantuan ibunya untuk tinggal dekatnya dan menolongnya, sebab ia tak dapat menahan rasa sakitnya lagi.  Penderitaannya tampak bagai suatu kurban yang dramatis dan perlahan, yang menyertai kurban Kristus di salib.  Menjelang ajal, ia masih sempat berkata kepada saudarinya,  “Andai saja engkau tahu bagaimana hal-hal dinilai secara berbeda di saat ajal! … Betapa sia-sia tampaknya hal-hal yang di dunia ini begitu kita pentingkan!”.  Gianna Beretta Molla wafat pada tanggal 28 April 1962 dalam usia 39 tahun. Wajahnya tampak damai tenang, segala tanda kesakitan sama sekali sirna dan ia tampak dipenuhi kebahagiaan.

Pada tanggal 24 April 1994, dalam tahun yang dicanangkan sebagai Tahun Keluarga, Gianna Beretta Molla dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II.  Dalam Misa beatifikasi yang dihadiri oleh suami, saudara-saudari beserta putera-puteri  Gianna ini.  Bapa Suci mengatakan bahwa Gianna adalah teladan segenap ibu,  “Seorang perempuan dengan kasih yang luar biasa, seorang istri dan ibu yang mengagumkan, ia memberi kesaksian dalam hidup sehari-hari akan nilai-nilai Injil. Dengan berpegang pada wanita ini sebagai teladan kesempurnaan Kristiani, kita hendak memuji segenap para ibu keluarga yang penuh semangat, yang memberikan diri sepenuhnya kepada keluarga, yang menanggung derita dalam melahirkan, yang siap sedia bagi segala karya dan segala rupa kurban, agar yang terbaik dari mereka dapat dibagikan kepada sesama.”

Gianna Emanuela yang  saat itu telah menjadi seorang dokter dan pejuang Gerakan Pencinta Kehidupan, menyampaikan kesaksiannya.

Sumber: katakombe.org

Inspirasimu: Santa Zita dari Lucca : 27 April

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close