BERITA
Trending

“Hidup Menjadi Cerita” Series – 1

Pendahuluan

Tahun ini paus mengangkat tema yang tampaknya sederhana, berbicara tentang cerita. Mungkin ada yang bertanya, apakah tidak ada lagi tema yang lebih aktual dan kontekstual untuk direnungkan oleh seluruh kaum beriman pada peringatan Hari Komunikasi Sosial sedunia ini? Akan tetapi, kalau kita sungguh masuk ke dalam diskursus teologi dan filsafat, juga ilmu-ilmu sosial, di era posmodern ini, maka cerita adalah tema besar dan sulit tetapi sangat aktual dan kontekstual.

Paus berbicara tentang cerita, karena paus tahu bahwa Gereja juga berada di tengah taufan dan gelombang pemikiran kontemporer yang digerakkan oleh posmodernisme.  Posmodernisme bukan aliran filsafat melainkan suatu gaya berpikir filsafat yang menolak modernisme. Kaum posmodernis munuduh modernisme gagal mengantar manusia kepada pencerahan (Aufklarung). Klaim modernisme bahwa akalbudi panglima dalam hidup manusia modern, bahwa akalbudi bisa mengantar manusia keluar dari kungkungan alam dengan segala penderitaannya, ternyata gagal. Karena kegagalan itu maka kaum posmodernis mengangkat potensi-potensi lain dari manusia, seperti pengalaman, perasaan dan bahkan hati. Adapun cerita adalah ungkapan pengalaman, perasaan dan hati manusia, yang maknanya sangat konkret dan eksistensial kalau dibandingkan dengan karya-karya akalbudi yang hanya berkutat pada tataran pemikiran abstrak-logis-rasional.

Akan tetapi, dengan mengangkat cerita sebagai tema, paus tidak bermaksud   membicarakan Naratologi (Ilmu Cerita) yang mengajarkan bagaimana menyusun cerita atau membedah sebuah cerita, meski naratologi itu juga dipengaruhi oleh posmodernisme khususnya postrukturalisme; juga paus tidak bermaksud membicarakan filsafat Narativisme, yaitu aliran filsafat sejarah yang mengajarkan bahwa sejarah adalah cerita (History is story), meski aliran ini juga hidup di era kontemporer ini.  Fokus perhatian paus bukan pada naratologi ataupun narativisme melainkan antropologi komunikasi, yaitu bagaimana manusia mengomunikasikan pesan melalui cerita dan hidup manusia itu sendiri adalah cerita. Hidup manusia adalah sebuah cerita dan sejauh sebagai cerita maka hidup itu memberi pesan bagi sesamanya. Jadi, komunikasi manusiawi bisa verbal, yaitu melalui cerita yang ditulis atau didengarkan, tetapi  juga bisa nonverbal, yaitu melalui  cara hidup manusia itu sendiri.

Tiga Faham kunci

Dalam pesan ini paus menggunakan tiga faham kunci, yaitu teks, ingatan, dan cerita. Faham teks (text) pernah dibicarakan oleh posmodernis Perancis, seperti Roland Barthes dan Jacques Derrida; faham ingatan (memory) telah dikemukakan oleh pemikiran kontemporer Jerman, seperti filsafat sejarah Walter Benyamin dan teologi politik dari teolog Katolik, JB. Metz; sedangkan faham cerita (story) dikemukakan oleh naratologi strukturalisme Perancis yang juga memberi pengaruh bagi pengembangan teologi naratif dan eksegese naratif dalam Gereja. Supaya  kita dapat menangkap maksud pesan paus ini, maka kita perlu terlebih dahulu memahami ketiga faham kunci ini.

Teks (text)

Poin pertama dalam pesan paus adalah tentang hubungan antara manusia dan cerita.  Paus memahami cerita, seperti kaum posmodernis, sebagai teks,  dimana teks dipakai tidak lagi dalam pengertian yang biasa melainkan dalam pengertian aslinya, yakni dari kata Latin texere yang berarti menenun. Teks tidak lagi dimengerti sebagai naskah tulisan melainkan jejaring atau rajutan. Dengan faham teks sebagai rajutan,  maka paus dapat berbicara, tidak hanya tentang cerita sebagai cerita, tetapi juga tentang hidup sebagai cerita. Cerita disebut teks karena cerita itu membawa pesan.

