KATEKESETeladan Kita
Trending

Santo Yohanes Gabriel Perboyre : 11 September

YOHANES Gabriel Perboyre adalah seorang imam dan misionaris perancis dari Konggregasi Vincentian. Ia berkarya di daratan China dan menjadi martir pada tanggal 11 september di kota Ou-Tchang-Fou China.

Awal kehidupan dan Panggilan menjadi Iman

Santo Yohanes Gabriel Perboyre dilahirkan di Le Puech (sekarang di sekitar kota Montgesty), Lot, Perancis, sebagai anak pertama dari delapan bersaudara buah hati  pasangan Pierre Perboyre dan Marie Rigal. Delapan bersaudara ini, kelak tiga orang diantaranya menjadi imam dari Konggregasi Vincentian, dua orang masuk biara suster Puteri Kasih, satu orang suster Karmelit, dan dua orang lainnya menikah dan menjalani panggilan hidup sebagai awam katolik.

Awal panggilan Yohanes Gabriel sebagai seorang imam dan misionaris terjadi secara tidak sengaja. Semula sebagai seorang kakak, ia hanya mengantar adiknya, Louis, ke seminari Montauban pada bulan Desember 1818. Kebetulan rektor seminari yang adalah pamannya sendiri, Yakobus Perboyre CM, meminta agar Yohanes Gabriel tidak pulang, dan menjaga adiknya yang masih kecil di seminari. Begitulah, hidup dalam seminari membuat Yohanes Gabriel akhirnya menemukan “panggilannya” sendiri. Ia tetap tinggal di seminari sampai akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Kelak, adiknya, Louis Perboyre juga menjadi imam dan mendahuluinya berangkat ke tanah misi di Cina namun ia meninggal dalam perjalanan di sekitar laut Jawa.

Sebagai anak pertama, Yohanes Gabriel Perboyre diharapkan ayahnya untuk menggantikannya bekerja di ladang. Dari seminari, ia menulis surat kepada ayahnya demikian :

Aku mulai belajar bahasa Latin. Tetapi aku bersedia berhenti jika ayah menghendaki. Aku mengerti kebutuhan dan rencana ayah. Bagiku tidak sulit belajar. Satu-satunya yang membuatku susah ialah bahwa aku sekarang tidak bisa membantu ayah. Tetapi, jika panggilan Tuhan memang merencanakan aku menjadi imam-Nya, aku tidak bisa menolak panggilan-Nya.”

Singgah di Surabaya

Perjalanan misioner Yohanes Gabriel dari Perancis ke Cina menghabiskan waktu kurang lebih enam bulan. Ia menumpang kapal “Royal Georges” yang singgah di Batavia (Jakarta), kemudian berlabuh di Surabaya selama satu bulan, sebelum melanjutkan perjalanan ke Macao, pintu gerbang ke Cina daratan. Cerita Romo Yohanes Gabriel Perboyre CM tentang Batavia dan Surabaya dapat disimak dalam suratnya kepada pamannya, Yakobus Perboyre CM :

Tanggal 23 Juni [1835] kami memasuki selat Sunda. Apa yang kami rasakan sukar untuk dilukiskan. Di sana kami melihat pulau-pulau dengan pepohonan yang buahnya harum dan manis, serta dapat diraih dengan tangan begitu saja … Sejak 14 Juli kami berada di Surabaya dan tidak akan berangkat sebelum 10 Agustus [1835]. Kami berusaha sabar dan menikmati waktu. Di seluruh Jawa [maksudnya mungkin di Surabaya]hanya ada empat pastor yang semuanya berkebangsaan Belanda. Di kepulauan yang lain tidak ada sama sekali. Tiga minggu kami mampir di Surabaya. Perhentian ini merupakan anugerah liburan bagi kami yang kelelahan karena perjalanan lama. Itu merupakan sebuah liburan yang menyenangkan. Panas terik udara Jawa [Timur] yang membakar terkurangi oleh kesejukan angin yang ditiupkan oleh gunung-gunung yang berdekatan di sana. Sekali atau dua kali seminggu kami pergi ke kota untuk mengorbankan Misa [di Gereja dekat jalan Kepanjen, Surabaya]. Kadang-kadang kami berjalan-jalan di pantai Jawa dan Madura. Tanggal 7 Agustus kami berangkat dari Surabaya menuju Macao untuk ke Cina, yang menjadi dambaan dan idaman hati saya…….

