BERITA
Trending

Selamat Berbahagia Pak Errol di Surga Bersama Kristus

MIRIFICA.NET – Rasanya baru kemarin ketemu secara daring dengan Pak Errol Jonathans. Lalu kabar mengejutkan itu datang pada Selasa (25/05/2021) siang. Pria bersuara bariton ini meninggal jam 11.06 WIB di RS Husada Utama, Surabaya, Jawa Timur.

Kabar terakhir yang disampaikan grup Whatsapp Badan Pengurus Komsos KWI tertanggal 20 Mei dari Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI Romo Steven Lalu Pr menyebutkan : “Mohon doa teman-teman semua, Mas Errol saat ini sedang dirawat di RS Mata Undaan, karena peradangan di mata kiri. Saat ini yang harus ditangani adalah implantasi glaukoma dan dilanjutkan operasi katarak. Semoga Mas Errol cepat sembuh dan pulih.”

Lalu doa-doa harapan kesembuhan pun mengalir dari anggota Badan Pengurus yang lain dan jawaban ini pun muncul : “Terima kasih untuk doa dan perhatian Romo Steven Lalu, Mas Abdi, Mas Agoeng, Bu Lisa, Prof Eko, Bu Ita, Pak Margana. Khusus Bu Ita terima kasih saran dan catatannya, akan saya perhatikan. Salam sehat untuk semuanya. Saya saat ini masih belum bisa menggunakan indra mata untuk membaca dan mengetik WA, jadi saya minta Nunung ( istri) yang melakukannya.”

Dan WA ini menjadi kalimat terakhir yang saya baca dari Pak Errol. Kaget bercampur sedih melanda seluruh sukma. Bagaimana tidak, kesedihan karena barusan kehilangan seorang teman yang sempat menghilang dan jazadnya ditemukan di Sungai Bengawan Solo belum beranjak sirna, kabar meninggalnya Pak Errol menambah pekat rasa sedih itu. Saya tidak biasa menangis. Namun kali ini saya menangis karena dua teman saya ini.

Ya, Errol Jonathans, pria yang jauh lebih tua dari saya, wartawan senior yang sudah menapaki belantara jurnalistik sejak 1977 sementara saya baru tahun 2001 telah menjadi teman saya dalam pelayanan di Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia sejak 2014.

Perkenalan intens saya dengan pria yang katanya berdarah Manado ini pada momen Pekan Komsos Nasional di Weetebula, Sumba, NTT. Mungkin bukan kebetulan, di suatu malam kami kelaparan dan ingin makan sesuatu yang lain selain daging babi dan makan berlemak. Kami keluar kompleks Rumah Retret tempat menginap di Sumba. Di pinggir jalan ada sebuah tenda yang menjual nasi dan mi goreng. Makanlah kami di situ. Ternyata penjualnya orang Jawa Timur. Kami tertawa karena tidak menyangka orang Jawa ada di wilayah ini. Saya ditraktir dan kami bicara banyak hal termasuk mengenal satu sama lain lebih dekat. Saya rasa peristiwanya tahun 2014.

Dari perbicangan itu dan pergaulan selanjutnya dengannya, saya makin mengenal Pak Errol. Pembawaannya kalem. Tinggi badannya mungkin sebanding dengan saya yang hanya 153 cm, rambut putih, tapi suaranya mantap. Maklum dia mantan penyiar. Di usianya yang sudah tidak lagi muda, dengan posisi sebagai CEO di Grup Suara Surabaya, Pak Errol masih setia mengajari anak-anak muda, para anggota komisi komunikasi sosial di keuskupan-keuskupan seluruh Indonesia, berkeliling melatih public speaking. Para suster, frater, bruder dan romo juga pernah diajarinya. “Supaya mereka bisa berkomunikasi dengan baik di mimbar,”katanya suatu saat.

Pak Errol tidak pelit membagi ilmunya yang saya rasa sudah segudang dalam dunia keradioan. Juga dalam hal bicara di depan banyak orang. Semangat itu juga yang menginspirasi saya agar rela membagi ilmu yang saya dapatkan selama berprofesi menjadi wartawan, yakni bidang tulis-menulis. Kepada orang muda katolik, para suster, romo, atau siapa saja yang mau belajar menulis.

Bagi saya, Pak Errol juga pribadi yang enak untuk diajak bicara. Wawasannya luas tentang suatu hal. Dia selalu aktif dan ingin tahu banyak hal. Biasalah, pembawaan seorang wartawan memang begitu adanya. Namun yang paling mengesan buat saya adalah semangatnya untuk melayani. Tidak pernah ada kata mengeluh keluar dari mulutnya meski situasi yang dihadapinya itu tidak menyenangkan. Tidak pernah pula keluar dari mulutnya kata-kata negatif tentang seseorang meski orang-orang yang dihadapinya itu juga bisa jadi kurang menyenangkan. Soal pelayanan ini, dia sungguh berkomitmen dan rendah hati.

Saya senang bekerjasama dengan beliau. Sudah beberapa kali saya minta tolong untuk menjadi juri dalam sesi lomba debat untuk anak-anak SMU di Pekan Komsos Nasional. Mungkin dua atau tiga kali. Dan gantian Pak Errol minta tolong saya menjadi juri untuk lomba podcast yang ditanganinya, juga dalam perhelatan Pekan Komsos Nasional. Sudah dua kali ini, tahun lalu dan tahun ini.

Saat kabar meninggal itu saya baca di WA, saya menangis. Tangisan saya tidak lama meski terasa dalam. Itu tanda penting, artinya Pak Errol sudah berada dalam kebahagiaan bersama Kristus Yesus junjungannya. Selamat jalan Pak Errol, selamat bergabung dalam Kerajaan Abadi di Surga bersama Kristus, Bunda Maria, para kudus dan para malaikat. Terima kasih atas inspirasi yang sudah Bapak pancarkan. Amin

***

A.M. Errol Jonathans

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 27 April 1958

Pendidikan:

-Akademi Wartawan Surabaya

-Sekolah Tinggi Komunikasi Surabaya

Jabatan:

-Dirut Suara Surabaya Media

-Ketua Standar Profesional Radio Siaran Swasta PRSSNI Jatim

-Majelis Etik Asosiasi Media Siber Indonesia Cabang Jatim

Karier Media:

-Ex Jurnalis Koran Pos Kota Jakarta

-Ex Redaktur Musik Surabaya Post Minggu

-Ex Kolumnis Majalah Gong Yogyakarta

-Ex Pemred Tabloid Efata Paroki St. Yakobus Surabaya

Organisasi Gereja:

-Badan Pengurus Komisi Komsos KWI

-Pengurus Komisi Komsos Keuskupan Surabaya

-Pengurus Komsos Paroki St. Yakobus Surabaya

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

instagram default popup image round
Follow Me
502k 100k 3 month ago
Share
error: Silakan share link berita ini
Close