Pandangan tentang teks seperti ini dianut posmodernis (postrukturalis) Perancis, Roland Barthes. Arti teks dimengerti Barthes  dalam arti sebenarnya, yakni texere (tenunan atau rajutan), jadi sesuatu yang bersifat jejaring.  Bagi Barthes teks tidak hanya bahasa tulis tetapi juga bahasa lisan, dan juga gambar, bunyi, musik, fotografi, arsitektur, sistem makanan, tata busana, singkatnya, semua manifestasi budaya, disebut teks. Barthes melihat semua jenis produksi budaya sebagai teks dan sejauh sebagai teks maka dapat dibaca maknanya.[3]

Lalu, bagaimana sebuah teks dibaca atau dipahami? Menurut Barthes, teks dimaknai oleh pembacanya sehingga dalam hal ini pembaca memainkan peran penting. Makna teks tidak lagi bergantung pada pembuat teks melainkan pada pembaca teks. Pemaknaan teks tidak lagi sekadar hasil memahami secara tunggal, yaitu sebagai hasil menangkap maksud penulis atau pembuat teks, melainkan bergantung pada pembaca. Barthes, akhirnya,  berbicara tentang “kebebasan pembaca”.[1] Atas dasar itu Barthes memaknai teks tidak lagi sekadar dalam kerangka tekstualitas tetapi juga  kontekstualitas, yaitu makna teks itu seturut kondisi manusia dalam semua aspeknya ketika ia membaca teks itu,  dan bahkan intertekstualitas, yaitu makna teks seturut pengetahuan sang pembaca karena pembaca juga membaca teks-teks lain.

Kemudian tampil Derrida, juga berbicara tentang teks sebagai texere.[2] Derrida lebih radikal lagi, apa saja yang ada adalah teks. Realitas apa saja adalah teks, karena  realitas apa saja tidak pernah berdiri atau berada sendiri melainkan selalu berkaitan dengan realitas lain. Dengan bersandar pada pengertian teks yang demikian, maka menurut Derrida segala apa saja yang ada mempunyai teks atau apa saja yang ada dalam jejaring adalah teks. Dengan arti tenunan atau jejaring seperti inilah maka Derrida berbicara tidak saja tekstualitas melainkan juga kontekstualitas dan intertekstualitas.[3]

Konsekuensi bagi makna jelas, tidak ada makna asli sebagaimana dimaksudkan penulis teks dahulu, karena teks dari penulis itu sudah berada dalam jejaring dengan teks lain (kontekstualitas dan intertekstualitas). Kalau Barthes bicara tentang kebebasan pembaca, maka Derrida bicara tentang tidak ada  teks asli. Pembacaan teks menurut metode dekonstruksi Derrida adalah pembacaan teks bukan untuk menemukan makna tertentu atau maksud asli dari penulis teks, melainkan bagaimana teks itu melahirkan makna bagi pembaca, dan karena pembaca itu tak berhingga jumlahnya maka makna teks juga tak berhingga.[4]

Paus, meski tidak seradikal Derrida dan Barthes, berbicara tentang cerita sebagai teks, sedikitnya bergaya posmodernis: Cerita adalah teks dan teks tidak lagi dipakai dalam arti biasa, yaitu naskah tulisan, melainkan apa saja yang memberi pesan maka itu adalah teks. Karena cerita adalah teks maka konsekuensinya faham cerita meluas.  Cerita yang ditulis adalah teks, karena cerita itu membawa pesan bagi pembaca; tetapi juga cerita yang didengarkan atau dituturkan adalah teks, karena cerita itu mengandung pesan bagi pendengar; dan bahkan hidup manusia itu sendiri adalah teks, karena hidup manusia itu membawa pesan dan nilai bagi yang lain.

Ingatan (memory)

Paus menulis: “Ketika anak-anak Israel yang diperbudak berseru kepada-Nya, Allah mendengar dan mengingat: Allah mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka Kel 2:24-25). Ingatan Allah membawa pembebasan dari penindasan yang datang melalui pelbagai tanda dan keajaiban”. Cara bicara seperti ini mengingatkan kita akan Benjamin yang berbicara tentang hubungan penderitaan masa lalu dan ingatan, dimana ingatan akan penderitaan itulah yang mendatangkan pembebasan; juga mengingatkan kita akan teolog Katolik, JB. Metz, yang juga melanjutkan dan menerapkan filsafat sejarah Benjamin pada teologi politik.

