BERITAPEKAN KOMSOS
Trending

Bercerita Itu Mudah

Panduan Sederhana Berlatih Bercerita

A. Pembuka

Bercerita, mendongeng, adalah kegiatan bertutur, merupakan satu dari sekian banyak teknik berkomunikasi secara ramah pikiran. Bahkan bercerita merupakan teknik komunukasi yang sangat hipnotik, inti pesan dalam cerita menjadi mudah menyusup ke dalam pikiran pendengar. Apa keistimewaan bercerita dalam menyampaikan pesan, mensugesti, menasehati dan bahkan dalam memberi instruksi?

  • Dissosiate, cerita hanyalah cerita dan bukan tentang diri pendengarnya, maka seorang hanya merasa mendengarkan saja sebuah cerita atau dongengan, sehingga pesan masuk tanpa dikritisi, padahal di dalam pikiran nantinya beberapa informasi akan dikonfirmasi sebagai boleh dan masuk akal oleh pikiran.
  • Kerja pikiran yang transderivational search (TDS) — sebuah proses pencarian ke ‘dalam’ akibat stimulus yang masuk ke dalam pikiran—, maka pikiran setiap orang mencari sendiri pesan dalam alur cerita, kemudian memaknai sesuai keperluan, kebutuhan dan fokusnya.
  • Instruktif. Dengan begitu, cerita tidak menyuruh-nyuruh secara langsung, namun memberi nasehat kepada orang secara tidak langsung, orang menyadari setelah semua sudah diakuisisi menjadi isi pikiran sendiri.

Oleh karenanya Bercerita menjadi teknik berkomunikasi yang dapat dipergunakan untuk mencapai beberapa tujuan sekaligus (tulisan sebelumnya; Bercerita, komunikasi paling menginspirasi). Dalam bercerita kita perlu melibatkan kenyamanan pikiran seorang dalam berkomunikasi. Menggunakan kerangka pikir tertentu, bahkan teknik arah komunikasi untuk kepentingan berhasilnya tujuan penyampaian instruksi atau pesan gunakan sebuah cerita. Tentu saja bercerita juga memanfaatkan secara optimal rahasia sukses komunikasi, yaitu 3V (verbal, vocal, dan visual), bahkan hal ini menjadi alat utama dalam bercerita. Mari, kita langsung saja belajar Bercerita.

  1. Bercerita

Anda boleh mulai penasaran, apa saja yang perlu dikuasai saat bercerita secara ramah pikiran, dan lebih-lebih ada rahasia apa saja yang beda dengan bercerita biasa. Mari belajar bercerita secara Ramah Pikiran.

  1. Bercerita adalah bertutur.

Kalau Anda bisa bicara, maka Anda bisa menjadi pembicara, dan yang dilakukan pembicara adalah bertutur. Maka latihan pertama kita adalah bertutur.

Latihan 1. Bertutur.

Mari gunakan apa saja untuk berlatih meningkatkan kompetensi diri dalam bertutur, dalam kehidupan sehari-hari kemampuan bertutur ini disebut sebagai kemampuan deskriptif, kemampuan menjelaskan secara verbal.

Cara berlatih dari latihan 1. Ini adalah, ambil dan tetapkan satu benda milik masing-masing, lalu cari pasangan berdua, dan buatlah kalimat, mulai 1 kalimat, 2, 5, 10 dan terus meningkat. Pasangan berlatih, memancing dengan pertanyaan misalnya, terus… ada lagi…., apa lagi…. lalu…., dst. Tetu saja, hal seperti ini, sebagai alat berlatih, Anda juga dapat mengutip satu ayat emas dalam kitab suci, dan berimajinasilah bertutur tentang pesan apa saja yang dapat Anda kembangkan dari gagasan inti pesan ayat emas tersebut.

Latihan 2 : Bertutur berbasis kenyamanan orang dalam berkomunikasi.

