BERITAKOMSOS KWIKWIPEKAN KOMSOS
Trending

Errol Jonathans : Jangan Bermimpi Jadi Reporter Kalau Tak Kompeten

MIRIFICA.NET – Pesan Paus Fransiskus di Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-55 yang bakal jatuh pada 16 Mei mendatang merupakan sindiran sekaligus penyegaran untuk para jurnalis zaman sekarang. Demikian disampaikan Jurnalis Senior yang juga CEO Suara Surabaya, Errol Jonathans dalam webinar yang diselenggarakan oleh Komsos KWI bertajuk “Pesan Paus di Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-55 untuk Pekerja Media”, Kamis (22/4/2021).

Paus, kata Errol dalam pesannya yang berjudul Datang dan Lihatlah mengajak wartawan untuk kembali ke lapangan. “Jurnalis turunlah ke jalan! Habiskan sol sepatu!” begitu Errol merangkum pesan Paus ini. Paus juga menyebut melihat secara langsung merupakan kegiatan yang tidak tergantikan. “Kita perlu melihat sendiri, tinggal bersama orang-orang, mendengarkan kisah mereka,”ujar Errol mengutip pesan Paus.

Cara bertindak ini, menurut Errol, bukan barang baru. Di zaman Errol kuliah sekitar tahun 70-an, cara-cara bertindak inilah yang diajarkan di awal mula belajar mengenai jurnalistik. “Ini materi dasar jurnalistik. Wartawan harus turun, tidak bisa melihat hanya dari jauh, menyiarkan peristiwa dari mendengar orang lain atau kabar bernada konon katanya,” ujar Errol.

Lebih dalam lagi Errol menyatakan, upaya mendapatkan kebenaran, kepastian dan menggali serta menemukan faktalah yang menjadi alasan utama kenapa wartawan wajib ke lapangan. “Kita ke lapangan untuk melakukan proses cek dan ricek, selanjutnya melakukan konfirmasi, verifikasi, dan sangat diwajibkan untuk melakukan investigasi bila butuh kajian mendalam,”ujar Errol.

Paus Fransiskus, Pope Francis, Pesan Paus Fransiskus Pada Hari Komunikasi Sedunia ke-55, Lawan Covid-19, Komsos KWI, Gereja Katolik Indonesia, Katolik, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Komsos KWI, Katekese, Datang dan Lihatlah, Webinar Hari Komunikasi Sosial, Indonesia
Doc: Komsos KWI

Jurnalisme Opini

Berdasar pesan Paus ini, Errol mengajak para wartawan melihat dirinya sendiri atau berefleksi. Katanya, saat ini begitu banyak muncul fenomena yang disebut jurnalisme opini.

“Kecenderungan jurnalis yang enggan ke lapangan memunculkan fenomena jurnalisme opini yaitu jenis jurnalisme yang hanya memuat opini hasil wawancara jurnalis dengan narasumber, tetapi karyanya tidak disertai kekuatan data maupun informasi hasil investigasi di lapangan,”ujar Errol.

Ini banyak sekali ditemui. Wartawan cenderung membuat berita hanya berdasar komentar atau pendapat dari tokoh dan orang-orang tertentu. Dan hanya itu yang ditulis lalu ditayangkan. Inilah yang secara jelas disebutkan Errol menjadi keprihatinan Paus. Ada persoalan besar dalam pemberitaan, kata Errol mengutip Paus, atas digantikannya liputan investigatif yang orisinal dalam surat kabar, siaran televisi, radio, situs web dengan liputan yang hanya berisi narasi tendensius.

“Kalau kita lihat, pemberitaan yang bersifat opini lebih dominan dibanding menemukan atau menyajikan fakta-fakta lapangan ,”ujar Errol.

Tak heran kemudian muncullah media partisan yang dibuat berdasar pesanan yang menyokong kepentingan, dan tidak ada independensi. Errol juga menyebut media-media condong menjadi corong pihak-pihak tertentu.

Hadir pula model-model pemberitaan yang isinya cenderung mengarahkan pembaca atau bersifat framing, judul-judul berita yang cenderung click bait, dan cara-cara kerja yang cenderung mengarah ke plagiarisme.

Errol juga menyorot kecenderungan media yang menjadi pemulung media lain serta munculnya pola kerja newspool. Wartawan, dalam hal ini kata Errol, seakan-akan membuat berita baru meski sebetulnya materi diambil dari media-media lain. Newspool yang disebut sebagai pola kerja, kata Errol, digambarkannya seperti ini. Wartawan-wartawan bertemu di satu titik, membagi tugas untuk wilayah yang berbeda, lalu bertemu lagi untuk berbagi informasi.

“Wartawan tidak lagi perlu mendatangi narasumber dan hanya membuat berita berdasar materi yang diterima dari temannya sendiri. Inilah gambaran dunia pers saat ini dari sisi negatif terutama kalau kita menyadari hakikat jurnalistik yang sesungguhnya ,”ujar Errol menegaskan.

Menilik kembali hakikat jurnalistik yang menurut Bill Kovach dan Tom Rosentiel disebutkan sebagai kewajiban utama untuk menyampaikan kebenaran dan memiliki disiplin dalam verifikasi, menurut Errol, pesan Paus ini menjadi sangat relevan.

“Karena itu, jangan coba bermimpi menjadi reporter, editor, kolumnis dan influencer media online kalau tidak kompeten tentang elemen jurnalisme yang hakiki ,”ujar Errol mengutip pendapat William Safire. Yung Setiadi/ Editor : abd

Paus Fransiskus, Pope Francis, Pesan Paus Fransiskus Pada Hari Komunikasi Sedunia ke-55, Lawan Covid-19, Komsos KWI, Gereja Katolik Indonesia, Katolik, Konferensi Waligereja Indonesia, KWI, Komsos KWI, Katekese, Datang dan Lihatlah, Webinar Hari Komunikasi Sosial, Indonesia
Doc: Komsos KWI

Inspirasimu: Pesan Paus Fransiskus Pada Hari Komunikasi Sedunia ke-55

Tags

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close