Di tengah kemacetan rasionalitas manusia dan di tengah ketertindasan manusia sebagai subjek pengetahuan, Benjamin mau mengembangkan sebuah epistemologi baru, yakni epistemologi ingatan (Erinnerung). Mengapa ingatan? Karena dalam situasi penindasan yang kejam zaman Nazi membuat manusia tidak dapat mengembangkan pemikirannya. Manusia bahkan tak percaya lagi pada kemampuan akal budi, sebab toh akal budi itu tak mampu kritis menangkal kekejaman yang menimpanya.[8]

Oleh penindasan itu maka kemampuan manusia untuk mengerti dan berpikir memang telah dibungkam dan ditiadakan. Kendati demikian, manusia masih mempunyai kemampuan lain, yakni kemampuan untuk mendengar, mengamati, merasakan, dan mengingat. Sementara itu, orang yang tertindas adalah orang yang tidak mempunyai alternatif di masa depan. Karena realitas penindasan yang tak menjanjikan pembebasan apa-apa, maka mereka   tidak mau tergoda oleh mimpi tentang masa depan. Bagi mereka, masa lampaulah yang menjadi orientasi, dan pengetahuan untuk sampai ke masa lampau itu adalah ingatan. Di sini ingatan menjadi sumber pengetahuan. Akan tetapi, Benjamin merefleksikan ingatan sebagai sumber pengetahuan tidak pertama-tama demi epistemologi melainkan terutama demi teori sejarahnya. Baginya, sejarah itu bukan ilmu tentang masa lampau melainkan ingatan akan masa lampau.[9]

Kemudian Metz membangun teologi politiknya dengan bersandar pada filsafat sejarah Benjamin itu.  Bagi Metz, ingatan itu adalah jembatan yang menghubungkan akal budi dan sejarah. Karena ingatan maka akal budi tak lagi menyibukkan diri dengan teori-teori yang rasional-abstrak melainkan dengan mewujudkan dirinya dalam sejarah, dalam kehidupan konkret manusia. Jadi ingatan adalah konstitutif bagi akal budi yang hendak menjadi praktis dan kritis  bagi sejarah. Penjelmaan akal budi praktis dan kritis itu adalah kebebasan manusia dalam sejarah. Karena ingatan itu bersifat konstitutif bagi akal budi, maka hal itulah yang memungkinkan ingatan itu untuk memahami dan membaca sejarah sebagai sejarah pembebasan dan penyelamatan. [10]

Bagi Metz, ingatan adalah pengertian kunci untuk memahami manusia dalam sejarahnya. Ingatan itu tidak lain adalah memoria passionis (ingatan akan penderitaan). Karena itu, teologi, menurut Metz, harus menghadirkan para penderita dan para korban di dalam pembicaraan tentang masa depan. Teologi seharusnya mengingatkan kita bahwa kemajuan di dalam masyarakat tidak terjadi tanpa korban, bahwa dalam upaya untuk melepaskan diri dari penentuan alam pun manusia sudah melukai diri dan hakekatnya sendiri. Di sini teologi politik Metz mengeritik kecenderungan di dalam teologi yang mengabaikan penderitaan karena terlalu mengabsolutkan dosa. Teologi Kristen terlalu sering berada di bawah ilusi menyelamatkan manusia dari dosa. Karena itu teologi kristen tidak menunjukkan secara tegas kebutuhan untuk membebaskan orang dari penderitaan.[11  ]

enurut Metz, iman Kristen perlu selalu dihayati sebagai memoria itu. Dan Gereja sendiri harus memandang dirinya baik sebagai  saksi bagi ingatan maupun sebagai pewaris yang meneruskan ingatan itu. Tentu dalam hal ini Gereja sudah selalu melakukannya, dan itulah yang terjadi dalam ekaristi.  Perayaan ekaristi adalah bentuk penghayatan yang paling tampak dari memoria itu. Tetapi penghayatan kultis itu tidak cukup. Menurut Metz, Gereja masih perlu ikut mengkultuskan ingatan bagi kehidupan konkret manusia di dalam masyarakat.

ara bicara paus tentang hubungan antara penderitaan kaum Israel dan ingatan Allah  kurang lebih ada kemiripan dengan gaya filsafat sejarah Benjamin dan teologi memoria passionisnya Metz.  Kedua pemikir Jerman itu bicara filsafat ingatan yang membebaskan sedangkan paus bicara tentang teologi ingatan yang membebaskan, yang menyelamatkan. Menarik, karena baik itu filsafat ingatan maupun teologi ingatan, sama-sama bersifat emansipatoris (membebaskan): filsafat ingatan membebaskan penderitaan lahiriah manusia, sedangkan teologi ingatan membebaskan manusia seutuhnya.