Setelah lakukan latihan 1, kini di setiap kalimat tambahkan atau gunakan kata-kata yang mudah membantu orang memahaminya berbasis gambar, perasaan dan suara (GPS). Gunakan kata-kata (predikat kenyamanan orang bberkomunikasi), berikut contohnya:

  • Gambar : nampak, nampaknya, lihatlah, perhatikan, bentunya, gambarnya, warnanya, ukurannya, membayangkan, dll.
  • Suara : katakan, nyanyikan, bisikkan, bunyinya, lagunya, merdunya, siluannya dll.
  • Perasaan/Kinestetik : Cepat, keras, tinggi, besar, jauh, lakukan, sentuhlah, pegangkan, ambilkan, angkatlah, bawalah, lakukan dll.
  1. Sukses bercerita gunakan 3V

Ketika Anda sudah lancar bertutur, maka artinya Anda sudah piawai memilih dan menyusun kata menjadi kalimat. Kini saatnya meningkatkan kemampuan untuk membuat interaksi kita sukses berhasil, dengan menerapkan rahasia sukses komunikasi 3V, verbal, vocal dan visual. Dalam interaksi, dari penelitian, verbal atau pilihan kata, mempengaruhi 7% persepsi orang. Vocal 38% dan Visual 55% mempengaruhi persepsi orang sehingga mereka melakukan instruksi kita.

Jika verbal adalah pilihan kata, bagaimana kita memilih kata secara tepat sesuai maksud tujuan interaksi kita, maka vocal adalah penggunaan intonasi bagaimana kita mengatakannya, jeda, pitch, irama dll. Sementara visual adalah, bahasa tubuh atau peraga apa yang kita gunakan atau lakukan saat mengatakan kata-kata.

Latihan 1 dan 2 adalah latihan meningkatkan kemampuan pemilihan dan penggunaan verbal atau kata-kata.

Maka berikutnya kita berlatih untuk meingkatkan kemampuan vocal.

Latihan 3: Latihan vocal

Ikuti dan katakan, a, i, u, e, o gunakan suara dari dalam perut, keluarkan melalui mulut, terlebih dahulu suara diputar dalam mulut yang seolah ada bola pingpongnya.

Bedakan antara suara hidung, suara mulut, suara leher, suara dada dan suara perut, latihlah. Dalam bercerita, vocal mencerminkan warna atau karakter. Jenis suara mencerminkan pesan yang kita sampaikan.

Latihan 4: Pengucapan

Katakan kata atau kalimat sesuai ukuran dan sifatnya

  • tinggi – rendah
  • terang – gelap
  • besar – kecil
  • sedih – bahagia
  • jauh – dekat dll

Latihan 5: Artikulasi Bertutur

Latihan melancarkan tuturan pada laval yang mirip, lakukan berulang satu tarikan nafas dengan mengulangi setiap kalimat sebanyak 5x tanpa putus.

  • tisu siti sisa satu
  • satu sate tujuh tusuk
  • kepala digaruk kelapa diparut
  • cangkir kencur cengkir
  • ular besar kasar melingkar-lingkar di pagar pasar bundar
  1. Melengkapi diri bercerita gunakan visual

Penggunaan tubuh untuk mendongeng. Alat visual yang tak perlu disiapkan dari luar adalah tubuh kita sendiri. Apa yang bisa dilakukan dengan tubuh kita saat mendongeng?

a. Kontak mata

Menghindari kontak mata sering dikaitkan dengan kekurangan dalam keyakinan diri dan kepemimpinan. Menjalin kontak mata dengan audiens adalah cara pasti untuk menjalin hubungan dengan audiens. Tatap – Senyum – Bicara

b. Gerakan tangan

  • Memberi tanda secara analog dengan arah / lokasi tertentu untuk mengasosiasikan suatu hal.
  • Lakukan beberapa kali secara konsisten
  • Berpengaruh terhadap komunikasi bawah sadar
  • Latihan
  • Perbandingan : baik-buruk, mahal-murah, masa lalu-masa depan
  • Penolakan : menolak menjawab, tidak menghendaki situasi tertentu
  • Melarang, menyetujui, senang, bahagia, gembira, tertawa, tersenyum, dll

c. Economic Movement :

  • Setiap gerakan yang dilakukan harus memiliki nilai manfaat
  • Selaras dengan pesan yang dikatakan
  • Memperkuat pesan yang dikatakan
  • Latihan : Katakan ini sambil gerakan bagian tubuh Anda
    • Naik
    • Masuk
    • Masa depan
    • Fokus
    • Bersatu

Penggunaan alat peraga dalam bercerita. Dalam bercerita, ada banyak alat peraga yang dapat digunakan, seperti antara lain

  • Boneka, wayang (kulit, golek, rumput, daun)
  • Peta, poster, buku
  • berbagai alat sulap, dll

Penggunaannya tentu saja menuntut kepiawaian Anda dalam menggunakannya. Pastikan mana yang Anda sukai, berlatih menggunkan, sambil berlatih latihan-latihan di atas.

