OPINI
Trending

‘Rezim’ Kebenaran dan Paham Kesaksian Agama

Krisis global akibat penyebaran pandemic covid-19 seyogianya menumbuhkan dan mempertebal nurani kemanusiaan dan solidaritas tanpa batas baik oleh jarak, suku, agama maupun sekat sosial apapun. Agama sebagai institusi yang mengatasnamakan Tuhan seharusnya menjadi penggerak utama dari solidaritas tersebut. Namun, menjadi soal, tatkala kaum yang menabiskan dirinya beragama justru sibuk menjaga kemurnian dan kebenaran dirinya tanpa kepekaan sosial. Agama telah menjadi kekuatan hegemonik yang bahkan sanggup memanipulasi pola pikir dan pola tindak pengikutnya. Pada tempat itulah, agama seolah membangun dan mempertahankan ‘rezim’ kebenarannya sendiri, bahkan nyaris tak mau berkompromi dengan kebenaran lain di luar dirinya.

Rezim Kebenaran

Dengan demikian agama bukan lagi menjadi institusi suci yang menghadirkan kekuatan ilahi, tetapi berubah menjadi sebuah ideologi, bahkan menjadi instrumen untuk menguasai. Senjata agama dalam posisi itu adalah wacana. Agama dapat dengan mudah menguasai karena memiliki wacana yang sanggup berbicara dan menjelaskan perihal dunia beserta unsur-unsurnya. Foucault dalam Power/Knowledge (Editor Colin Gordon: 1972-1977) menyebut dua karakteristik dasar wacana. Pertama, wacana sanggup membentuk dan memberikan makna terhadap dunia. Kedua, wacana berdaya memengaruhi, sehingga orang bertindak sesuai pola-pola atau mekanisme tertentu yang diinginkan desainernya.

Kekuatan wacana tidak datang dari dirinya sendiri, melainkan dari hubungan-hubungan kekuasaan yang menciptakannya, dalam hal ini agama. Hubungan kekuasaan inilah yang disebut Foucault sebagai rezim kebenaran. Agama sebagai kekuasaan akan berupaya menggunakan wacana untuk memengaruhi pengikutnya. Pada tempat itulah, pengikut agama tanpa nalar yang sehat akan dengan mudah dilahap oleh wacana yang telah ‘disiasati’ oleh para pengusungnya, sehingga mereka tak segan bertindak buas dan brutal. Selajutnya kekuatan wacana juga akan membuat pandangan-pandangan lain yang bertentangan akan sulit diterima dalam dialektika sosial. Bahkan mereka tak segan menghukum orang-orang berbeda, seolah mereka adalah polisi atau hakim yang langsung diturunkan Tuhan dari langit.

Di Indonesia, para pengikut agama tanpa sikap kritis amat gampang menjadi intoleran dan menjadi sulit menerima kebenaran lain karena konstruksi berpikir mereka tentang dunia, sekaligus pola perilaku kesehariannya adalah hasil dari pembentukan dan pelastarian wacana tertentu yang dilahirkan para manipulator agama sebagai rezim kebenaran. Mereka menyediakan wacana yang mendukung rezim kebenaran mereka dan dengan demikian mereka memegang kontrol dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Pengusung agama sebagai rezim kebenaran lebih gampang membuat pemutlakkan terhadap persoalan-persoalan yang dalam pandangan umum justru tidak mutlak. Mereka percaya bahawa diri mereka menjadi figur yang lebih tinggi dari yang lain karena sudah tahu persis kehendak Allah dan berusaha hidup di dalamnya secara murni dan konsekuen. Lebih jauh mereka menuntut agar kebijakan publik (politik) didasarkan atas kebenaran absolut yang tak terbantahkan dan dengan demikian mengklaim berhak menentukan hukum yang harus ditaati oleh masyarakat. Mereka merasa terpanggil untuk menjadi pembela kebenaran dan kemurnian agama.

Pemegang kunci rezim kebenaran agama ini tidak mampu membedakan antara kemutlakan kebenaran wahyu Allah dalam Kitab Suci di satu pihak dan interpretasi yang mereka berikan terhadap kebenaran wahyu Allah dalam Kitab Suci. Mereka memutlakkan interpretasi mereka dan atas dasar itu mengklaim berhak menentukan hukum yang harus ditaati oleh masyarakat (Madjid: Interpreting the Qur’anic Principle of Religius Pluralism, dalam Seed Abdulah: 2006).  Mereka bertindak sebagai seolah-olah membantu Tuhan mewujudkan hukumnya kepada kaum pendosa. Sungguh ironi, Kerajaan Allah justru dibela dengan semangat pengucilan dan kekerasan.

Paham Kesaksian

Dengan hanya berkutat dengan rezim kebenarnnya sendiri, maka agama menjadi alpa bersaksi dengan mengedepankan nurani kemanusiaan. Padahal api solidaritas yang lahir dari rahim agama amat dibutuhkan di tengah globalisasi ketidakpedulian yang berdampak pada ketidakmampuan untuk berduka dan mengambil bagian dalam penderitaan orang lain. Sebab untuk apa beragama, kalau dengan beragama justru memutuskan kepekaan dan nurani solidaritas dengan sesama. Agama akan terlihat usang dan menyeramkan tanpa cinta kasih dan solidaritas.

Kredibilitas agama tidak diukur dari seberapa kuat dia berapologetik untuk mempertahankan kebenaran ajarannya dan menyerang ajaran agama lain. Namun kredibilitas agama justru dipatok dari seberapa kuat dia bersaksi tentang kebaikan Tuhan dan membawa moralitas keagamannya dalam perilaku yang dijiwai oleh keadilan, kejujuran, kebaikan hati, serta keberpihakan pada kaum miskin dan rentan. Di tengah krisis global akibat pandemi covid-19, agama harus menjadi spirit dan inspirasi bagi lahirnya gerakan-gerakan kemanusiaan dan kesukarelaan, karena aksi-aksi kemanusiaan merupakan elemen hakiki dari ekspresi keberagamaan. Agama harus menjadi kekuatan utama yang aktif mempromosikan kultur kehidupan menentang budaya kematian yang dipromosikan dan dibawa oleh paham manapun.

Kemanusiaan, Saling Menghormati, Hidup Beragama, Kebaikan hati, Moralitas, Covid-19, Indonesia

 

Rezim Kebenaran dan Paham Kesaksian Agama

(Oleh Benny Denar/Dosen di STIPAS St. Sirilus Ruteng, Flores)

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

Check Also

Close
instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close