Dari kerangka ini, kita, kurang lebih dapat menangkap maksud paus  yakni bahwa sejarah Israel adalah cerita Israel, demikian pula sejarah manusia adalah cerita manusia, haruslah menjadi cerita yang emansipatoris, cerita yang membebaskan manusia dari penderitaan yang dialami bukan yang membelenggu dan menyesatkan.

Cerita (story)

Berdasarkan kedua faham kunci di atas paus masuk ke dalam faham yang paling pokok yakni cerita. Berkat faham teks dan ingatan itu kita baru bisa menangkap makna dan maksud paus dalam pesannya yang  berbicara tentang cerita. Seperti dikatakan diatas bahwa paus tidak membicarakan naratologi melainkan antropologi komunikasi.  Meski demikian, supaya kita dapat menangkap maksudnya maka kita perlu sedikit mengetahui apa itu cerita (story).

Dalam menjelaskan apa itu cerita para naratolog menggunakan beberapa terminologi, seperti: story, narrative, narration, narrating, dan discours. Kata-kata itu secara leksikal artinya kurang lebih sama dalam bahasa Indonesia yakni cerita. Namun bagi naratolog kata-kata itu menduduki posisi masing-masing dalam cerita. Gerard Genette[12], misalnya, menyebutkan tiga kata dengan posisinya masing-masing: pertama, story, itulah isi yang diceritakan atau apa yang diceritakan, dan karena itu disebut sebagai signified (petanda); kedua, narrative, itulah penceritaan atau pengisahan, dan karena itu disebutnya signifier (penanda, pernyataan, wacana, atau teks cerita itu); dan ketiga, narrating, itulah menceritakan sebagai aksi atau tindakan memproduksi cerita. Dari keriga kategori itu yang menjadi pokok kajian Genette adalah kategori kedua, yaitu narrative discourse dan itulah dalam teori cerita yang menyangkut plot, setting, dan character. Sedangkan menurut Seymour Chatman[13], juga seorang naratolog dari aliran strukturalisme, menyebut hanya dua kategori: story, yaitu apa yang diceritakan, konten cerita dan narrative discours, yaitu ekpresi yang menjadi sarana mengomunikasikan isi cerita.

Kita juga perlu ambil contoh dari luar strukturalisme, terutama dari tokoh-tokoh teologi naratif atau eksegese naratif, supaya kita bisa menangkap atau mengerti betul apa itu cerita (story). Mark Allan Powell[14], misalnya, menggunakan tiga kategori: narrative, story, dan discourse. Ia menjelaskan demikian: narrative (cerita atau kisah) memiliki dua aspek yaitu story dan discourse. Story (cerita) mencakup unsur-unsur dalam suatu peristiwa, karakter, setting dan interaksi antara unsur-unsur itu itulah yang kita sebut plot. Sedangkan discourse mengacu pada retorika kisah atau bagaimana sebuah cerita (story) dikisahkan. Masih dalam konteks eksegese naratif, Marguerat dan Bourguin[15] menggunakan lima kategori, seperti: narration, narrative, story, discourse, dan narrative rhetoric: narration adalah tindakan atau proses dalam menghasilkan cerita atau kisah; narrative adalah hasil dari pengisahan itu; story adalah apa yang diceritakan oleh kisah; discourse adalah bagaimana sebuah cerita dikisahkan (jadi pengisahan atau penceritaan); dan narrative discourse adalah keseluruhan mekanisme melalui mana narrator menyampaikan sebuah kisah.[16]