  1. Pola Bahasa Ramah Pikiran untuk Bercerita.

Setelah memahami bagaimana peran kata, intonasi dan visual, maka mari kita lanjutkan melengkapi dir berlatih kalimat-kalimat ramah pikiran dalam bercerita.

  • Instruksi tersembunyi / Intonasi: “Ketika ia mulai gelisah, ia berpesan, tetaplah di sini.”
  • Instruksi tak langsung; sudahkah…, bisakah… “Bisakah kalian duduk tenang, sambil menyimak?” Menyuruh dengan bertanya (orang dapat melakukannya saat ini)
  • Asumsi peningkatan; mulai…, semakin…. Sisipan instruksi atau sugesti di sela-sela cerita. “Mulai sekarang ia menjadi anak rajin. Bahkan, saat ibunya semakin sayang kepadanya, ia menjadi semakin rajin.”
  • Pola ‘semakin-semakin’; semakin…(instruksi-sugesti), semakin… (harapan). “Semakin ia rajin membaca kitab suci, semakin ia memahami inti iman yang perlu diprakekkan.”
  • Ilusi pilihan; …….. atau ………. “Bacalah Kitab Suci, tidak soal, adik-adik mau membaca perjanjian lama atau perjanjian baru dahuju.” Apapun yang dilakukan pendengar tetap membaca kitab suci.
  • Sembunyikan penilaian atau saran; alangkah baiknya… (hilangkan subyeknya) “Alangkah baiknya, mulai sekarang setiap kita mulai acara, kita tepat waktu.”
  • Penyadaran; Sadarkah kamu…., Tahukah kamu…. “Tahukah adik-adik, Ibumu sangat menyayangimu?” dibelakang kata tahukah, dijawab ya atau tidak, tetap sama, ibunya menyayangi, menjadi kalimat tak terbantahkan. Gunakan untuk menanam benih kesdaran baru.
  • Asumsi waktu; pada suatu ketika….., sementara…, sebelum…, setelah.. semua keterangan waktu yang diletakkan di depan kalimat, maka kalimat selanjutnya diasumsikan sudah disetujuan pendengar. “Sementara adik-adik duduk tenang, kakak segera mulai bercerita. Pada suatu ketika….. dst”
  • Pola kalimat; a. jika…. maka….. dan b. karena…. artinya…. Merupakan 2 pola komunikasi yang paling lazim dipergunakan dalam bercerita. “Jika ia tak segera pergi, maka ia akan mengalami keadaan yang menakutkan.” Atau “Karena ia tak pergi dari situ, artinya ia bakal mengalami keadaan yang menakutkan” kedua pola ini sangat lazim, hampir disemua bentuk interaksi, tetap berdayaguna dalam bercerita.
  1. Berlatih bercerita

Mari kini saatnya kita berlatih bercerita, mari praktekkan mendongeng dari dongengan yang Anda tahu.

  • Siapkan diri, apa tujuan Anda mendongeng?
  • Pesan apa yang hendak Anda sampaikan?
  • Di bagian mana Anda hendak menyampaikan pesan tersebut?
  • Menggunakan teknik apa saja saat menyampaikannya?

Sealain dari Kitab Suci, cerita-cerita sederhana berikut mudah untuk berlatih. Usahakan sisipkan pesan-pesan tersembunyi dalam setiap tuturan. Silakan berlati menggunakan dongengan yang mudah dipahami orang.

  • Kelinci dan kura-kura
  • Bangau dan ikan
  • Kancil dan siput

Penutup

Langkah konkret menanggapi pesan Bapa Suci Paus Fransiskus agar kita semakin banyak menggunkan cerita dalam berkomunikasi, saatnya mulai saja latih satu-demi satu teknik berdcerita di atas, jadikan udah pahami prinsipnya dan jadikan kebiasaan dala bertutur, maka jadikan diri Anda pencerita, penutur pesan perubahan handal.

Selamat berlatih.

Selamat berubah – selamat berbuah.

 

Penulis: Istoto Suharyoto

Trainer, Coach, Terapist, Spesialist Komunikasi, Pesulap dan Pendongeng, Tinggal di Yogyakarta.

 

Inspirasimu: Pesan Paus Fransiskus Untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-54

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close