Dari kisah pater Yohanes Gabriel Perboyre, diketahui bahwa tahun 1835 sudah terdapat Gereja Katolik di Surabaya atau Jawa Timur yang terletak di depan lapangan yang disebut “Comedie plein” (lapangan komedi). Gereja tersebut kini sudah tidak ada lagi. Konon terbakar dan dibangun sebagai gantinya Gereja yang kini disebut Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria di Jalan Kepanjen.

Misionaris di Cina

Romo Yohanes Gabriel Perboyre CM tinggal di Macao sampai akhir Februari 1836. Sesudah itu, ia melakukan perjalanan laut maupun darat yang sangat panjang. Romo Yohanes Gabriel menyusuri perjalanan lewat laut sejauh 900 kilometer, sampai ke Fu-kien. Dan dari sana berjalan lagi lewat jalan darat lebih dari 1300 kilometer, lewat Juangxi, sampai ke Hubei dan akhirnya di Honan. Semangat misionaris Vincentian ini memang luar biasa. Perjalanan yang demikian lama dan jauh, dengan pengalaman dan perjumpaan yang melelahkan, kesulitan, peluh keringat, semuanya terasa tidak berarti apa-apa.

Lima bulan pertama berkarya di pedalaman Cina dijalaninya dengan melakukan banyak kunjungan ke komunitas-komunitas Kristiani di sana. Umat Kristiani belum begitu banyak, tetapi menurut laporan jumlahnya kira-kira hanya 1500-an umat, yang tersebar di mana-mana. Untuk mengunjungi umat sejumlah itu, Romo Yohanes Gabriel Perboyre harus melakukan perjalanan lebih dari 1200 kilometer, jarak yang hampir sama jauhnya dengan keliling Perancis, asal negaranya. Setelah misi di Honan, ia dipindah-tugaskan ke Hubei, sebuah daerah pegunungan yang cukup berat medannya. Dalam satu dua suratnya, Romo Yohanes Gabriel Perboyre bercerita bahwa banyak gerejanya sangat kotor, beratap jerami dengan kursi-kursi yang jelek dan kotor.

Menjadi Martir

Penganiayaan dan penangkapan yang dilakukan oleh raja lokal memaksa umat Kristiani bersembunyi. Pada masa itu Yohanes Gabriel terpaksa melayani umat dengan cara menyamar dan sembunyi-sembunyi. Namun ia dikhianati oleh seorang muridnya yang memberitahukan keberadaannya dengan upah 30 ons perak. Pagi itu, sang murid berjalan bagaikan Yudas Iskariot, mengantar para serdadu menangkap Yohanes Gabriel Perboyre.

Sang misionaris kemudian ditahan dan mengalami penyiksaan yang mengerikan. Ia ditelanjangi, dirantai, diseret, disesah, ditusuk dengan besi panas, dicambuki dan akhirnya disalib dengan tubuh terkulai karena lehernya dijerat dengan tali. Martir Kristus ini wafat tercekik di kayu salib pada tanggal 11 September 1840.

Yohanes Gabriel Perboyre CM sebenarnya belum berbuat banyak sebagai misionaris. Kurang lebih lima tahun ia berkarya di China. Konon dua tahun dipergunakannya untuk belajar bahasa Cina. Dua tahun untuk melakukan perjalanan panjang dan melelahkan. Dan, di tahun terakhir, ia menjalani penyiksaan dan penganiyaan yang mengerikan sampai wafatnya. Pada Tahun 1889, ia dibeatifikasi oleh Paus Leo XIII dan di kanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1996.

Sumber: katakombe.org

Inspirasimu: Santo Theodardus : 10 September

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close