ESSAY
Trending

Para Frater Kuliah Daring di Masa Pandemi

MIRIFICA.NET – Pendemi covid 19 telah merebak di seluruh belahan dunia. Proses penularannya yang begitu cepat dan mematikan telah memakan banyak korban jiwa. Wabah covid 19 juga mengacaukan tatanan hidup dari sejumlah aspek kehidupan manusia. Berbagai bidang kehidupan mengalami kemerosotan dan hampir semua negara mengalami krisis ekonomi. Indonesia adalah salah satu negara yang sedang berjuang melawan pandemi covid 19. Protokol kesehatan dan beberapa kebijakan diberlakukan demi mencegah penyebaran covid 19.

Dari aspek pendidikan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, pembelajaran di perguruan tinggi dan semua zona pendidikan masih wajib dilaksanakan secara daring hingga ada kebijakan lebih lanjut (kompas.com, 16/6/2020) Menanggapi instruksi Mendikbud itu, apa atanggapan komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang?

Seminari Tinggi San Giovanni XXIII adalah tempat pembinaan calon imam diosesan atau lebih dikenal dengan sebutan imam projo. Seminari yang terletak di Jalan Bendungan Sigura-gura Barat No. 2 Malang-Jawa Timur ini beranggotakan sekitar 120 frater yang datang dari 12 keuskupun di Indonesia. Para frater ini menempuh pendidikan baik S1 maupun S2 di STFT Widya Sasana Malang.

Dalam menjalani kegiatan sehari-hari, termasuk pembinaan, para frater ditemani oleh tujuh orang pastor (dua imam projo Malang, dua imam dari Serikat Jesus, satu imam dari Congregasi Misi, dua imam projo masing-masing dari Keuskupan Ketapang dan Samarinda).

Kuliah Daring, Pandemi, dirumah aja, Essay, Gerakan Solidaritas, gereja Katolik Indonesia, hasil bumi, Indonesia, Jaga jarak, katekese, katolik, Keuskupan Denpasar, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, STFT Widya Sasana Katolik, Lawan Covid-19, pewartaan, Saling Peduli, stay at home,
Dokpri

Sebelum pandemi covid 19, para frater melakukan berbagai aktivitas, baik di dalam maupun di luar seminari. Bekerja, berolahraga, perayaan Ekaristi, ibadat pagi-sore selalu dilakukan bersama-sama. Namun semua itu seolah berubah total semenjak pandemi. Semua kegiatan yang bersifat bersama-sama dikurangi dan dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Misa dan ibadat yang sebelumnya berpusat di satu kapel, sekarang harus dibagi menjadi tiga tempat. Begitu pula dengan olahraga yang sebelumnya bersama-sama, sekarang dibagi-bagi berdasarkan kelompok unit masing-masing. Dalam melakukan semua kegiatan itu, para frater tetap menjaga protokol kesehatan (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak).

Jatuh-bangun kuliah daring

Semenjak Kuliah Daring, Pandemi, dirumah aja, Essay, Gerakan Solidaritas, gereja Katolik Indonesia, hasil bumi, Indonesia, Jaga jarak, katekese, katolik, Keuskupan Denpasar, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, STFT Widya Sasana Katolik, Lawan Covid-19, pewartaan, Saling Peduli, stay at home, mengeluarkan kebijakan sebagai tanggapan atas intsruksi pemerintah terkait perkuliahan daring, komunitas Seminari Tinggi San Giovanni XXIII perlahan mulai mengikuti intruksi tersebut. Perkuliahan berlangsung dari rumah pembinaan. Para Romo mengajak para frater untuk aktif dan kreatif dalam perkuliahan dan menggunakan sarana komunikasi yang saat itu masih terbatas. Beberapa unit komputer milik seminari dan keuskupan digunakan semaksimal mungkin untuk perkuliahan daring.