Dari semua penjelasan itu ada satu saja yang sama yakni bahwa story adalah apa yang diceritakan atau apa yang digambarkan, jadi isi atau konten cerita. Adapun Paus Fransiskus dalam pesannya ini, seperti telah saya kemukakan pada awal, tidak bermaksud membicarakan naratologi melainkan antropologi komunikasi. Karena itu, paus hanya berbicara tentang story (cerita). Tentu paus juga tahu bahwa dalam sebuah story terutama story karya sastra ada unsur narrative dan discourse. Namun fokus paus pada pesan, pada komunikasi, karena itu ia hanya berbicara tentang story (cerita), yaitu tentang apa yang diceritakan. Dengan faham cerita seperti ini paus dapat masuk ke dalam sebuah antropologi komunikasi bahwa cerita adalah pesan, jadi cerita adalah sarana komunikasi untuk menyampaikan suatu pesan. Dan bila tekanannya pada sarana penyampaian pesan maka cerita dapat diperluas menjadi tidak hanya cerita sebagai cerita melainkan juga cerita sebagai kejadian, tulisan di koran, karya ilmiah, biografi, autobigrafi, film, drama, dan bahkan hidup manusia itu sendiri adalah cerita.

***

Mei, Injil Hari ini, Bacaan, Suci, bait allah, Firman Tuhan, iman, Injil Katolik, Bacaan Injil Hari ini, Kitab Suci, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, penyejuk iman, Perjanjian Lama, Pewartaan, Sabda Tuhan, Ulasan eksegetis, Ulasan Kitab Suci Harian, Yesus Juruselamat, Pekan Suci, Minggu Paskah, Hari Minggu Paskah VII, Doa Rosario Laudato Si, Rosario, Mei Bulan Rosario, pesan paus, hari komunikasi sedunia, pekan komunikasi nasional, paus fransiskus, bapa suci, refleksi pesan paus fransiskus

 

Dr. Phil. Norbertus Jegalus, MA,

Teolog dan Ahli Pendidikan.

 

 

Inspirasimu: Pesan Paus Untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-54

***

[1] Judul ditulis dengan tanda petik karena judul ini diambil dari judul pesan paus, di sini saya coba membuat ulasan singkat tentang pesan itu.

[2] Dosen filsafat Fakultas Filsafat Unika Widya Mandira, Kupang (Seminari Tinggi St. Mikhael, Kupang); anggota pengurus Komisi Komsos KWI untuk masa bakti kedua. 

[3] Benny H.Hed, Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya. Ferdinand de Saussure, Rolland Barthes, Julia Kristeva, Jacques Derrida, Charles Sanders Peirce, Marcel Danesi&Paul Perron. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Buadaya Universitas Indonesia, 2008, hlm. 63.

[4] Ibid., hlm. 62.

[5] Norbertus Jegalus, Hukum Kata Kerja. Diskursus Filsafat tentang Hukum Progresif. Jakarta: Obor, 2011, hlm. 136.

[6] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX II Perancis. Jakarta: Gramedia, 1996, hlm. 332.

[7] Norbertus Jegalus, Hukum Kata Kerja, Op. Cit., hlm. 153-154.

[8] G. P. Sindhunata, SJ, Memoria Passionis: Walter Benjamin dan Teologi Politik, dalam: Budi Susanto SJ (ed.) Teologi & Praksis Komunitas. Post Modern, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 205-206. Bdk. E. Arens, O. John 7 P. Rotlander, Erinnerung, Befreiung, Solidaritat, Benjamin, Marcus, Habermas und di politische Theologie, Dusseldorf: 1991, hlm. 41 dst.

[9] Ibid., hlm. 47-51.

[10] J. Metz, “Theologie im neuen Pardigma”, dalam: H. Kung/D. Tracy (ed), Das neue Paradigma von Theologie, Zurich: 1986, hlm. 125.

[11] G.P. Sindhunata, SJ, Memeoria Passionis, Op. Cit, hlm. 200.

[12] Gerard Genette, Narrative Discourse: An Essay in Method (trans. Jane E. Levin), New York: Cornell University Press, 1980. Kontribusi terbesar Gennete bagi teori naratologi tertuang dalam karyanya, yang judul asli dalam Bahasa Perancis: Discours du Recit, yang diterbitkan pada tahun 172.

[13] Story and Discours. Narrative Structure in Fiction and Film. Ithaca and London: Cornell University Press, 2010.

[14] Mark Allan Powell, What is Narrative Criticism? Minneapolis: Fortress Press, 1990.

[15] Daniel Marguerat & Yvan Bourguin, How to Read Bible Stories: An Introduction to Narrative Criticism. Lndon: SCM Press, 1999.

[16] Komisi Kitab Suci Kepausan, Penafsiran Alkitab dalam Gereja. Yogyakarta: Kanisius, 2003, hlm. 129.

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close