Beberapa dosen menggunakan aplikasi seperti edmodo, google classroom, skipe, dan zoom meeting untuk perkuliahan. Maka para frater diajak untuk aktif dan kreatif ketika mengawali perkuliahan daring. Bermodalkan ketekunan, kreativitas, kesabaran dan mengandalkan sarana yang serba pas-pasan, para frater bisa menyelesaikan semua tugas dan ujian yang diberikan dosen. Tidak dapat dipungkiri, beberapa frater mengalami kesulitan ketika menyelesaikan tugas akhir dari dosen. Namun dengan  ketekunan dan kerja keras semua bisa terselesaikan tepat pada waktunya. Singkat cerita awal perkuliahan daring kemarin bisa berjalan dengan baik dan lancar meski ada beberapa kekurangan berkenaan dengan sarana komunikasi.

Untuk kelancaran kuliah daring, di awal tahun ajaran baru ini,  komunitas Seminari Tinggi San Giovanni XXIII meningkatkan dan melengkapi sarana komunikasi. Seminari memasang wifi di beberapa ruangan yang akan digunakan untuk perkuliahan online sesuai tingkat masing-masing. Para Romo juga membolehkan  para frater menggunakan laptop dan handphone pribadi selama masa new normal. Keputusan itu tentunya sudah dibicarakan bersama dan dipertimbangkan secara matang oleh para formator atau pembina. Selain itu, para frater juga dibekali dengan workshop dan rekoleksi terkait penggunaan alat-alat komunikasi tersebut. Dengan demikian perkuliahan daring dapat berjalan dengan baik dan semua tugas dari dosen bisa dikerjakan dan dikumpulkan tepat pada waktunya.

“Bila dibanding antara dulu dan sekarang, saya memilih sekarang. Karena semua frater sudah dibolehkan menggunakan laptop pribadi demi kelancaran perkuliahan daring. Para Frater dipermudah” demikian ungkap Fr. Sirus calon imam Keuskupan Ketapang. “Awal perkuliahan daring dulu, kita masih terpencar-pencar dan menyesuaikan dengan sarana yang ada. Tetapi sekarang kita bisa mengikuti perkuliahan dari kamar atau bergabung bersama teman-teman seangkatan dan tetap memperhatikan protokol kesehatan,” kata Fr. Niko, calon imam Keuskupan Denpasar. Kesehatan tetap menjadi tujuan yang sangat diharapkan oleh semua anggota komunitas Seminari Tinggi itu.

Kuliah Daring, Pandemi, dirumah aja, Essay, Gerakan Solidaritas, gereja Katolik Indonesia, hasil bumi, Indonesia, Jaga jarak, katekese, katolik, Keuskupan Denpasar, Komsos KWI, Konferensi Waligereja Indonesia, STFT Widya Sasana Katolik, Lawan Covid-19, pewartaan, Saling Peduli, stay at home,
Dokpri

Dari ulasan dan pendapat beberapa frater di atas, dapat dikatakan bahwa sistem perkuliahan daring tidak menjadi hambatan bagi para frater untuk memperoleh pengetahuan di tengah pandemi. Semua Frater dengan ketat memperhatikan protokol kesehatan ketika hendak berkuliah daring, baik di kelas maupun di dalam kamar. Dan bersyukur lambat laun semua menjadi kebiasaan yang baik.

Pandemi covid 19 memang mengacaukan seluruh tatanan hidup manusia. Baik bidang ekonomi, kesehatan, sosial budaya, maupun bidang pendidikan. Kondisi terpuruk tersebut bukanlah tugas perorangan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama untuk menciptakan kembali bumi yang aman dan bebas dari covid 19.

Seminari Tinggi San Giovanni XXIII Malang telah memulai sesuatu yang baik dalam upaya pencegahan penyebaran covid 19. Karena menjadi ciri manusia yang utuh dan selalu bersyukur tidak hanya ditunjukkan dengan mengabdi Gereja tetapi juga mencintai bangsa. Perkuliahan daring yang dilaksanakan dengan memperhatikan semua protokol kesehatan, menjadi bentuk kepedulian, kepekaan dan kecintaan para calon pemimpin Gereja terhadap tanah air tercinta.

Penulis: Fr. Firgian Botu, Pr Keuskupan Denpasar – Studi Komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII, Malang

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close